Selamat pagi Amerika! Munculnya korban-korban penembakan dengan peluru tajam oleh oknum tentara dan polisi sungguh menyedihkan. Terjadinya adu maki-makian di antara para demontsran dengan aparat keamanan menunjukkan bahwa kadar profesionalisme polisi dan tentara masih sangat rendah. Dengan rendahnya kadar profesionalisme tersebut, emosi masih selalu muncul dalam melakukan tindak pengamanan. Kita akan selalu tahu bila ada pihak dengan senjata di tangan dan tidak mampu mengontrol emosi akan menghasilkan korban. Baik korban luka-luka maupun korban jiwa. Rasanya tak pantas kalau unit yang sama akan dikerahkan lagi untuk mematahkan demonstrasi. Di lain pihak kengototan DPR (yg sudah lengser?) sangat mengherankan. RUU yang sangat kontroversial mengapa mesti buru-buru disahkan? Apakah mengejar target? Apakah ditekan pemerintah dan/atau pihak militer? Setiap perjuangan akan selalu memakan korban. Semoga korban Sun Yap (mahasiswa UI) yg terbunuh akan merupakan korban dan martir terakhir. Unit-unit terkait perlu ditelusuri dan dijebloskan ke dalam mahkamah militer. Pemeti-es-an kasus ini akan menjadi bukti bahwa militer masih terlalu pongah untuk mengadili prajuritnya. Mungkin pendapat saya yg menentang adanya mahkamah internasional untuk Timtimpun dapat berubah. Sebagai mana sering tertulis di dalam posting yg saya kirim, saya sendiri sangat menginginkan bahwa Indonesia menambah jumlah tentara dan polisi demi mencapai proporsi tentara/penduduk yang lebih baik. Namun ketidakprofesionalan TNI dan Polri membuktikan bahwa pencapaian tujuan militer yang kuat (a.l. untuk menghadapi calon deputy polisi dunia kesiangan Aussie) dan sekaligus aparat yang mengayomi rakyat hanya dapat dicapai dengan kembalinya militer ke barak. Serahkan setiap keputusan politik kepada kalangan sipil. Hapuskan dwi fungsi ABRI / TNI, dan jadilah tentara profesional. Bukan tentara unyil yg sibuk mengandalkan jumlah, dan hanya berani kepada yg lebih lemah. Yang saya prihatin, secara pribadi pernah melayangkan email kepada tokoh yg banyak melakukan kritik kepada pemerintah dan tulisannya banyak dimuat di koran-koran. Setelah email dibalas sekali dengan berbagai macam blah-blah-blah yg hampir sama muncul di koran, saya layangkan lagi balasan dengan isi mengapa terlalu banyak yada-yada, kenapa tidak pernah komplain masalah dwi fungsi yg jadi biang kerok? Hasil dari email saya mudah ditebak. Tokoh tersebut tidak membalas email lagi, dan sibuk meneruskan blah-blah-blah di koran nasional. Tokoh seperti ini hanyalah satu dari hampir semua tokoh di Indonesia yg mencari aman untuk tidak berhadapan dengan kepentingan TNI di bidang politik dan ketatanegaraan. Rasanya langkah reformasi masih jauh kawan....;) Semoga Indonesia mampu melewati berbagai krisis dan muncul memjadi kekuatan yg berwibawa di kawasan kita sendiri, dan membuat seluruh warga bangga sebagai anak negeri. +anjas ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
