Bung Mardika dan Bung Patendeh,

Terima kasih atas emailnya. Walaupun saya sudah memutuskan untuk tidak
membalas (karena sudah terlalu banyak waktu tersita), akhirnya tidak tahan
juga.

Gampang masuk ke wilayah orang yg mana? Kita masuk ke wilayah sendiri
mas.....;)

Perlu untuk diketahui bersama bahwa pengadaan PEPERA adalah untuk menjawab
taktik politik Bangsa Belanda yang tetap ingin bercokol di sana. Irian Jaya
adalah bagian dari RI, sebagai bekas jajahan Belanda. Inilah yang merupakan
bonding kita selama ini. Tidak ada yang menipu dan tidak ada pula yang
ditipu. Yang ditipu adalah bangsa-bangsa di kawasan pasifik yang sampai saat
ini di bawah kekuasaan Perancis, Inggris, dan AS. [Oya, Irja masuk waktu
jaman Orla mas....]

Sebagai contoh, apakah anda tahu bahwa penduduk Hawaii sampai tahun 1970
diperlakukan seperti kacung di tanah airnya sendiri? Silakan baca
perkembangan bangsa Hawaii dari buku-buku sejarah, bahkan dari buku sejarah
di AS sendiri. Mereka tidak menutupi semua kelakuan busuk mereka.

PEPERA sebetulnya tidak perlu dilakukan. Bangsa-bangsa barat selalu
menekankan perlunya referendum karena mereka mempunyai cukup banyak dana
untuk melakukan bujukan, dan imingan bahwa ikut dengan mereka akan jauh
lebih menguntungkan. Apalagi untuk kasus Irja. Tidak dapat disangkal bahwa
banyak sekali ketidak-adilan yg diperoleh warga Irja. Tetapi ingat, pada
jaman Belanda mereka menderita, pada masa pendudukan Jepang banyak sekali
warga Papua yang mati dipenggal, dan mereka waktu itu juga banyak yang
berkehendak ikut dengan RI. Klaim oleh sebagian orang Indonesia dan LSM-LSM
bahwa rakyat Papua dibohongi adalah bagian dari propaganda balkanisasi.
Tentu saja tidak akan mungkin melakukan referendum di semua wilayah yang
bahkan belum ter-cover sampai saat ini. Yang jelas saat itu kampanye IRIAN
JAYA (Ikut RI Anti Netherland?) akhirnya membuahkan hasil (karena memakai
otak, tidak seperti referendum gaya Habibie). Banyak yg tidak suka? Jelas
Bung! Belanda mengangkanginya sejak lama dan mereka selalu mengulur waktu
untuk menyerahkannya ke tangan RI. Kita cukup memakai common sense bahwa
Belanda dalam tenggang waktu 1945-1960 jor-joran menabur uang dan membentuk
barisan anti RI, agar mereka tidak mau ikut dalam NKRI. Nah, jangan salah
sangka dengan pendapat adanya penipuan. Jangan kena dibohongi oleh para
separatis dan agen-agen LSM.

Masalah Aceh. Adalah bohong bila rakyat Aceh tidak mau bergabung dengan RI.
Kalau tidak, ngapain mereka membelikan Seulawah? Pemberontakan demi
pemberontakan adalah wujud dari rasa tidak puas mereka dengan pengorbanan
mereka dan hasil yg mereka peroleh. Sesuatu yang sangat wajar. Apalagi
setelah mengetahui bahwa Gas dan Minyak di sana menjadi salah satu sumber
devisa utama RI, dengan pembagian daerah yg relatif sedikit. Ingat lho,
jaman sebelum kemerdekaan mah tidak ada (belum diketemukan) minyak sebesar
itu. Pemberontakan Daud Beureuh misalnya, adalah pemberontakan setengah
hati. Daud adalah pejuang kemerdekaan yang dilupakan oleh Sukarno. Saat itu
salah satu issue utama adalah pemindahan pusat kekuasaan ke Medan.
Pengalihan ini sangat menyakitkan hati rakyat Aceh yg sejak dulu mempunyai
persaingan regional. Juga penghapusan KODAM Iskandarmuda, juga penutupan
Sabang.

Dalam perkembangannya, pemberontakan Aceh ditangani dengan tangan besi dan
dengan cara 'covert operation'. Inilah kebodohan TNI dan Suharto. Demi
tertutupinya masalah regional dari publik dunia, rakyat Aceh dihinggapi oleh
perasaan ketakutan oleh operasi klandestin TNI vs. klandesti GAM. Menurut
saya, masalah Aceh perlu dibuka ke masyarakat luas. Masy. perlu tahu bahwa
di sana terjadi pemberontakan, di mana para pemberontak banyak yang mati dan
banyak pula serdadu TNI yang mati. Para jendral kupluk ini tidak sadar bahwa
dengan menutupi jumlah korban di pihak tentara akan menimbulkan kesan
terjadi pembunuhan tanpa sebab. Ingat saja, operasi militer diusulkan oleh
putra Aceh sendiri yang paham bagaimana buruknya situasi pada tahun 1989.
Bila saja masyarakat diberi tahu bahwa terjadi pemberontakan oleh AGAM di
sana, maka dukungan masyarakat juga akan mengalir ke operasi penumpasan
pemberontakan ini. Dan RI tidak perlu takut seperti Mbah Bodong Suharto thd
pihak LN. Ini adalah urusan dalam negeri untuk memulihkan keamanan.

