Pungkas B. Ali
KBSI menyalurkan kepedulian
anda pada pendidikan
Ribuan Siswa SD di Cirebon DO karena Krismon
CIREBON -- Program wajib belajar (wajar) sembilan tahun di Kabupaten Cirebon, Jabar bakal terancam gagal. Sebab, sejak krisis moneter melanda daerah ini hingga sekarang, tercatat sudah 4.600 siswa--dari 220.000 siswa SD--yang terpaksa drop out (DO) dari bangku sekolah dasarnya. ''Ini sangat memprihatinkan,'' kata Bupati Cirebon H Sutisna.
Ada dua alasan penyebab anak-anak ini meninggalkan bangku sekolah dasarnya. Alasan itu, kata Kepala Dinas P dan K Kabupaten Cirebon Drs H Nur Riyaman kepada wartawan di Cirebon beberapa waktu lalu, karena faktor ekonomi orang tua yang sudah tidak lagi mampu membiayai anaknya untuk tetap melanjutkan sekolah.
Dan kedua, katanya, karena anak-anak didik yang seharusnya masih berada di bangku sekolah itu 'dipaksa' ikut menanggung beban orang tua dengan cara ikut andil bekerja. ''Kami sudah memberikan berbagai upaya pengarahan kepada para orang tua, tapi ternyata tidak banyak membantu,'' kata Nur Riyaman.
Upaya itu pun, ucap dia, tidak hanya sekadar pengarahan, tapi termasuk menyediakan kelas pembangunan (KP) dan kelas pembangunan masyarakat (KPM) agar mereka tetap bisa melanjutkan belajarnya. ''Tapi upaya ini pun belum optimal,'' ujarnya.
Sementara Bupati Cirebon H Sutisna mengatakan, dalam mengatasi permasalahan pendidikan di daerahnya, pihaknya akan meminta kepedulian dari kalangan pengusaha Cirebon yang berada di manapun, untuk membantu memberikan sumbangan bagi kelancaran program pendidikan wajar sembilan tahun.
Sebab, kata dia bantuan dari pemerintah maupun GNOTA yang ada selama ini tidak banyak membantu. ''Bila dibandingkan dengan jumlah siswa yang ada, maka dana bantuan itu masih jauh dari mencukupi,'' tegas Sutisna.
Karenanya, tutur Sutisna, pihaknya akan menggali dana dari potensi yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon bagi kelancaran dan keberhasilan program tersebut. ''Bila kenyataan ini terus berlanjut, maka tak mustahil program wajar sembilan tahun di Cirebon akan mengalami kegagalan,'' tegas Sutisna.
Artinya, lanjut dia, pada masa-masa mendatang akan lebih banyak lagi siswa sekolah dasar yang terpaksa akan meninggalkan bangku sekolahnya, karena mereka harus membantu orang tuanya mencari nafkah.
Di sisi lain, Kepada Dinas P dan K pun menjelaskan tentang kondisi sarana dan prasarana pendidikan di Kabupoaten Cirebon yang masih juga banyak mengalami kekurangan. Saat ini menurutnya, di Kabupaten Cirebon masih terdapat kekurangan sebanyak 3.429 orang tenaga pengajar. ''Kami baru memiliki 6.496 guru. Jumlah ini jauh dari mencukupi bila dibandingkan dengan jumlah siswa yang ada,'' katanya.
Di samping itu, ungkap dia, Kabupaten Cirebon pun masih
kekurangan sarana pendidikan sebanyak 1.600 unit ruangan belajar
dan puluhan ribu mebeler. ''Permasalahan ini yang setiap tahun kami
hadapi dan belum ada pemecahan yang tuntas,'' ujar Nur Riyaman.
--
"Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung"
