Salam,

Berhadapan dengan orang-orang ETAN, tokoh pergerakan Timtim, mahasiswa 
Indonesia pro-kontra isu Timtim dengan segala macam sisi dan warnanya, saya 
tetap "mixed feeling". Ketika kita ngomong "A benar" untuk satu kasus,  saya 
malah dicap "pro anu", padahal saya menghujat A di aspek lain. Begitu juga 
sebaliknya. 

Pun demikian pula  dengan berita yang saya paste di bawah ini. Di satu sisi 
saya setuju dengan Uskup Belo bahwa kekerasan di Timtim harus diakhiri dan 
siapa pun yang terlibat harus diganjar setimpal. Tetapi di sisi lain, saya 
tidak setuju jika Uskup Belo terlalu jauh menerobos soal politik. Bukan 
apa-apa. Bagaimana pun mereka yang pro integrasi, para pengungsi ataupun para 
milisi sekalipun toh tetap umatnya Uskup Belo.

Belum lagi jika kita bicara nasib 207 juta jiwa rakyat Indonesia, yang nota 
bene jumlah umat Katolik nya juga banyak. Apalagi bagi mayoritas rakyat RI 
yang tak terlibat apa-apa dalam kekerasan di Timtim. 
   
Sekarang, setelah Uskup Belo bersikap ala politisi dan aktivis begini, umat 
di atas mau merujuk ke siapa?  Dari sisi kepentingan jangka panjang, saya 
menilai Uskup Belo keliru dan condong akan merugikan mayoritas umat Katolik 
dan rakyat Timtim.  Umat Belo bukan hanya yang pro independen, pro pro 
Australia-- tetapi semua!

Saya tahu pasti Uskup Belo kecewa atas kekerasan Timtim. Saya tahu pasti 
kekerasan memang harus kita akhiri di manapun! Tetapi saya sangat tidak tahu 
mau kemana Uskup Belo membawa umat dan rakyat Timtim?

Soal Pangab Wiranto, ah saya kira kawan-kawan sudah tahu semua lah.


salam,
ramadhan pohan
(penyimak pinggiran)
#######

Belo: Seret Wiranto ke Pengadilan

Minta Pasukan PBB Segera Masuk ke Timtim

London, JP.-

Uskup Dili Mgr Carlos Ximenes Belo kembali menyeru masyarakat internasional 
untuk segera bertindak menyelamatkan Timtim dengan jalan mengirim pasukan 
multinasional ke bekas koloni Portugal itu. Dia juga setuju bila para 
pemimpin milisi dan militer Indonesia diseret ke Mahkamah Kejahatan Perang di 
Den Haag, Belanda.

Belo menyerukan hal itu tadi malam di Bandara Heathrow, London, dalam 
perjalanan menuju Portugal dan Vatikan untuk menemui Paus Johanes Paulus II.

Belo juga mengungkapkan bahwa dirinya termasuk target milisi-milisi di 
Timtim. ��Mereka juga meneror gereja Katolik Roma di Timtim. Karena itu, saya 
perlu menjelaskan persoalan ini kepada Paus sebagai pemimpin tertinggi umat 
Katolik sedunia,�� ujarnya.

Mengomentari seluruh aksi itu, peraih Nobel Perdamaian 1996 ini mengatakan, 
sangat terlambat bila saat ini dunia memikirkan sanksi ekonomi terhadap 
Indonesia. Dalam wawancara khusus dengan BBC, Belo mendukung usul Jose 
Ramos-Horta agar para pemimpin milisi dan pemimpin militer Indonesia saat ini 
diseret ke Mahkamah Kejahatan Perang Den Haag.

��Saya sangat setuju itu. Orang-orang yang seharusnya diseret ke mahkamah itu 
adalah (Panglima TNI) Jenderal TNI Wiranto, Jenderal Damiri (Pangdam 
Udayana), dan seluruh milisi,�� papar Belo.


Lebih lengkap, lihat:
http://www.jawapos.com/11sep/de11i3.htm

Kirim email ke