Roma, Ides of March,  44 BC....

Para penggemar sejarah akan tahu hari itu: yakni hari
di mana Julius Caesar dibunuh oleh senat Roma.
Jikalau Julius Caesar seorang jendral gagal atau
memalukan nama Roma, mungkin tak akan ada yang
peduli. Namun Julius Caesar merupakan salah satu
jendral terbesar Roma yang berhasil memperluas
kekuasaan Republik Romawi dan menghancurkan
semua pemberontakan. Ditambah lagi, Caesar banyak
dianugrahi penghargaan oleh senat sendiri.

Mengapa seorang jendral sukses yang menyebarkan
kekuasaan Roma mendapat nasib sedemikian naas?
Salah satu jawabannya: musuh-musuhnya merasa
sangat terancam kekuasaan mereka sehingga senat
Roma yang biasanya terpecah memutuskan untuk
mempersatukan diri dan melawan Caesar. Kemenangan
Julius Caesar yang berturut-turut, kehancuran Trium
Trivate, serta popularitas Caesar yang terlalu tinggi
ditambah lagi Senat sendiri pada masa itu mulai tak
populer karena korupsi dan kekalahan perang yang
bertubi-tubi. Dengan kekuatiran tambahan bahwa ada
kemungkinan Julius Caesar akan mengumumkan
dirinya sebagai diktator (kekuatiran yang bukan tanpa
alasan), maka Senat mengambil langkah untuk menghabisi
Caesar sebelum dia menjadikan dirinya sebagai diktator.

Singkatnya, Julius Caesar secara tak langsung menimbun kekuasaan
dengan kemenangan-kemenangan perangnya. Senat kuatir, dan akhirnya
semua faksi memutuskan untuk bersatu menghabisi pengancamnya.

Fenomena perebutan kekuasaan ini kembali terulang di Indonesia....
Cerita di atas mungkin dianggap pembaca bahwa tak ada relevansinya

dengan Indonesia. Perbedaannya terus terang sangat banyak;
dari perbedaan tahun (2000 tahun-an), situasi, kondisi, dan juga
tokoh. Tapi saya melihat ada satu thema yang terus terulang-ulang
dalam sejarah, yakni di mana pun juga, keinginan terbesar manusia
adalah memperbesar power dan security dia. Karena itulah terjadi
penimbunan harta kekayaan dan kekuasaan. Namun jika satu
faksi terlalu kuat, maka faksi lain memiliki 2 pilihan: bergabung
dengan faksi kuat itu untuk bisa berbagi kekuasaan, dengan resiko
kalau semua faksi lain sudah hancur, faksi besar itu akan memakan
faksi kecil itu; atau bergabung dengan faksi-faksi lain untuk menentang
faksi besar itu. Tapi pergumulan kekuasaan seperti ini, tak ada yang
berhak menyatakan bahwa dia yang benar atau pihak lain yang salah.
Itulah peraturannya, kalau ilmiahnya itu 'survival of the fittest.' Itulah
kenyataan dunia yang ada sekarang, dan kalau saya lihat sampai
sekarang, PDI-P tidak belajar dari sejarah ini.



PDI-P: Bukan pemenang pemilu

Berlawanan dengan yang biasa dinyatakan oleh PDI-P, pemilu kemarin
dimana PDI-P mendapatkan suara dibawah 40%, sebetulnya lebih
mencerminkan kekalahan untuk PDI-P. Kenapa saya anggap PDI-P
kalah? Karena walaupun PDI-P tidak mendapat suara mayoritas
diatas 50%, tapi PDI-P sudah bersikap seperti pemenang besar
pemilu.

Kesalahan-kesalahan PDI-P cukup banyak namun yang terbesar
adalah PDI-P terlalu menganggap bahwa perolehan tertinggi dalam
pemilu kemarin merupakan kemenangan mutlak. Memang benar
bahwa PDI-P meraih suara terbesar, namun 40% itu bukan absolut
mutlak bahwa PDI-P akan bisa mendikte keinginannya dalam MPR.


Yang terjadi adalah seperti yang kita lihat akhir-akhir ini,
PDI-P terlalu kuat dan ditakuti, sehingga tak heran partai-partai lain
langsung bersedia bekerja sama dengan musuh terbesar mereka, yakni
Golkar dengan asumsi bahwa Golkar sudah tak sekuat dulu dan juga
prinsip 'Musuh besar dari musuhku adalah sekutuku.'

Di sini sebetulnya dipertanyakan apakah PDI-P sebetulnya terlalu
confident bahwa semua partai akan berebutan mendukung
Megawati mengingat kharisma dari Bung Karno dan juga perolehan
suara di pemilu lalu, atau mungkinkah PDI-P terlalu naif dengan
berasumsi bahwa partai-partai lain tak mungkin bisa bekerja sama
dan tak merasa terancam oleh PDI-P. Pidato-pidato Megawati
dan PDI-P sendiri tak bisa memberikan sesuatu yang bisa
menghilangkan kekuatiran partai-partai lain.