Asal tahu saja, saat ini AGAM membunuhi banyak orang yg mereka anggap tidak
sepaham. Silakan baca Waspada tiap hari deh. Sementara itu, TNI dan para
jendral kupluk masih saja memakai doktrin Mbah Suharto yang memendam semua
urusan menjadi milik mereka sendiri. Hasilnya jelas rakyat seperti anda yang
segera menuding bahwa TNI melakukan pembunuhan-pembunuhan berencana thd
penduduk sipil, tanpa menyadari bahwa mereka adalah anggota AGAM. Sudah
barang tentu ada beberapa mistakes identifikasi rakyat biasa sebagai anggota
AGAM. Bila persoalan ini tidak segera dibuka, maka simpati masyarakat dan
(simpati rakyat Aceh yg sudah mulai miring ke AGAM) akan berpihak kepada
pihak pemberontak. Memang jendral TNI pasca ORLA tidak pernah belajar bahwa
menyebut terjadinya pemberontakan bukanlah hal tabu. Mereka ingin rapor ORBA
tidak dilumuri oleh aksi pemberontakan seperti masa ORLA. Makanya mereka
tidak pernah menggunakan istilah pemberontakan, tetapi selalu memakai
istilah GPK. Memang TNI pasca ORLA tak mampu merebut simpati rakyat. Well,
memang sulit karena mereka sekaligus berkiprah lewat DWI FUNGSI yang tidak
populer itu.

Saat ini, menurut saya perlu segera dilakukan operasi pemulihan wibawa
pemerintah NKRI. Baik dengan cara militer dan juga cara diplomasi. Bagaimana
agar TNI tidak menjadi bulan-bulanan rakyat sendiri? Jalan termudah adalah
pemilihan presiden sipil yang tegas dan berwibawa. Presiden inilah yang
harus memerintahkan operasi penegakan wibawa kepada TNI. Jadi TNI tidak
berjalan sendiri. Selain itu, dengan cara diplomasi perlu dilakukan usaha
nyata untuk perbaikan kondisi di Aceh (dan juga Irja), untuk merebut simpati
rakyat. Operasi penegakan wibawa jelas akan membuat darah mengucur. Itu
tidak dapat disangkal. Asalkan operasi dilakukan hanya kepada AGAM (bila
mereka menolak menurunkan senjata dan bekerja sama) tidak akan menimbulkan
antipati rakyat. Tentu saja akan ada suara-suara LSM dan suara LN. Tetapi
itulah harga yg harus kita bayar dari kebijakan Mbah Suharto dan jendral TNI
tak becus model Wiranto dan Hari Sabarno itu.

Untuk itulah, mengapa saya sangat menyangsikan Megawati yg bermodal airmata
dalam berpolitik. Model kepemimpinan ini tidak akan membawa manfaat banyak
bagi NKRI yang sedang menghadapi proses balkanisasi. Timtim=Lithuania &
Latvia, apakah kita perlu melihat Aceh=Georgia=Ukrania. Saya juga anti
dengan Habibie yang jelas-jelas sangat lemah terhadap tekanan LN. Dia
harusnya belajar dari pepatah Cina lama yaitu "Anyone who dares to be, can
never be weak". Bung Wisesa juga tidak perlu kawatir negara barat akan
menekan RI. Mereka bahkan tak sanggup menekan Malaysia. Kalau Habibie bukan
seorang 'ayam sayur' jelas kita saat ini tidak akan diinjak-injak oleh
Australia, NZ, dan AS.


Jeffrey Anjasmara

'--------------------------
>From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Sidney Morning Herald: SAS Aussie disusupkan sejak April!!]
>Date: Mon, 11 Oct 1999 15:44:48 EDT
>
>aduh Bung Jeffrey, Emang anda pikir bisa segampang itu masuk-masuk ke
>wilayah
>orang. Memang kita bangsa yang apes, tapi kita juga sudah seharusnya menuai
>apa yang pernah kita tanam....Istilahnya bayar kutukan Bung...Menabur
>terror,
>akhirnya menuai badai....hurricane man...belum aja tsunami.
>bangsa kita memang terkutuk, sejak Orde Baru yang membunuh ribuan orang,
>Pepera Irian Barat yang tidak lebih daripada penipuan besar-besaran hingga
>Penjajahan di Timor Lorosae. Belum lagi dengan Aceh yang terus-terusan kita
>hajar hingga harga dan jatidiri Bangsa Aceh sudah tidak tampak lagi karena
>sudah diinjak-injak oleh Presiden Soeharto dengan dukungan MPR/DPR dan
>dilaksanakan oleh ABRI kita lewat Korps Baret Merah si Kopassus yang
>sekarang
>sedang diributkan mempunyai anak buah di Norwich University. Bung Andrew
>Pattiwael ada koment nih ttg Indonesian Student with Makopassus Connection
>yang sedang ramai-ramainya diberitakan di Boston Globe?? Tumben belum
>pernah
>kedengaran lagi nih....lagi sibuk ya....
>
>Anda sebagai rakyat justru bisa mengusulkan donk, agar TNI lebih diarahkan
>kepada Tentara profesional, bukannya jadi tukang jaga tenda atau tukang
>jaga
>pintu tempat-tempat disko. Coba keren-keren kita (rakyat) beliin
>senjata-senjataaan cangih, eh ternyata senjata canggih itu malah disewaiin
>atau diloakin. Apa ngga sayang tuh...seragam sih keren, tapi profesinya
>ngga
>tuh.
>
>Lho gara-gara Soeharto mau ikutan gaya Soekano 'Memimpin Asia'si babeh uzur
>ini disingkirkan dengan restu dan cium pipi dari Clinton serta Pimpinan
>European Union. Makanya, belajar dari kesalahan lampau, jangan terlalu
>menantang Negara-negara Barat, orang sekuat Soekarno pun dapat ditumbang
>kan,
>apalagi ikan cere seperti Soeharto, wah...kasihan kan sekarang.
>salam,
>
>Mardhika Wisesa

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke