Saya forwardkan email ini. Abilio Araujo menilik agitasi Australia dan negara lain untuk menancapkan pengaruhnya ke Timtim. Bagi saya, tujuan Australia tidak sesempit itu. Tujuan Australia adalah hegemoni atas Asteng, bukan secuplik Timtim. --------------- >From: Kamil Abu <[EMAIL PROTECTED]> >Reply-To: "Indonesian Development Studies -- >http://web.syr.edu/~suisa/ids/" <[EMAIL PROTECTED]> >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: Solusi Awal Timtim >Date: Fri, 10 Sep 1999 20:54:30 +0100 > >Membagi wilayah (sementara) adalah suatu alternatif. >Provokasi aus dan new zealand malah bikin masalah baru. >solusi rekonsiliasi termasuk dengan pihak ina lebih >dibutuhkan. sampai kapan dan berapa besar pasukan asing >yang dibutuhkan kalau rekonsiliasi tidak pernah tercapai. > >Omongan pribumi timtim di bawah ini adalah pendapat >bijaksana. > >salam, >kamil > >== > Gagasan Membagi Wilayah Timtim Alternatif Terakhir > Lisabon, Antara Gagasan sejumlah tokoh masyarakat Timor Timur untuk membagi wilayahnya menjadi dua, sulit diterima secara fisik maupun psikologis oleh kebudayaan masyarakat setempat namun dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terakhir untuk menghindari konflik berkepanjangan, kata Ketua Partai Nasionalis Timor (PNT) DR Abilio Araujo. "Membagi wilayah Timtim menjadi wilayah pro-integrasi dengan Indonesia dan Timor yang merdeka kurang masuk akal, namun dapat dipertimbangkan untuk menghindari konflik menuju masa transisi," ujar mantan Presiden Fretilin tersebut dalam percakapan dengan Antara di Lisabon, Kamis malam (Jumat pagi WIB). Abilio yang selama ini bermukim di Villa Franca de Xeira (sekitar 30 km utara Lisabon) menilai, gagasan Gubernur dan kalangan Muspida Timtim saat ini untuk membagi dua wilayahnya dapat dikatakan sebagai alternatif mengatasi permasalahan besar di tengah masyarakat Timtim, yaitu konflik fisik membela keyakinan pro-integrasi bersama RI dan pro-kemerdekaan. > Alternatif semacam itu, menurut dia, dapat saja dipertimbangkan asalkan tetap mengutamakan proses rekonsiliasi di antara tokoh masyarakat Timtim di dalam dan luar wilayah tersebut. > "Saya dan sejumlah teman dalam TTWM sebenarnya sejak awal lebih menginginkan penyelesaian konflik Timtim melalui rekonsiliasi dibanding melalukan jajak pendapat yang memicu terbentuknya dua kelompok besar saling berseteru," ujarnya. Gerakan Jalan Ketiga Masyarakat Timor (TTWM/Timorese Third Way Movement) adalah kelompok masyarakat Timtim yang sejak 1994 mengupayakan rekonsiliasi di antara tokoh masyarakat Timtim di dalam dan luar Indonesia. Bahkan, mereka sempat mengadakan Dialog Antar-Tokoh Timtim (AETD) sebanyak empat kali di Autria dalam periode 1995-1998. "Namun, permasalahan yang sekarang harus segera di atasi untuk menyelamatkan Timtim adalah membantu para pengungsi dan segera menghentikan konflik fisik yang menjurus ke perang saudara seperti periode 1974-1975," ujarnya. Oleh karena itu, ia menegaskan, masyarakat internasional jangan hanya mengecam kebijakan Indonesia yang kini berupaya memulihkan keamanan di Timtim menuju masa transisi pasca-hasil akhir jajak pendapat. > "Tekanan politik dan ekonomi terhadap Indonesia bukanlah penyelesaiannya, karena masyarakat Timtim justru memerlukan bantuan langsung maupun melalui Indonesia," katanya. Ancaman Australia Abilio yang lahir di Kabupaten Aileu itu mengemukakan, setelah Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan mengumumkan hasil akhir jajak pendapat, ternyata kian terlihat adanya ancaman sejumlah negara yang sangat menginginkan dominasi perannya di Timtim, terutama Australia. "Belakangan ini sikap Australia semakin jelas ingin mendominasi pengaruhnya di wilayah Timtim, bahkan dengan melakukan ancaman mengirimkan pasukan militer. Hasil jajak pendapat yang menurut Sekjen PBB dimenangkan oleh kelompok pro-kemerdekaan semakin membuka peluang banyak negara semakin memanfaatkan Timtim sebagai 'kartu as' mereka," ujarnya. Khusus Australia, menurut dia, pada saat ini ambisi pemerintahannya terkesan kuat ingin sesegera mungkin mendominasi pengaruhnya di Timtim. "Australia selama ini cenderung masih menempatkan Indonesia sebagai ancaman terbesar, sehingga kebijakan politiknya mengikuti arus kekuatan posisi strategis Indonesia. Sekarang ambisi itu semakin kuat dengan memojokkan Indonesia," katanya. Selain itu, ia menambahkan, ambisi dan ketergesa-gesaan Australia ataupun negara lain untuk menanamkan pengaruhnya di Timtim justru akan menimbulkan permasalahan baru bagi masyarakat daerah setempat. "Ambisi Australia dan sejumlah negara lainnya untuk segera memasuki Timtim adalah bencana baru. Kalau saja masyarakat Timtim lebih membuka wawasannya, maka bagaimanapun juga mereka lebih baik mengutamakan kerjasama timbal-balik dengan Indonesia," demikian Abilio Araujo. > >---------------------- >Kamil Abu >[EMAIL PROTECTED] ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
