| hai,
menyambung diskusis yg lalu ttg tims, kebetulan gue sempet disana 2,5 bulan hingga sehari setelah penentuan pendapat, ada beberapa pelajaran yg mungkin bisa buat kita pikirs kalo ngadain 'referendum' di propinsi lain (mudah-mudahan ngga pernah ada lagi):
1. semua pihak gue lihat sudah pasti menghargai hasil yang diingini warga Timur Maubere (istilah ini dipakai untuk membedakan mereka dari Timur Barat). Itu hak mereka untuk 'merdeka' dan kedatangan pasukan keamanan PBB tinggal masalah waktu aja
2. Unamet ternyata masuk ke tims tidak 'value free', Indonesia terlalu percaya dengan 'rezim internasional' yang ternyata punya hidden agenda. Sebagai informasi Pimpinan Unamet Ian Martin (asal Inggris) ternyata pernah menjadi Sekjen 'Amnesty International" dan dia punya darah Porto. David Wimhurst , spokeman Unamet asal Kanada istrinya orang Porto dan dia telah lama giat di NGO yang berhubungan dgn tims dan Ramos Horta. Political Affairs official Unamet di tiaps kabupaten (ada 13 kabupaten) sekitar 75% orang Aussie. Jika ada orang Asia di dalamnya (kec. Jepang) peran mereka kecil aja dalam decision-making process.
3. Ketika gue dan temens lain berintekasi dengan Unamet, ada beberapa fakta yg 'baik':
- Solidaritas ASEAN ternyata bukan isapan jempol. Kita mungkin bersaing di sea games tapi dalam hal politik internasional dan sensivitas budaya kita sangat kuat. Orang malaysia, Thai, Filipina semua 'ngebelain' Indonesia (walau tetap dalam koridor menghargai HAM) dan melihat cara kerja unamet yang didominasi oleh Aussie terlalu 'exaggerating' kasuss intimidasi sebelum jajak pendapat. Bahkan pimpinan kontingen Thai Letkol. Sam sempat ribut dengan James Phlip Brew D.O asal Aussie di kec. Hatolia garas si Aussie memfitnah TNI-polisi disana dengan tuduhan intimidasi.
- artinya misi UN ok-ok aja bila orang Asia lebih banyak diberi peran di dalamnya. Secara pribadi ngga ada masalah dengan bule tapi akan lebih bisa ngargain budaya timur bila ada banyak asia di dalamnya. Salah satu contoh; unamet bule sempet panik ketika melihat orang timor bawa parang dijalanan, padahal dia mau berangkat ke ladang.
4. Tanpa mengurangi makna demokrasi dari jajak pendapat (jp) itu ada keanaehan dalam hasil jp. Yang pro integrasi hasilnya sekitar 91 ribu. Tapi ada keanehan; dari hasil pemilu dua bulan sebelumnya Golkar aja (belum dihitung PDI-P, Krisna, PAN, dll) dapat 145 ribu suara se tims. Taruhlah semua pendatang (yg jumlah pemilihnya sekitar 25 ribu pemilih) semua memilih Golkar jadi ada 120an ribu suara orang tims; belum termasuk parpols yang lain. Jadi, kemana suara pasti yg 20 ribuan, belum lagi milisi aitarak punya anggota 70 ribuan. Bila dimasukkan dengan sanak keluarga dan orangs yg katanya diintimidasi berarti bisa dua kali lipatan, kok 'hanya' 90an ribu yang pro-jakarta ? hasil ini memang mengejutkan semua pihak. Kalo pun kalah mereka menduga hanya dengan margin sangat tipis. Gue pikir ada dua kemungkinan:
a) rakyat disana kagak ngerti betul apa itu jajak pendapat atawa pemilu juni, yg artinya memang di tengah masyarakat yg relatif masih rendah tingkat melek huruf maka 'demokrasi' belum bisa dihitung secara kuantitaf. 'Mobilisasi' masih jadi faktor dominan dalam suatu pemilihan (ini ada pikiran goblok-gobblokan, kalo referendum diadain di Aceh atau Irian sebulan lagi, ada ngga jaminan bahwa mereka akan pilih tetap dgn indonesia ?)
b) rakyatnya emang 'dibodohin', oleh siapa ?
