Premis mayor, premis minor, mungkin anda benar.

Tapi logika yang saya tulis mempunyai arti yang sama dengan logika dari Ibu
MS :

Yaitu :

Menyalahkan TUHAN karena
ketidakmampuan/kegagalan/keputus-asa-an/kefrustasian, dlsb.
Jangan begitu dong. Apabila nanti kalau MS jadi Presiden (kecil sih
kemungkinannya) dihadapi suatu masalah negara yang besar, karena tidak bisa
lagi memecahkan nya akhirnya bicara didepan rakyat :

"Kalau memang Allah tidak menghendaki negara ini adil dan makmur, ya jangan
bikin Indonesia"

Bagaimana ???

Semua kembali ke USAHA, seseorang yang memahami apa itu Takdir, Kehendak dan
Ijin tidak akan pernah berkata seperti itu. Dan kembali lagi saya katakan,
karena telah terucap kata-kata MS seperti itu, maka terbuka lah sebenarnya
kemampuan dari beliau yang sebenarnya. Yaitu (mungkin) : akan gampang
menyalahkan sesuatu nya ke orang/pihak lain, jika sudah mendapatkan masalah.

Kita lihat saja nanti ya, kalau MS sudah jadi Presiden, beranikah bersikap
ksatria, dan berkata YA Inilah salahku, inilah kegagalanku dlsb.

Soe



-----Original Message-----
From: Elias Moning <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, September 21, 1999 10:17 PM
Subject: Presiden perempuan (was: ???)


Menanggapi silogisme Sdr. Suhendri, saya tercenung sejenak... nampaknya
analogi yang ditelurkan oleh Suhendri kelihatannya logis sekali, tapi
nampaknya silogime Suhendri melanggar prinsip-prinsip dasar silogisme dalam
logika.

1. Pertama premis minor tidak boleh lebih besar atau luas dari premis
major.  Pernyataan Suhendri bahwa "Kalau saya tidak berhasil sekolah di
Luar Negeri, ya jangan bikin saya, atau kalau saya tidak berhasil kawin
dengan dia, ya jangan dibikin dia" premis penciptaan mahluk adalah suatu
premis major yang sangat luas, jauh lebih luas dari pada sekedar
keberhasilan study di luar negri atau keberhasilan seseorang untuk
menyunting calon pendamping hidup.  Silogisme yang salah ini sama seperti
kalau anda mengatakan: Oh.. lapangan rumput ini basah, tentu tadi baru saja
hujan... padahal bisa saja lapangan rumputnya baru disiram oleh sprinkler...
logikanya:
lapangan rumput basah --> premis minor
hari hujan --> premis mayor
Silogismenya macet karena premis minor >(lebih luas, lebih besar) dari
premis major

Logika yang benar adalah: "hari hujan, maka lapangan rumputnya basah..."

2.  Kesimpulan tak boleh lebih luas dari premis-premis.
Kesimpulan jangan dibikin saya (suatu raison d'etre, alasan eksistensi atau
keberadaan) ini sangat luas sekali jauh lebih luas daripada sekedar sekolah
ke luar negri... Maka, bisa kita katakan silogisme ini juga macet

Kalau kita lihat pernyataan Megawati SP "''Kalau memang Allah tidak
menghendaki wanita jadi presiden, ya jangan bikin perempuan,''.  Sekilas
pernyataan ini silogisme-nya mirip Sdr. Suhendri, tapi sebetulnya tidak...
Megawati SP bicara tentang kehendak Allah (jadi bukan lagi kehendak manusia
/saya) maka premis majornya memang jauh lebih luas... apakah premis ini
lebih luas dari alasan penciptaan mahluk... barangkali tidak.  Tapi jelas
di sini ada jauh lebih banyak "grey area"

Alasan penciptaan yang diyakini oleh agama-agama besar (Yahudi, kristen,
islam) adalah menciptakan mahluk yang bebas berpikir dan bertindak meskipun
itu melanggar kehendak Allah sendiri :).  Tak ada fatalisme dalam tujuan
penciptaan..

Tentu, diskusan lain bisa berpendapat lain, tapi saya yakin benar bahwa
kesimpulan Suhendri nampaknya terlalu emosionil:

1. Bahwa calon presiden harus lebih pintar dari Sdr. Suhendri ....
2. Megawati SP disimpulkan oleh Suhendri sebagai mempunyai kapasitas lebih
rendah dari dirinya saya rasa ini suatu bual yang tak berdasar.  Kenyataan
bahwa PDI-P di bawah pimpinan Megawati berhasil meraih 39% suaru dalam
pemilu yang lalu saja sudah membuktikan betapa beliau memiliki kapasitas
nan jauh di atas Sdr. Suhendri.  Jadi tak perlu khawatir.

Semoga tayangan ini bisa mengundang kita semua untuk tidak terlalu mudah
menyepelekan orang, apalagi kalau alasan yang sebenarnya itu merupakan
agenda politik anda..

Salam,
Elias Moning,
Center for International Education
University of Massachusetts at Amherst

juga lulusan Sekalah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (1979)

At 09:37 AM 09/21/1999 +0700, Suhendri wrote:
>Tulisan berikut saya ambil dari web republika....
>
>''Kalau memang Allah tidak menghendaki wanita jadi presiden,
>ya jangan bikin
>perempuan,'' kata Megawati
>
>Saya coba analogikan dengan kalimat lain :
>
>Kalau saya tidak berhasil sekolah di Luar Negeri, ya jangan bikin saya,
atau
>kalau saya tidak berhasil kawin dengan dia, ya jangan dibikin dia, dll
>analogi.
>
>Rupanya ibu yang satu ini sangat dangkal sekali pemahaman tentang agamanya
>sendiri.
>(Klarifikasi : agamanya Islam kan ya ?)
>
>Ibu yang satu ini harus belajar tentang Takdir, Kehendak, dan Ijin dari
>Allah Swt. Disini ada faktor yang namanya USAHA, bukan menyalahkan SANG
>PENCIPTA.
>
>Segini aja mutu calon presiden, payah.
>Buat saya pribadi yang namanya pemimpin, at least harus lebih pintar dari
>saya :-(
>Nggak tahu kalau ada orang yang mau dipimpin oleh orang yang lebih rendah
>kepintarannya.
>
>Soe
>
>

Kirim email ke