Matori memang rada antik. Sikapnya makin membingungkan saja. Untuk menghindari tuduhan bahwa Matori menginginkan kursi wapres karena mendukung Megawati, maka Matori menduetkan Megawati dengan Akbar. Suatu paduan yang aneh bin ajaib. Di satu sisi para tokoh teras PDIP demikian menggebu-gebu dalam menghantam Golkar. Tak kurang dari peristiwa Purbalingga Jateng di mana Akbar sendiri sempat luka. Beberapa kekerasan terhadap Golkar oleh simpatisan PDIP (dan satgasnya) demikian sering masuk koran. Sinisme berujud julukan status quo demikian sering diucapkan, seolah menjadi jargon wajib bagi para jurkam PDIP. Siapa lagi kalau bukan Golkar yang diarah? Saat ini para elite PDIP menjadi salah tingkah dengan sikap yang dulu dipegangnya. Walaupun sinyalemen Golkar putih sudah diluncurkan dengan manis oleh para simpatisannya, rasanya masih saja para elite ini kagok-kagok dalam membawa diri. Mungkin sadar bahwa memang tidak ada Golkar putih, hitam, hijau, ungu, dlsb. Memang siapa yang berhak menggolongkan Akbar sebagai Golkar Putih sementara Habibie sebagai Golkar Hitam. Apa kriterianya? Mereka sama-sama bekas menteri di bawah kabinetnya Orde Baru. Bila kriteria yang dipakai adalah putih=mau dijadikan bawahan oleh PDIP, nah mungkin baru pas. Kemudian hitam=kelompok Golkar yg mau jadi pesaing PDIP. Well, kira-kira begitulah maunya. Lalu apa urusannya dengan Matori? Sesuai dengan yg saya sampaikan tadi, para elite PDIP masih terkagok-kagok sebagai korban jargon 'partai status quo vs. partai reformasi' yang dikobarkan tempo hari. Matori sebagai orang luar PDIP mempunyai posisi yang strategis. Sebagai ketua Umum PKB, yang walaupun disebut partai terbuka, tak urung setiap orang melihat bahwa PKB=NU. Upaya pendekatan oleh PDIP kepada PKB sejak dari awalnya karena ada kesulitan dengan Amien Rais. Sebagai Ketua PAN sekaligus Ketua Muhammadiyah, dulu Amien sudah dapat ditempatkan sebagai pihak yg berpotensi berhadapan dengan NU. Yah, setiap orang juga tahu bagaimana posisi mereka sejak dari jaman kuda gigit rumput. Dengan merangkul PKB via Matori, PAN yang dulu diduga kuat menjadi kekuatan besar dapat dihadapi, sekaligus juga untuk menghadapi Golkar. Kenyataan yang ada saat ini tidak banyak mengubah peta strategi PDIP, kecuali kenyataan bahwa Amien Rais dapat merangkul Gus Dur. PDIP yang terkagok-kagok tentunya harus bersandar pada Matori. Walaupun Alwi, Khofifah, dan banyak tokoh PKB hendak memilih Gus Dur, tak urung Matori harus makin didesak untuk menyuarakan kepentingan PDIP. Dalam kaitan dengan issue Gus Dur sebagai capres, PDIP akan menemui kesulitan. Beberapa unsur PDIP berasal dari NU (ingat saja Jatim adalah tempat di mana Sukarno masih kental dipuja-pujinya). Bisa jadi mereka melompat pagar. Matori, dengan berbekal keputusan muspim-pun tetap mencalonkan Megawati, walaupun banyak kalangan PKB hendak pindah kembali ke Gus Dur. Dalam peperangan sesungguhnya, bukan tak mungkin suara PKB akan pecah. Satu PR yang tertinggal adalah Golkar. Sudah sejak lama ada dua kelompok yaitu kelompok Iramasuka dan beberapa orang lain yg ada di kubu Habibie, melawan kubu Akbar Tanjung yang didukung a.l. Marzuki Darusman. Letupan yg agak besar muncul pada saat ribut-ribut pencalonan tunggal Habibie vs, pencalonan 5 orang (a.l. Akbar Tanjung, HB-X, dan Wiranto). Saat itu kubu Akbar+Marzuki kalah, dan akhirnya Habibie menjadi calon tunggal. 'Sejarah' penting inilah yg hendak digarap oleh PDIP. Dengan kondisi elite PDIP yg kagok sebagaimana saya sebut tadi, tak urung Matori-lah yang dapat menjadi jubir PDIP (pinjam tangan orang lain). Tak heran elite PDIP tidak pernah ngomong soal kerja sama dengan Golkar kan? Pendekatan oleh Mega kepada Akbar sudah lama dilakukan. Duet ini sudah demikian mesra diorbitkan oleh berbagai harian. Pemunculan-pemunculan yg selalu berdua dapat dikatakan bahwa Akbar memberi sinyal bahwa dirinya masih 'open' untuk diajak negosiasi. Kemarin Akbar bahkan menolak untuk datang dalam undangan Habibie. Ini adalah penguatan sinyal dari Akbar untuk Megawati. Peran Marzuki juga masih diperlukan untuk tetap membuka channel kepada Habibie, dengan statement bahwa Akbar sibuk mencari dukungan untuk Habibie. Ini hanyalah sekedar butiran permen, agar perlawanan kelompok Habibie yang dimotori Marwah Daud tidak terlalu keras. Jeffrey Anjasmara ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
