Koran pagi .... koran pagi ....
Good Pagi Selamat Morning.
"Baca koran" sambil minum kopi sebelum berangkat.
Soe
============================================================================
=
Dalam Melobi, PDI-P Singkirkan Para Senior Partai
JAKARTA -- Mengapa kubu PDI Perjuangan selalu mengalami kekalahan dalam
pengumpulan suara melalui voting di MPR dua hari lalu? Menurut seorang
fungsionaris DPP PDI-P, hal itu tak lepas akibat para senior partai
disingkirkan atau tidak dimainkan secara maksimal dalam lobi politik. Selain
itu, menurut dia, partai ini dinilainya terlalu percaya diri.
Dalam SU MPR kali ini, kubu PDI Perjuangan mengalami kekalahan dalam
sejumlah voting pada Rapat Paripurna II MPR yang berlangsung hingga Ahad
dinihari (3/10) serta gagal dalam 'menggolkan' Ketua Umum PKB Matori Abdul
Djalil dalam pemilihan Ketua MPR pada malam harinya. Pada pemilihan ketua
MPR, PDI-P mencalonkan Kwik Kian Gie yang hanya memperoleh lima suara.
Lobi-lobi politik yang dilakukan oleh kubu PDI-P, kata fungsionaris yang
enggan disebut namanya ini, terlalu bertumpu pada kaum muda partai pimpinan
Megawati ini. ''Padahal, yang muda belum matang dalam politik,'' katanya di
Jakarta, kemarin.
Selain itu, tambah sumber tadi, adanya kelompok pendatang baru yang kemudian
menjadi elite di parpol berlogo banteng gemuk ini memperkeruh suasana.
''Semua kelompok tersebut berjalan sendiri tanpa koordinasi yang jelas,''
ungkapnya.
Tokoh PDI-P lainnya yang tak masuk dalam jajaran pengurus DPP tak membantah
sinyalemen yang dikatakan oleh rekannya tadi. Namun, ia menolak bicara
panjang lebar mengenai hal tersebut, karena kini partainya berkonsentrasi
untuk memantapkan langkah berikutnya.
Ketua DPP PDI-P, Soetardjo Soerjogoeritno, yang dikonfirmasi mengenai hal
tersebut mengatakan bahwa setelah kekalahan itu akhirnya PDI-P sadar partai
yang tergabung dalam Poros Tengah ternyata memiliki pressure group yang
kuat.
''Sebelumnya Poros Tengah tidak diperhitungkan secara masak,'' kata
Soetardjo, seusai pelantikan pimpinan MPR.
Dia menambahkan saat ini kebenaran politik seperti fatamorgana. ''Didatangi
jauh, didiamkan ya diam,'' katanya.
Menurut Soetardjo, kekalahan PDI-P dalam voting dan pemilihan ketua MPR akan
dijadikan pelajaran mahal bagi partainya. ''Kita sekarang akan
memperhitungkan Poros Tengah,'' tegasnya.
Dalam kaitannya dengan pencalonan Megawati sebagai presiden, kata Soetardjo,
PDI-P akan melakukan pendekatan dan lobi. ''Lobi tersebut tak sebatas pada
parpol yang ada, TNI juga akan dilobi,'' tukas Soetardjo.
Dia mengakui saat ini banyak anggota DPR dari PDI-P yang kecewa terhadap
kekalahan beruntun tersebut. ''Umumnya yang terlalu optimis karena PDI-P
menang pemilu akan gilang-gemilang dalam SU. Kenyataannya tidak,'' paparnya.
Apakah cukup waktu bagi PDI-P untuk menggalang lobi tersebut? ''Ini memang
perlu keseriusan,'' tegas Soetardjo.
Sementara itu, Sekjen DPP PDI-P, Alex Litaay, mengatakan bahwa kekalahan
partainya dalam pengambilan suara untuk menentukan Ketua MPR periode
1999-2004 bukan akibat fraksinya gagal melakukan lobi, melainkan karena
perbedaan interest setiap anggota MPR.
''Tidak benar PDI-P gagal melakukan lobi, kalau dalam voting-nya PDI-P
selalu kalah, itu tergantung apa interest-nya dulu,'' kata Alex.
Alex mengatakan bahwa apabila hasil lobi yang dilakukan oleh pihaknya tidak
tampak, adalah akibat perbedaan sudut pandang mengenai arti lobi itu
sendiri.
Dalam penentuan Ketua MPR, Ahad malam, katanya, Fraksi PDI-P, yang kurang
memperoleh dukungan, akan menagih kembali kesepakatan sebagai hasil lobi
dengan beberapa pihak.