Kenyataan di sidang umum MPR memberikan tamparan kepada
PDI-P bahwa semua partai lain in fact bersekutu dalam melawan
PDI-P dengan tujuan agar PDI-P tak akan bisa mendominasi total
kehidupan politik di Indonesia.

Pendapatan suara terbesar ini yang walaupun merupakan pendapatan
suara terbesar di Indonesia, membuat PDI-P lengah dan tak berusaha
melakukan 'outreach' kepada partai-partai lain. Akibatnya, partai-
partai lain justru bergabung untuk mencegah PDI-P mendominasi
pentas politik. Lain halnya kalau PDI-P mendapatkan 45-50% suara,
mungkin partai-partai lain lebih ragu untuk menentang PDI-P. 50% lebih,
dan semua partai akan berbondong-bondong bergabung dengan PDI-P.
Namun perolehan yang dibawah 40% masih bisa dihadapi oleh partai-
partai lain jika mereka mau bergabung.

Walaupun Indonesia mengikuti pemilu langsung seperti US, tetap
PDI-P tak bisa langsung menyatakan bahwa dia menang, dan semuanya
selesai, karena jika lawan politiknya semua bergabung, PDI-P tidak
akan menang. Kita bisa melihat fenomena ini di sidang umum kemarin
dimana Amien Rais terpilih menjadi ketua MPR dan Akbar Tanjung
sebagai ketua DPR. Terlihat bahwa partai-partai lain kuatir melihat
perolehan suara PDI-P yang tinggi dan akhirnya malah bergabung
dengan sesamanya.



Et tu, Gus Dur?

Pencalonan Gus Dur menjadi presiden menimbulkan permasalahan
baru untuk PDI-P. Sering sekali diberitakan bahwa Gus Dur

mendukung Megawati sebagai presiden. Yang menarik itu kebanyakan
orang, terutama dari kalangan PDI-P berpendapat bahwa ini sudah
pasti merupakan dukungan langsung dari Gus Dur kepada Mega untuk
menjadi presiden. Namun apa kapasitas Gus Dur dalam mendukung
Megawati? Tidak lain Gus Dur berlaku sebagai 'patriach' dalam politik
Indonesia. Untuk contoh mudahnya, kita anggap satu keluarga di mana
seorang ayah memiliki 2 anak yang mau jadi lurah. Waktu si sulung
minta dukungan ayah, sang ayah mendukung ambisi si sulung. Namun
waktu si bungsu minta juga, sang ayah juga mendukung si bungsu.
Apakah sang ayah bermuka dua? Tidak. Sang ayah justru menyemangati
kedua anaknya agar mau meraih ambisi mereka. Dia mendukung ambisi
kedua anaknya, dan di sini mendukung bukan berarti bahwa sang ayah
akan memilih si sulung atau si bungsu dalam pemilihan lurah nanti.
Sang ayah hanya mau agar kedua anaknya serius dalam meraih ambisi
dan cita-cita mereka.

Di sini kesalahan PDI-P adalah menganggap dukungan Gus Dur sebagai
dukungan yang pasti, bahwa mereka akan bisa mengandalkan bahwa
Gus Dur akan memilih Megawati sebagai presiden berikut. Akibatnya
PDI-P menjadi lengah dalam menarik dukungan PKB karena dianggapnya
jika Gus Dur mendukung Mega bahwa artinya semua akan memilih
Megawati. Namun walaupun Gus Dur adalah patriach dalam politik,
tak berarti bahwa PKB akan menyetujui Megawati mentah-mentah.
Di sini kapasitas PKB adalah sebagai anak kedua dari sang ayah. Karena
keduanya memiliki ambisi, tak mungkin yang satu mendukung yang lain
semudah itu.

Satu pertanyaan lain adalah:

Jika sang ayah malah dicalonkan menjadi lurah, apakah kedua anaknya
akan melawan ayahnya? PKB otomatis memang sejak dulu mendukung
Gus Dur. Tapi bagaimana dengan Mega? Mega memang bukan anak
Gus Dur, tapi status Gus Dur sebagai patriach politik Indonesia membuat
statusnya sebagai powerbroker tak bisa dianggap remeh.



PDI-P = Megawati-P?