5. Gue ngeliat ada 4 faktor yg mempengaruhi tims menolak indonesia:
a. kelompok usia muda yg notabene paling besar dalam jp, hampir 85% menolak otonomi. Mereka punya icon Kay Rala (raja Hutan) Xanana Gusmao, mereka merasa merdeka adalah trend masa kini dan kalo ngga milih opsi kedua ngga 'moderen' (seperti di jawa yg mana semua anak muda pengen dibilang reformis), secara ide mereka dekat dgn PRD (gue pernah bertemu dengan opinion leader Impettu yg mujis berat PRD), mereka benci TNI padahal ratas mereka lahir pasca aneksasi tahun 75, .
b. opini publik internasional 'memihak' merdeka. Bukan aja mahasiswa yang terpengaruh, bahkan yg tokus pun jadi oportunis. Leandro Isaac ketua CNRT dan wakil Xanana adalah bekas Sekwilda di kab. Kovalima, setelah gagal jadi bupati menjadi anti-indonesia (jadi ini masalah nasionalisme atawa ekonomi?), Mario Vegas Carrascalo dua kali jadi gubernur-2kali jadi Dubes di Rumania-sekali jadi anggtoa DPA tapi bilang ind jelek- saudaranya Manuel menjadi Ketua DPRD pertama dan terlama di tims, dan masih banyak bupatis lain.
mungkin komentar gue agak ngga populer; tapi gue yakin org tims di beri kesempatan yg sama utk menjadi warga kelas satu di Indonesia (jadi gub, dubes, tni, polisi, angg komnas ham, dll). banyak org tims dapat beasiswa sekolah di luar tims. Bila banyak pendatang di sana yg sukses adalah org Cina, Jawa, dan Makasar; tapi apakah ini masalah diskriminasi atawa masalah kegagalan dalam bersaing sec sosial ? Merdeka nantinya tidak akan mematikan bom waktu sosial ini.
c. Gereja secara resmi adalah netral dan uskup Belo dan uskup di Bacau pun netral. Tapi 'dibawah' mereka para katekis dan pastur relatif lebih banyak ingin merdeka. mudahs an orang barat ngga ngeliat masalah ini antara persaingan suatu entitas kecil Katolik vis a vis negara muslim terbesar di dunia. Ada 'usaha' beberapa media massa internasional mendramatisir hal ini.
d. unamet yg relatif ngga netral (ini paling tidak signifikan). Protes bertubi-tubi telah dilayangkan oleh pro-otonomi ; apalagi sudah diingatkan tentang recruited-local staff yang di pilihs untuk keuntungan anti-otonomi. Local staff ini punya peran besar di hari H. Sebagai contoh, di Desa Fatubolu, Kec. Hatolia, Kab. Ermera; jumlah pendaftar sekitar 4.500 orang. Staff Unamet hanya 6 orang dan 2 civpol. TPS ada 8 yang masings dijaga local staff 2 orang. Jadi yg paling bisa pengaruhi masy di depan kotak suara adalah local staff, staff unamet hanya supervisi muter-muter aja. apakah bisa meng'intimidasi' pemilih ?? pikir aja lah . yg terkhir sebelum hari H; pernah ngga denger unamet mengritik Falintil atau CNRT ? padahal kedua pihak samas bunuh orang, samas sadis, samas intimidasi. Sekarang sangat terasa DENDAM milisi ke unamet atawa wartwan (mereka ngga bisa bedain wartawans yg ada)
6. Gue lihat ada usaha simplifikasi permasalahan di tims (dan juga di aceh dan Irian), semua kesalahan se-olahs ditimpakan ke TNI. Betul TNI banyak ngelakuin kesalahan; tapi apakah itu aja faktornya ?? mudahsan kita berpikir lebih jernih; banyak juga org di daerah yg ngeliat TNI positif. kalo mau ngritik bolehs aja tapi jernih. Manipulasi informasi ngga hanya dilakukan pemerintah, ternyata salah satu NGO, yaitu kiper pimpinan Yeni rosa (?) juga memanipulasi info; mereka ngga dapat info langsung ke lapangan tapi mereka kebanyakan ngutip aja dari pihak yg ngga suka otonomi tanpa melakukan klarifikasi lapangan. di tims gue lihat polisi luar biasa bagus (sebelum hari H) unamet pun memuji; ada tetap kebanggaan thdp TNI kita. Implikasinya ke masalah aceh dan irian guer rasa lebih kompleks dari sekedar kesalahan TNI atawa 'kekerasan negara' (jangans memang national building kita belum kuat).