Namun, kata Alex, apabila mereka ke luar dari komitmen tersebut, adalah
kehendak dan hak mereka masing-masing. Ia mengatakan pula bahwa pihaknya
masih terbuka untuk melakukan power sharing.
Kalangan pengamat politik dan politisi menilai terpilihnya tokoh Poros
Tengah HM Amien Rais sebagai Ketua MPR RI tidak saja menunjukkan bahwa
gejala semakin solidnya kerja sama politik antara Poros Tengah dan Golkar di
satu sisi, namun di sisi lain justru semakin sulitnya posisi lobi PDI-P dan
PKB.
''Saya kira dengan terpilihnya Amien Rais sebagai hasil kerja sama politik
antara Poros Tengah dengan Golkar, cukup menjadi tanda bahwa koalisi PDI-P
dan PKB sulit untuk mengembangkan lobinya hingga pemilihan capres nanti,''
kata Rektor Unmuh Malang, Prof Dr H A Malik Fadjar, kepada Republika
kemarin.
Sulitnya mengembangkan lobi untuk memperbanyak dukungan memuluskan
pencapresan Megawati, kata Malik, adalah konsekuensi pendekatan politik yang
diambil oleh PDI-P dan PKB sendiri yang selama ini cenderung eksklusif dan
terlalu percaya diri.
Sedangkan pengamat politik, Indria Samego, melihat terjadinya empat kali
kekalahan PDI-P dan PKB dalam pengambilan voting menunjukkan bahwa konsep
dan gagasan dari dua partai tersebut tidak cukup menjual. ''Konsep-konsep
politik yang disampaikan mudah terpatahkan dan cenderung konservatif
sehingga sulit diterima floor.''
''Di sisi lain, ini sebagai buah hasil dari sikap Megawati sendiri yang
selama ini kurang proaktif untuk menjalin kerja sama dengan partai lain,
karena PDI-P sudah merasa puas dengan kemenangannya,'' kata Indria.
Politik, kata Indria, adalah sebuah proses tawar-menawar. ''Megawati harus
melakukan lobi dan percaya diri yang berlebihan harus diturunkan,'' kata
Indria.
Pengamat politik lainnya, Prof Dr Imam Suprayogo menilai kesulitan PDI-P
untuk mengembangkan lobi politiknya merupakan konsekuensi dari sikap politik
partai tersebut yang cenderung arogan dan merendahkan partai lainnya, bahkan
terhadap keberadaan Poros Tengah.
''Elite politik PDI-P selama ini terlihat mabuk kemenangan dan cenderung
bertindak pongah dan angkuh, bagaimana dia bisa mengajak orang kalau dia
merasa tidak membutuhkan orang, logikanya kan begitu,'' papar Imam yang
ketua Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) Malang ini.
Senada dengan dua pengamat tadi, staf ahli LP3ES, Rustam Ibrahim, mengatakan
kekalahan beruntun yang dialami oleh PDI-P dalam empat kali voting di SU MPR
adalah merupakan imbas dari gaya politiknya yang cenderung diam dan tak
acuh.
Menurut Rustam, apa yang telah terjadi dalam empat kali voting di mana PDI-P
kalah, merupakan bukti bagaimana Megawati saat ini tengah memetik hasil dari
sikap politiknya yang selama ini diam dan menunggu pihak lain langsung akan
memilih dia.
Sementara itu, Adnan Buyung Nasution menilai kemenangan Amien Rais dalam
perebutan kursi ketua MPR membuktikan Poros Tengah berperan sangat
signifikan. ''Poros Tengah sangat bagus karena dapat memberikan calon
alternatif,'' kata Buyung.
Selanjutnya, kata Buyung, semua parpol di MPR harus berpegang teguh pada
aturan main yang disepakati, artinya harus fair play. ''Ketika kalah jangan
lalu mengatakan ada money politics. Cobalah lebih dikembangkan politik yang
lebih berbudaya,'' harapnya.
Megawati sendiri mengatakan Sidang Umum MPR merupakan tarikan napas dari
pemilu, sehingga jika tidak mencerminkan kedaulatan rakyat, akan
mengakibatkan distorsi.
''Sejak awal, dikatakan bahwa SU MPR juga merupakan tarikan napas dari
pemilihan umum, jadi sekiranya SU tidak mencerminkan hasil pemilu, dengan
segala sesuatu yang dilakukan rakyat sebagai hak kedaulatannya, akan membawa
distorsi,'' kata Megawati.
Namun, Mega tidak memaparkan lebih lanjut mengenai apa yang ia maksud dengan
distorsi. Beberapa pengawalnya menghalau puluhan wartawan yang mengajukan
pertanyaan kepada putri presiden pertama RI itu.