Saya kok merasa agak optimis melihat perkembangan usulan dan opini
partai-partai yang ada saat ini. Mungkin karena kita mendapat ancaman dari
luar yaitu AS malah kita menjadi bersatu. Masih banyak centang perenang di
mana-mana, tapi rasanya arus reformasi justru lebih kencang dibandingkan yg
kita perkirakan deh.

Golkar mengusulkan agar di periode mendatang presiden dan wakil presiden
dipilih secara langsung dalam satu paket beserta anggota DPR. Kayak di AS
ya? Rasanya memang sudah tak pantas lagi kalau cap status quo ditaruh ke
mereka lagi.

Cuma satu hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu sinyalemen bahwa kalau ada
pemilihan langsung, maka orang Jawa lagi yang jadi presiden. Ini diungkapkan
oleh seorang ilmuwan dari UGM (lupa namanya). Walaupun saya kurang percaya
masyarakat yg sudah demikian majemuk di Jawa masih mempunyai sikap seperti
itu, bila nanti ada yang tidak merasa puas bisa-bisa muncul lagi isu SARA.
Sebagai orang Jawa sudah pekak telinga saya mendengar
selentingan-selentingan yg tidak mengenakkan. Bukan tidak mungkin pula di
masa mendatang siu-isu ini dihembuskan oleh oportunis politik seperti Boris
Yeltsin itu. Atau Milosevic itu, atau kelompok separatis macam AGAM. Ada
yang punya pendapat?

Issue lain adalah pemegang kekuasaan eksekutif bila presiden berhalangan
hadir, yaitu akan dipegang oleh wapres, bila berhalangan akan dipegang ketua
MPR, dan kalau juga berhalangan akan dipegang oleh ketua DPR. Jadi tidak ada
triumvirat. Saya jadi bingung dengan usulan dari FPDKB ini, yaitu jadinya
presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR tetapi kepada rakyat. Lho, kok
rakyat? Kedengarannya sih bagus, tapi kan rakyat demikian majemuk. Nanti
kalau saya iseng lalu bilang pertanggung jawaban presiden tidak dapat
diterima gimana? Kan saya rakyat juga? Apa bukan ya?

Hal yg perlu saya singgung adalah keinginan masyarakat Tapanuli untuk
membuat propinsi baru, dan juga tiga kabupaten di wilayah Sulsel yag juga
ingin membentuk propinsi baru. Ada beberapa masalah yg saya identifikasi
yaitu:
- Kenapa isu etnik lagi yg jadi dasar ya? Yaitu Masy. Tapanuli dan
  Masy. mandar di Sulsel.
- Apakah sudah memperhitungkan beban pusat untuk pembiayaannya? Hal
  ini perlu kita perhitungkan bila pendapatan daerah tidak mencukupi.
  Mengapa? Karena saya kok rada curiga bahwa keinginan ini didasari
  oleh sentimen keetnikan semata, bukan didasari kemampuan daerahnya.

Hal lain adalah penolakan pembentukan propinsi baru di Irja dengan alasan
akan ada Kodam baru. Saya rasa alasan yg dicari-cari. Kalau memang maunya
tidak ada Kodam baru, okay-lah Kodamnya tetap satu tapi mencakup 3 propinsi.
Orang lain berlomba bikin propinsi kok malah nggak mau lho?

Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke