Tapi para sunan yang tersebut di bawah memang bukan orang cina dan kamboja
(daerah seperti itulah)
ichal
Faransyah Jaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nah kalo begini sumber mana yang lebih dipercaya.
dari daerah saya sendiri, diceritakan bahwa penyebaran agama islam dilakukan
oleh pedagang2 arab.
Faran
--
On Wed, 20 Oct 1999 16:57:40 Jeffrey Anjasmara wrote:
>Saya kecewa dengan pernyataan Bung Budi dari UCLA. Masih banyak keluarga
>yang memegang track record silsilah keluarga. Jadi berlebihan kalau anda
>mengesankan hal seperti ini adalah isapan jempol (dg mengaitkan dg Koo Ping
>Hoo).
>
>Dari catatan sejarah, Sunan Giri dan Sunan Ampel adalah asli dari Cina.
>Selain Raden Patah, saya pernah baca bahwa Sultan Trenggono juga separuh
>Cina.
>
>Di bawah ini saya ambil dari simpanan saya (harian Suara Merdeka).
>
>
>'-------------------------
>Kisah Haji Ong Keng Heng
>
>KEBERADAAN orang Tionghoa atau hwa kiauw(orang-orang Tionghoa yang merantau)
>di Indonesia, ternyata tidak hanya untuk berdagang. Tetapi juga ada yang
>melakukan pembauran dan kegiatan penyebaran agama. Seperti yang dituturkan
>oleh pengamat budaya Tionghoa, Budi Haliman
>Halim, hwa kiau berada di Nusantara mungkin sudah sejak abad ke-1.
>
>"Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya ukiran batu zaman Han Wu Ti (104 -
>117 SM) oleh seorang antropolog Belanda, Heine Geldern, di daerah Pasemah
>(Sumatera Selatan). Kemudian ditemukan lagi oleh seorang Belanda bernama
>Orsey Deflines barang keramik yang juga dibuat
>pada zaman Han Wu Ti, di daerah Banten, Jawa Barat,'' tutur Budi Haliman.
>
>Pengamat budaya Tionghoa itu lantas menceritakan peran orang-orang Tionghoa
>dalam perkembangan Islam di Indonesia, yang dinilainya sangat penting untuk
>diketahui generasi muda sekarang. Sebab, sejarah peran Tionghoa dalam
>perkembangan Islam di Indonesia berkesan ditutup-tutupi oleh pemerintah masa
>lampau.
>
>Ia memberikan sekelumit contoh dari peran orang-orang Tionghoa dalam
>perkembangan Islam di negeri ini. Diungkapkannya, setelah Kaisar Ming Dai
>Tju (Tju Gwan Tjiang) meninggal pada tahun 1398 M dan diganti cucunya, Hwie
>yang bertahta dari tahun 1399-1402 M. Kemudian tahun
>1403 diteruskan kakak keponakan Tju Tie dengan gelar Kaisar Ming Djen Tju
>pada Yong Lok, tahun pertama itu pemerintahnya mengadakan hubungan ke luar.
>
>Pada tahun Yong Lok ketiga, tahun 1405-1433 M, dalam waktu 28 tahun Ce Hoo
>(Sampoo Tay Jien/Dampo Awang) diperintahkan berlayar
>dengan membawa barang dagangan serta mengadakan hubungan diplomatik ke-32
>negara.
>
>Lawatan pertama, memakai 62 kapal. Setelah hubungannya bertambah luas, alat
>transportasinya ditambah hingga 100-200 kapal yang dapat memuat
>27.000-28.000 orang. Penumpangnya terdiri atas dokter, penulis, dan
>prajurit.
>
>Sampoo Tay Jien berlayar sebanyak tujuh kali. Yaitu, pada tahun
>1405-1407 datang di Palembang dan Jawa Timur. Pada tahun 1407-1409 juga
>datang di Pelembang dan Jawa Timur.
>
>Pelayarannya yang ketiga tahun 1411, dan keempat menuju ke Persia serta
>Afrika Timur.
>
>Selanjutnya, tahun 1416-1417 menuju Semarang, dan yang keenam, tahun 1421.
>Pada pelayarannya keenam, saat dia pulang dari kegiatan melakukan hubungan
>dengan negara luar, Kaisar Ming Jen Cu meninggal (1424).
