Sementara itu, Radio BBC yang berpusat di London melaporkan
pentolan Dewan Perlawanan Rakyat Timtim (CNRT) Xanana Gusmao
telah menyatakan menolak putusan Panglima Interfet Mayjen Peter
Cosgrove untuk melucuti senjata semua anggota milisi. ''Falintil
tidak akan setuju dilucuti senjatanya,'' ujar Xanana seperti
dikutip BBC, kemarin. Xanana menambahkan Falintil tidak bersedia
dilucuti senjatanya lantaran akan disiapkan membantu menjaga
perdamaian dan keamanan di Timtim.
Pernyataan Xanana, yang pernah mendekam di LP Cipinang
(Jakarta) selama enam tahun atas tindakan kriminal itu, agaknya
merupakan sikap keras Falintil dan CNRT menghadapi keinginan
Interfet yang mencoba bersikap adil melucuti semua senjata
kalangan milisi prointegrasi/otonomi maupun prokemerdekaan.
Bahkan, Xanana mencoba berkilah bahwa selama ini Falintil
adalah kekuatan angkatan bersenjata untuk memperjuangkan
kemerdekaan. ''Kami bukan bandit,'' tambahnya.
Perkembangan lain soal Timtim, Tentara Nasional Indonesia
(TNI) kemarin menyatakan akan memberikan peringatan jika pasukan
multinasional (Interfet) melanggar perbatasan dan masuk ke
wilayah NTT, dengan dalih apa pun. ''Kita negara berdaulat,''
kata Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Adam R Damiri pada wartawan
seusai upacara peringatan ke-54 hari TNI di Lapangan Puputan
Badung, Denpasar, kemarin.
Mengenai ancaman penetrasi pasukan Interfet pimpinan
Australia tersebut, pihak RI mendapat dukungan tegas dari Cina.
Secara lugas, Beijing memperingatkan Australia agar jangan
memperluas operasi militer atas nama PBB dengan menerobos
wilayah RI. Menurut Beijing, tindakan itu melampaui mandat PBB,
dan berisiko konfrontasi dengan Indonesia.
''Dengan cara menegaskan hak pengejaran memasuki Indonesia,
Australia akan bertindak terlalu jauh,'' ungkap tajuk rencana di
harian China Daily, kemarin, seperti dilaporkan kantor
berita AFP.
Penetrasi pasukan Interfet di bawah Australia ke wilayah NTT
memang telah beberapa kali terjadi. Pada 1 Oktober lalu,
umpamanya, helikopter pasukan Interfet berkali-kali melakukan
manuver di atas wilayah Indonesia, tepatnya di Desa Mato Ain dan
Siwalan yang merupakan perbatasan NTT-Timtim. Mesin-mesin perang
itu melakukan pengintaian pada pukul 23.00 sampai 24.00 malam
dengan berputar-putar sebanyak enam kali. Kedua desa ini tidak
jauh dengan markas Interfet yang sudah membuat base camp
di Batugede, Timtim.
''Kami tidak berani menembak karena tidak mendapat perintah
untuk itu. Kami baru ditugaskan menembak jika mereka turun dari
helikopter,'' ujar Kepala Pos Polisi Mato Ain, Serka Sukabir.
Akibat manuver pasukan Interfet asal Australia ini sempat
menakutkan para pengungsi. Mereka ketakutan dan berpindah ke
NTT. Keesokan harinya (2/10), dua pasukan tempur Skyhawk
Indonesia balas melakukan patroli di atas wilayah perbatasan.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia, menurut
Menlu Ali Alatas, saat ini memang pada titik terendah. Keadaan
itu sebagai akibat ucapan bebarapa pejabat pemerintah dan
tindakan sekelompok masyarakat Australia yang memang memanaskan
hubungan Indonesia-Australia.
Namun demikian, menurut Ali Alatas, tidak setuju jika
hubungan diplomatik kedua negara itu diputuskan. ''Kita harus
mempertimbangkan dulu hal itu. Jangan terburu-buru mengambil
sikap itu, karena kedua negara masih sama-sama mempunyai
berbagai kepentingan,'' ujar Ali Alatas di Istana Merdeka,
kemarin petang.
Ali Alatas yang ditemui wartawan seusai melaporkan hasil
kunjungan kerjanya ke New York kepada Presiden BJ Habibie di
Istana Merdeka, kemarin, menyatakan perlu bersikap cooling
down dalam menanggapi persoalan itu.
Akibat sepak terjangnya yang terlalu jauh dalam soal Timtim,
PM Australia John Howard terus mendapat kecaman dari lawan
politiknya di dalam negeri. Mantan PM Australia Paul Keating
minta Howard bertanggung jawab atas semua kehancuran dan
kematian yang terjadi di Timtim sekarang sebagai akibat buruknya
kebijakan luar negeri pemerintahan Howard.
''Dia telah mendorong-dorong pemerintahan transisi di
Indonesia untuk memutuskan kebijakan yang paling sulit dalam
politik Indonesia,'' kata Keating dalam wawancara dengan Radio
ABC Australia, kemarin.
Keating mengatakan ribuan orang Timtim kini hilang atau mati
karena buruknya kebijakan luar negeri Australia sejak Perang
Vietnam. Howard, kata Keating, telah memanfaatkan posisi
Presiden BJ Habibie yang sedang goyah dengan melakukan berbagai
tekanan soal Timtim.
Mantan Menlu Australia Gareth Evans juga mengecam kesalahan
Howard yang mengira telah berhasil mempengaruhi keputusan
Presiden Habibie menyelenggarakan referendum. ''Howard lupa,
respons Habibie atas suratnya itu jauh lebih progresif, dengan
membuka kesempatan rakyat Timtim untuk merdeka,'' kata Evans.