Apa yang saya kuatirkan terjadi juga. DPR sudah menyetempel RUU PKB menjadi
UU. UU PKB merupakan satu paket dengan RUU KKN yang sadis dan primitif.
Salah satu pasalnya mengatakan militer bisa memberangus pers dan dalam
keadaan darurat militer bersama presiden akan menetapkan keadaan darurat
militer.

Celah-celah inilah yang bisa digunakan militer. Kebanyakan orang yang
terbiasa hidup dalam harmoni akan menyangsikan adanya kekecaubalauan negeri
ini jika dipicu dari dalam negeri. Namun itu sekarang tak berlaku. Kekacauan
bisa dipesan dan diskenario.

Itulah sebabnya saya gemes dan gregetan bila melihat orang Indonesia
misuh-misuhi Indonesia sendiri soal Timtim. Padahal sekarang Timtim sudah
banyak panitianya yang multinasional. Dalam hal ini Indonesia tak salah.
Yang salah adalah pemerintah dan militer yang busuk yang ngelus-ngelus
pemuda Timtim menjadi mesin pembunuh. Di satu sisi sepertinya orang yang
misuh-misuh itu lupa kalau perbuatan Xanana dkk tak kalah sadisnya.
Analoginya waktu terjadi OPK terhadap gali-gali di Yogya awal 80-an banyak
sekali gali yang tewas mengenaskan tanpa sempat ke meja hijau. Yogya
langsung tenang dan aman. Kemudian muncul reaksi tentang HAM terhadap OPK
itu. Memang benar ini adalah pelanggaran HAM. Namun jika ada sigi pendapat
saya yakin sedikitnya 90% masyarakat Yogya menyetujui adanya OPK sekalipun
masyarakat Yogya tergolong terpelajar. Orang yang gembar-gembor soal HAM itu
pasti tak tahu bagaimana kelakuan para gali saat memeras dan membantai
warga.

Sekarang hari-hari menjelang pemerintahan Junta Militer makin nyata. Akankah
kita memang menghendakinya? [Maaf pertanyaan ini hanya untuk yang tinggal di
Indonesia dan peduli akan nasib 200 juta orang]

Wassalam,
Efron


-----Original Message-----
From:   Igg Adiwijaya [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent:   Friday, 24 September, 1999 8:04 AM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        Re: Lucu

Kalo menurut saya mahasiswa yang demo di Jakarta nggak perlu tahu pasti
apa isi nya secara mendetail.
Buat apa?
Mereka tahu kok intinya UU PKB itu apa dan secara general mereka
saya yakin tahu apa effect dari UU PKB tersebut. Mereka
saya yakin pernah baca berita dari koran + majalah dll dimana
UU nggak pernah di siarkan "literary" (ngabisin kertas), tapi
di terjemahkan dan di jelaskan dampaknya.
Jadi ya ... tau intinya + makna nya lebih penting.

Untuk kita-kita atau anda-anda yang belajar di luar negri,
yang kadang-kadang "self-claimed" punya pendidikan lebih tinggi dari yang
di Indo,
belum tentu tahu secara mendetail bagian+butir-butir PKB.
Buat apa yang di Indo musti hapal. Orang mahasiswa di Indo, makan aja
susah.

Itu wartawan juga sempat untung mewancarai orang yang nggak "hapal"
butir-butir UU PKB. Bayangin kalo dia wawancarai Mahasiswa yang
kebetulan "hapal". Nah .. dia mau apa. Dia sendiri kemungkinan
besar nggak "hapal".

Care dikit lah. Udah untung nggak ikutan demo + nggak sempet
dipukulin polisi, jadi sekolah bisa jalan terus.

igg


On Thu, 23 Sep 1999, Faransyah Jaya wrote:

> He he he hee..
> Sedih memang melihatnya.. :(
>
> Faran
> --
>
> On Fri, 24 Sep 1999 07:30:03   Suhendri wrote:
> >Ada yang lihat wawancara Islamiyati reporter RCTI dengan salah satu
pimpinan
> >demo mahasiswa ?
> >
> >Sang reporter menanyakan kepada mahasiswa tersebut bagian mana dari UU
PKB
> >yang dia tidak setuju.
> >Dijawab oleh mahasiswa tersebut bahwa banyak bagian di PKB yang tidak
> >disetujuinya. Kembali sang reporter menanyakan bagian mana. Terlihat
> >kepanikan dan kegugupan dari sang mahasiswa karena tidak tahu bagaimana
> >menjawabnya. Akhirnya sang reporter menanyakan ... " Anda baca nggak sich
> >RUU PKB itu ? ".
> >
> >Very funny :-) sebuah potret mahasiswa Indonesia
> >
> >Diktat dan buku kuliahnya pun mungkin tidak dibaca, apalagi RUU PKB yang
> >sedemikian tebal dan njelimet penjelasannya.
> >
> >Pokoknya demo, begitu kali ya kata para mahasiswa, nanti baca belakangan
> >kalo udah deket ujian.
> >
> >Soe
> >
>
>
> DC Email!
> free email for the community - http://www.DCemail.com
>

Kirim email ke