Dibawah ini adalah berita dari Republika 2 Oktober 1999.

Pungkas B. Ali
KBSI  menyalurkan kepedulian anda pada pendidikan
 
 

Ribuan Siswa SD di Cirebon DO karena Krismon

CIREBON -- Program wajib belajar (wajar) sembilan tahun di    Kabupaten Cirebon, Jabar bakal terancam gagal. Sebab, sejak   krisis moneter melanda daerah ini hingga sekarang, tercatat   sudah 4.600 siswa--dari 220.000 siswa SD--yang terpaksa   drop out (DO) dari bangku sekolah dasarnya. ''Ini sangat   memprihatinkan,'' kata Bupati Cirebon H Sutisna.

Ada dua alasan penyebab anak-anak ini meninggalkan bangku sekolah dasarnya. Alasan itu, kata Kepala Dinas P dan K  Kabupaten Cirebon Drs H Nur Riyaman kepada wartawan di  Cirebon beberapa waktu lalu, karena faktor ekonomi orang tua   yang sudah tidak lagi mampu membiayai anaknya untuk tetap   melanjutkan sekolah.

Dan kedua, katanya, karena anak-anak didik yang seharusnya    masih berada di bangku sekolah itu 'dipaksa' ikut menanggung   beban orang tua dengan cara ikut andil bekerja. ''Kami sudah    memberikan berbagai upaya pengarahan kepada para orang tua,  tapi ternyata tidak banyak membantu,'' kata Nur Riyaman.

Upaya itu pun, ucap dia, tidak hanya sekadar pengarahan, tapi    termasuk menyediakan kelas pembangunan (KP) dan kelas    pembangunan masyarakat (KPM) agar mereka tetap bisa   melanjutkan belajarnya. ''Tapi upaya ini pun belum optimal,''    ujarnya.

Sementara Bupati Cirebon H Sutisna mengatakan, dalam    mengatasi permasalahan pendidikan di daerahnya, pihaknya   akan meminta kepedulian dari kalangan pengusaha Cirebon yang  berada di manapun, untuk membantu memberikan sumbangan   bagi kelancaran program pendidikan wajar sembilan tahun.

Sebab, kata dia bantuan dari pemerintah maupun GNOTA yang   ada selama ini tidak banyak membantu. ''Bila dibandingkan    dengan jumlah siswa yang ada, maka dana bantuan itu masih    jauh dari mencukupi,'' tegas Sutisna.

 Karenanya, tutur Sutisna, pihaknya akan menggali dana dari  potensi yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon bagi kelancaran   dan keberhasilan program tersebut. ''Bila kenyataan ini terus     berlanjut, maka tak mustahil program wajar sembilan tahun di  Cirebon akan mengalami kegagalan,'' tegas Sutisna.

Artinya, lanjut dia, pada masa-masa mendatang akan lebih   banyak lagi siswa sekolah dasar yang terpaksa akan  meninggalkan bangku sekolahnya, karena mereka harus   membantu orang tuanya mencari nafkah.

Di sisi lain, Kepada Dinas P dan K pun menjelaskan tentang  kondisi sarana dan prasarana pendidikan di Kabupoaten  Cirebon yang masih juga banyak mengalami kekurangan. Saat    ini menurutnya, di Kabupaten Cirebon masih terdapat  kekurangan sebanyak 3.429 orang tenaga pengajar. ''Kami baru  memiliki 6.496 guru. Jumlah ini jauh dari mencukupi bila     dibandingkan dengan jumlah siswa yang ada,'' katanya.

 Di samping itu, ungkap dia, Kabupaten Cirebon pun masih  kekurangan sarana pendidikan sebanyak 1.600 unit ruangan  belajar dan puluhan ribu mebeler. ''Permasalahan ini yang setiap  tahun kami hadapi dan belum ada pemecahan yang tuntas,'' ujar  Nur Riyaman.
 

--
"Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung"
 

Kirim email ke