7. Selain masalah HAM ternyata ada masalah hegemoni politik internasional terutama yg dilakukan oleh Australia. hal ini bisa diikuti di korans saat ini. Gue rasa pendapat Gus Dur (mudahs an konsisten dinyatakannya) di kompas 4 hari terakhir ini dapat menjeladskan yang namanya konstelasi politik internasional pasca Perang dingin yg sedang dan masih mencari bentuk
8. Sekali lagi SELAMAT untuk saudara kita warga maubere yang memilih merdeka; memang nasionalisme kita adalah kebebasan untuk merdeka seperti yg termaktub dalam pembukaan UUD 45. namun perbedaan penjajah bule cukup membuat kita jadi dua saudara jauh. Dulu kita punya satu kerajaan imperialis yang sama. Di desa Estado gue ketemu peninggalan Majapahit dulu; kepala desanya kemana-mana bawa keris peninggalan majapahit, ada huruf jawa kuno serta prasastinya yang udah di bawa ke jawa oleh seorang jenderal. Gue rasa walau banyak bajingan di orde baru tapi yang namanya perkembangan kesejahteraan yang signifikan di tims tetap ada.
Banyak orang yg 'ngejek' bahwa kesejahteraan yang diberikan ke tims hanyalah fisik tapi jiwanya mereka kosong. Lagis gue bilang itu hanyalah melakukan simplifikasi masalah.
Secara jernih dan jujur dan sesuai dengan standar PBB dalam 'Human Development Index' tims lebih sejahtera di tangan indonesia dan ini secara kuantitatif adalah prestasi luar biasa bila dibandingkan dengan wilayahs sengketa lainnya di muka bumi. Indikators yang masuk kategori 'sejahtera' menurut PBB yang bisa dipakai:
Pendapatan per kapita: 1976 US$ 40 - 1996 US$ 398
Jumlah SMA: 1976: 3, 1996: 525
Fasilitas kesehatan 1976: 4 , 1996: 525
pendapatan daerah 7% dan 93% subsidi jakarta dan
jumlah orang yang terbunuh sejak tahun 1975: 200 ribu orang
9. buat indonesia; jangan berhenti menciptakan kesejahteraan dan demokratisasi
------------------------------------------------------------------------
250 FREE HOURS on America Online! America's most popular online
service! Try AOL *risk free* for 250 HOURS!
CLICK HERE http://clickhere.egroups.com/click/912
eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/fisip
http://www.egroups.com - Simplifying group communications
--------------------
hai,
menyambung diskusis yg lalu ttg tims, kebetulan
gue sempet disana 2,5 bulan hingga sehari setelah penentuan pendapat, ada
beberapa pelajaran yg mungkin bisa buat kita pikirs kalo ngadain 'referendum' di
propinsi lain (mudah-mudahan ngga pernah ada lagi):
1. semua pihak gue lihat sudah pasti menghargai
hasil yang diingini warga Timur Maubere (istilah ini dipakai untuk membedakan
mereka dari Timur Barat). Itu hak mereka untuk 'merdeka' dan kedatangan pasukan
keamanan PBB tinggal masalah waktu aja
2. Unamet ternyata masuk ke tims tidak 'value
free', Indonesia terlalu percaya dengan 'rezim internasional' yang ternyata
punya hidden agenda. Sebagai informasi Pimpinan Unamet Ian Martin (asal Inggris)
ternyata pernah menjadi Sekjen 'Amnesty International" dan dia punya darah
Porto. David Wimhurst , spokeman Unamet asal Kanada istrinya orang Porto dan dia
telah lama giat di NGO yang berhubungan dgn tims dan Ramos Horta. Political
Affairs official Unamet di tiaps kabupaten (ada 13 kabupaten) sekitar 75% orang
Aussie. Jika ada orang Asia di dalamnya (kec. Jepang) peran mereka kecil aja
dalam decision-making process.
3. Ketika gue dan temens lain berintekasi dengan
Unamet, ada beberapa fakta yg 'baik':
- Solidaritas ASEAN ternyata bukan isapan
jempol. Kita mungkin bersaing di sea games tapi dalam hal politik internasional
dan sensivitas budaya kita sangat kuat. Orang malaysia, Thai, Filipina semua
'ngebelain' Indonesia (walau tetap dalam koridor menghargai HAM) dan melihat
cara kerja unamet yang didominasi oleh Aussie terlalu 'exaggerating' kasuss
intimidasi sebelum jajak pendapat. Bahkan pimpinan kontingen Thai Letkol. Sam
sempat ribut dengan James Phlip Brew D.O asal Aussie di kec. Hatolia garas si
Aussie memfitnah TNI-polisi disana dengan tuduhan intimidasi.