Kelemahan lain yang tak kalah penting adalah PDI-P terlalu mengandalkan
Megawati. Dari pemilu kemarin, semua orang menganggap PDI-P = Sukarno-P.
Walau kharisma dari Sukarno penting untuk memikat dukungan rakyat,
namun pada akhirnya visi partailah yang menentukan. Sebuah partai yang
hanya kuat akibat pemimpin tak akan bertahan lama dan pasti jatuh begitu
sang pemimpin tak bisa memimpin lagi. Partai harus juga memberikan
visi, yakni apa fungsi partai ini, apa guna partai ini, dan apa yang partai
ini cita-citakan. Sejak pemilu kemarin saya merasa bahwa PDI-P dan juga
partai-partai lain tidak mengembangkan bagian yang ini. Di sini justru
Golkar yang lebih lihai karena berhasil membuang predikat lamanya sebagai
bujang ex-prez Suharto menjadi partai reformasi. Dalam pertemuan antar
partai di Berkeley yang disponsori oleh permias lokal, terlihat bahwa M. Eki
selaku wakil dari Golkar berusaha memutarbalikkan citra partai yang dari
jelek menjadi bisa dipercaya. Walau Golkar masih memiliki orang-orang
dari dinasti lama, tapi Golkar bisa memberikan visi kepada intelektual
bahwa Golkar akan menjadi partai baru yang beritikat untuk reformasi.
Ditambah kelihaian dalam melakukan politik dan kompromi, tak heran
bahwa ketua DPR yang baru berasal dari Golkar.


Kelihaian Golkar dalam membentuk visi dan tujuan partai baru perlu ditiru
oleh partai-partai politik lain. Jika partai-partai lain hanya menyatakan diri
sebagai partai reformasi tapi tak punya visi lain, mereka hanya akan jadi
bulan-bulanan dalam politik. Karena sekarang semua partai menyatakan
diri sebagai partai reformasi, apa perbedaannya? Aliansi dengan Golkar
pun bisa dihalalkan sekarang karena Golkar sudah dianggap sebagai
partai reformasi. Di sini PDI-P mengalami tantangan berat untuk
membedakan image partainya dengan partai lain, dan yang paling
penting adalah melepaskan asumsi bahwa PDI-P hanya tergantung
Megawati, tanpa Megawati PDI-P akan hancur. Karena itu serangan
termudah dari partai-partai lain adalah dengan menyerang pribadi
Megawati. Jikalau PDI-P memang memiliki visi dan dasar yang
bagus serta program kerja yang konkrit, maka partai-partai lain
akan mengalami kesulitan besar untuk menggoyahkan PDI-P.



Adeu, PDI-P?

Dari semua ulasan diatas, apakah artinya saya menyatakan bahwa
kemungkinan Megawati untuk menjadi presiden sudah tak ada? Tidak.
Kemungkinan Megawati menjadi presiden masih cukup besar. Namun
jikalau Megawati menganggap kedudukan sebagai presiden sebagai
'taken for granted,' (pasti terpilih), terus terang saya merasa bahwa
Mega tak akan bisa menjadi presiden. Kalaupun terpilih, saya ragu
kalau dia akan menjadi presiden dengan sikap seperti itu. Nama
Sukarno memang pasti bergaung diantara masyarakat kecil, tapi
nama itu juga akan menjadi 'liability' kalau Megawati menjadi presiden
karena rakyat akan membandingkan apa yang Megawati lakukan
dengan ayahnya, Sukarno. Suara 'Sukarno' juga akan membuat
kuatir partai-partai lain, dan yang bisa terjadi adalah keributan
antara MPR dan presiden jikalau PDI-P memaksakan suaranya
karena dianggap memegang mandat akibat pendapatan suaranya
yang sekitar 35% itu.

Megawati harus berusaha membebaskan dirinya dari bayang-bayang
nama Sukarno - juga perlu mencari dukungan yang cukup stabil dari
partai-partai lain. Walaupun PDI-P meraih suara terbesar dalam pemilu
lalu, tapi kemenangan ini bukan kemenangan mutlak karena PDI-P
gagal bahkan untuk meraih mayoritas. Berhubung sekarang Indonesia
mulai mengikuti sistem voting, PDI-P justru akan mengalami kerugian
besar jika menganggap bahwa ukuran suaranya bisa mempengaruhi
hasil pemilihan presiden, karena 60% suara bisa mengganjal PDI-P.
JIka PDI-P meraih 50.1% dalam pemilu kemarin, mungkin PDI-P tak
perlu kuatir tentang sikap partai lain. Namun sayangnya PDI-P tidak
memiliki suara mayoritas.

PDI-P harus sadar akan kelemahan posisinya serta 'balance of
power' di Indonesia. Walaupun waktunya hanya singkat karena
pemilihan presiden tinggallah sebentar lagi, tapi jikalau PDI-P
tanggap menghadapi perkembangan situasi politik belakangan
ini dan juga berusaha bekerja sama dengan partai lain dalam
membentuk pemerintahan reformasi yang bersih dan dinamis,
maka Megawati belum tentu gagal menjadi presiden.
SU kemarin perlulah menjadi pelajaran pahit bagi PDI-P bahwa
peraih suara terbesar di pemilu bukan berarti pemenang pemilu.
Jika PDI-P tak bisa belajar dari kenyataan ini, maka PDI-P tidak
memiliki qualifikasi sebagai pemerintah yang baik.


Yohanes Sulaiman

Kirim email ke