- artinya misi UN ok-ok aja bila orang Asia
lebih banyak diberi peran di dalamnya. Secara pribadi ngga ada masalah dengan
bule tapi akan lebih bisa ngargain budaya timur bila ada banyak asia di
dalamnya. Salah satu contoh; unamet bule sempet panik ketika melihat orang timor
bawa parang dijalanan, padahal dia mau berangkat ke ladang.
4. Tanpa mengurangi makna demokrasi dari jajak
pendapat (jp) itu ada keanaehan dalam hasil jp. Yang pro integrasi hasilnya
sekitar 91 ribu. Tapi ada keanehan; dari hasil pemilu dua bulan sebelumnya
Golkar aja (belum dihitung PDI-P, Krisna, PAN, dll) dapat 145 ribu suara se
tims. Taruhlah semua pendatang (yg jumlah pemilihnya sekitar 25 ribu pemilih)
semua memilih Golkar jadi ada 120an ribu suara orang tims; belum termasuk
parpols yang lain. Jadi, kemana suara pasti yg 20 ribuan, belum lagi milisi
aitarak punya anggota 70 ribuan. Bila dimasukkan dengan sanak keluarga dan
orangs yg katanya diintimidasi berarti bisa dua kali lipatan, kok 'hanya' 90an
ribu yang pro-jakarta ? hasil ini memang mengejutkan semua pihak. Kalo pun kalah
mereka menduga hanya dengan margin sangat tipis. Gue pikir ada dua
kemungkinan:
a) rakyat disana kagak
ngerti betul apa itu jajak pendapat atawa pemilu juni, yg artinya memang di
tengah masyarakat yg relatif masih rendah tingkat melek huruf maka 'demokrasi'
belum bisa dihitung secara kuantitaf. 'Mobilisasi' masih jadi faktor dominan
dalam suatu pemilihan (ini ada pikiran goblok-gobblokan, kalo referendum diadain
di Aceh atau Irian sebulan lagi, ada ngga jaminan bahwa mereka akan pilih tetap
dgn indonesia ?)
b) rakyatnya emang 'dibodohin', oleh siapa ?
5. Gue ngeliat ada 4 faktor yg mempengaruhi tims menolak
indonesia:
a. kelompok usia muda yg notabene paling besar dalam jp,
hampir 85% menolak otonomi. Mereka punya icon Kay Rala (raja Hutan) Xanana
Gusmao, mereka merasa merdeka adalah trend masa kini dan kalo ngga milih opsi
kedua ngga 'moderen' (seperti di jawa yg mana semua anak muda pengen dibilang
reformis), secara ide mereka dekat dgn PRD (gue pernah bertemu dengan opinion
leader Impettu yg mujis berat PRD), mereka benci TNI padahal ratas mereka lahir
pasca aneksasi tahun 75, .
b. opini publik internasional 'memihak' merdeka. Bukan aja
mahasiswa yang terpengaruh, bahkan yg tokus pun jadi oportunis. Leandro Isaac
ketua CNRT dan wakil Xanana adalah bekas Sekwilda di kab. Kovalima, setelah
gagal jadi bupati menjadi anti-indonesia (jadi ini masalah nasionalisme atawa
ekonomi?), Mario Vegas Carrascalo dua kali jadi gubernur-2kali jadi Dubes di
Rumania-sekali jadi anggtoa DPA tapi bilang ind jelek- saudaranya Manuel menjadi
Ketua DPRD pertama dan terlama di tims, dan masih banyak bupatis lain.
mungkin komentar gue agak ngga populer; tapi gue yakin org
tims di beri kesempatan yg sama utk menjadi warga kelas satu di Indonesia (jadi
gub, dubes, tni, polisi, angg komnas ham, dll). banyak org tims dapat beasiswa
sekolah di luar tims. Bila banyak pendatang di sana yg sukses adalah org Cina,
Jawa, dan Makasar; tapi apakah ini masalah diskriminasi atawa masalah kegagalan
dalam bersaing sec sosial ? Merdeka nantinya tidak akan mematikan bom waktu
sosial ini.
c. Gereja secara resmi adalah netral dan uskup Belo dan uskup
di Bacau pun netral. Tapi 'dibawah' mereka para katekis dan pastur relatif lebih
banyak ingin merdeka. mudahs an orang barat ngga ngeliat masalah ini antara
persaingan suatu entitas kecil Katolik vis a vis negara muslim terbesar di
dunia. Ada 'usaha' beberapa media massa internasional mendramatisir hal
ini.
d. unamet yg relatif ngga netral (ini paling tidak
signifikan). Protes bertubi-tubi telah dilayangkan oleh pro-otonomi ; apalagi
sudah diingatkan tentang recruited-local staff yang di pilihs untuk keuntungan
anti-otonomi. Local staff ini punya peran besar di hari H. Sebagai contoh, di
Desa Fatubolu, Kec. Hatolia, Kab. Ermera; jumlah pendaftar sekitar 4.500 orang.
Staff Unamet hanya 6 orang dan 2 civpol. TPS ada 8 yang masings dijaga local
staff 2 orang. Jadi yg paling bisa pengaruhi masy di depan kotak suara adalah
local staff, staff unamet hanya supervisi muter-muter aja. apakah bisa
meng'intimidasi' pemilih ?? pikir aja lah . yg terkhir sebelum hari H; pernah
ngga denger unamet mengritik Falintil atau CNRT ? padahal kedua pihak samas
bunuh orang, samas sadis, samas intimidasi. Sekarang sangat terasa DENDAM milisi
ke unamet atawa wartwan (mereka ngga bisa bedain wartawans yg ada)
6. Gue lihat ada usaha simplifikasi permasalahan di tims (dan
juga di aceh dan Irian), semua kesalahan se-olahs ditimpakan ke TNI. Betul TNI
banyak ngelakuin kesalahan; tapi apakah itu aja faktornya ?? mudahsan kita
berpikir lebih jernih; banyak juga org di daerah yg ngeliat TNI positif. kalo
mau ngritik bolehs aja tapi jernih. Manipulasi informasi ngga hanya dilakukan
pemerintah, ternyata salah satu NGO, yaitu kiper pimpinan Yeni rosa (?) juga
memanipulasi info; mereka ngga dapat info langsung ke lapangan tapi mereka
kebanyakan ngutip aja dari pihak yg ngga suka otonomi tanpa melakukan
klarifikasi lapangan. di tims gue lihat polisi luar biasa bagus (sebelum hari H)
unamet pun memuji; ada tetap kebanggaan thdp TNI kita. Implikasinya ke masalah
aceh dan irian guer rasa lebih kompleks dari sekedar kesalahan TNI atawa
'kekerasan negara' (jangans memang national building kita belum kuat).
7. Selain masalah HAM ternyata ada masalah hegemoni politik
internasional terutama yg dilakukan oleh Australia. hal ini bisa diikuti di
korans saat ini. Gue rasa pendapat Gus Dur (mudahs an konsisten dinyatakannya)
di kompas 4 hari terakhir ini dapat menjeladskan yang namanya konstelasi politik
internasional pasca Perang dingin yg sedang dan masih mencari
bentuk
8. Sekali lagi SELAMAT untuk saudara kita warga maubere yang
memilih merdeka; memang nasionalisme kita adalah kebebasan untuk merdeka seperti
yg termaktub dalam pembukaan UUD 45. namun perbedaan penjajah bule cukup membuat
kita jadi dua saudara jauh. Dulu kita punya satu kerajaan imperialis yang sama.
Di desa Estado gue ketemu peninggalan Majapahit dulu; kepala desanya kemana-mana
bawa keris peninggalan majapahit, ada huruf jawa kuno serta prasastinya yang
udah di bawa ke jawa oleh seorang jenderal. Gue rasa walau banyak bajingan di
orde baru tapi yang namanya perkembangan kesejahteraan yang signifikan di tims
tetap ada.
Banyak orang yg 'ngejek' bahwa kesejahteraan yang diberikan ke
tims hanyalah fisik tapi jiwanya mereka kosong. Lagis gue bilang itu hanyalah
melakukan simplifikasi masalah.
Secara jernih dan jujur dan sesuai dengan standar PBB dalam
'Human Development Index' tims lebih sejahtera di tangan indonesia dan ini
secara kuantitatif adalah prestasi luar biasa bila dibandingkan dengan wilayahs
sengketa lainnya di muka bumi. Indikators yang masuk kategori 'sejahtera'
menurut PBB yang bisa dipakai:
Pendapatan per kapita: 1976 US$ 40
- 1996 US$ 398
Jumlah SMA: 1976: 3, 1996: 525
Fasilitas kesehatan 1976: 4 , 1996:
525
pendapatan daerah 7% dan 93% subsidi jakarta dan
jumlah orang yang terbunuh sejak tahun 1975: 200 ribu
orang
9. buat indonesia; jangan berhenti menciptakan
kesejahteraan dan demokratisasi

Click Here!
eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/fisip
www.egroups.com - Simplifying group communications
|