>
>Haji Gan Eng Dju
>
>Akibat kegiatannya yang begitu padat, Sampoo Tay Jien tidak menghiraukan
>kesehatannya, dan meninggal pada usia 61 tahun,
>yaitu tahun 1433. Hingga sekarang belum ada yang tahu di mana makam Sampoo
>Tay Jien. Setelah Sampoo Tay Jien meninggal, tahun 1433 atau 1434, para
>tokoh dari Tiongkok atau hwa kiauw aktif menyebarkan agama Islam dan
>melakukan pembauran. Mereka terdiri atas sejumlah orang yang telah naik
>haji.
>
>Di antaranya Haji Gan Eng Dju, Pang Swie Hoo, Pang Tek Geng, dan
>Sun Liong. Salah satu di antaranya, Sun Liong, merupakan ayah angkat Tan Bun
>atau yang dikenal dengan nama Raden Patah.
>
>Menurut Sanusi Pane dalam bukunya Sejarah Indonesia, ayah Raden
>Patah adalah Raja Brawijaya. Ibu kandungnya yang asli Tiongkok
>bermarga Tan, karena itu nama depan Raden Patah diawali dengan Tan.
>
>Setelah dewasa, tahun 1520, oleh ayahnya dia diangkat menjadi
>bupati di Demak. Dan saat Kerajaan Majapahit runtuh, pada tahun
>1575 Raden Patah mendirikan negara Islam di Demak. Selanjutnya
>bergabung dengan Jawa Timur.
>
>Melalui berbagai pengamatan, dikatakan, Islam masuk Indonesia
>pada akhir abad ke-13 atau awal abad ke-14. Waktu itu, jumlah
>penganut agama Islam masih sedikit. Setelah Sampoo Tay Jien
>datang, pada abad 15 dan 16 perkembangan agama Islam maju pesat
>dan menyebar secara luas.
>
>Islam di Semarang
>
>Pada pelayaran kelima, tahun 1416 (ada yang mengatakan tahun 1417), Cen Hoo
>atau Sampoo Tay Jien datang ke Semarang lewat pelabuhan Mangkang atau
>Simongan, dan mendarat di Gedung Batu, bersama Kiai Juru Mudi (Ong Keng
>Heng).
>
>Setelah Sampoo Tay Jien meninggal, Ong Keng Heng diperintahkan melakukan
>misinya ke Sumatera. Namun, setelah dinasti Bing menghentikan pelayaran,
>tidak ada orang Tionghoa yang berlayar dengan menggunakan kapal kerajaan.
>
>Karena itu, kedatangan Ong Keng Heng di Semarang bukan karena tugas dari
>dinasti Bing, tetapi urusan pribadi. Di kota ini pula Ong Keng Heng
>meninggal.
>
>Konon menurut Prof Wang Gwen Cang dan Prof Lie Siok Min, dalam bukunya yang
>berjudul In Ni Hwa Jiauw She terbitan Desember 1987, makam Ong Keng Heng
>berada di sebelah kiri gua Sampoo Tay Jien.
>
>Dalam buku tersebut dikisahkan pula, sewaktu Kiai Juru Mudi sakit parah
>tidak ikut berlayar. Dengan ditemani 10 orang, setelah sembuh ia menyebarkan
>agama Islam di Semarang dan membuka praktek tabib.
>
>Wali Sanga
>
>Diceritakan pula oleh Budi Haliman tentang peran Tionghoa dalam sejarah Wali
>Sanga. Perantau Sie Tjin Geng yang datang di Jawa,
>mendapat kepercayaan raja Majapahit sebagai utusan untuk menjadi patih
>Palembang di Palembang. Dengan tugas menyebarkan agama dan mengurus tata
>negara. Utusan raja Majapahit itu, pada tahun 1421 M meninggal.
>
>Aktivitasnya diteruskan anak kedua putri pertama, Sie Jie Cie atau Sie Tay
>Nio (Nyai Gede Pinatih) yang selanjutnya pindah ke Jawa Timur.
>
>Kepindahannya dari Palembang ke Jawa Timur membawa berkah tersendiri. Sie
>Tay Nio atau Nyai Gede Pinatih bernasib sama dengan ayahnya. Dia diangkat
>raja Majapahit menjadi syahbandar, berkedudukan di Gresik.
>
>"Wanita yang disegani dan dihormati penduduk setempat itu, juga melakukan
>penyebaran agama Islam, sehingga ia diangkat menjadi keluarga salah satu
>dari Wali Sanga. Perempuan ini memiliki anak angkat bernama Raden Paku,''
>tuturnya.
>
>Menurut buku In Ni Hwa Jiauw, Raden Paku ini merupakan cucu raja Blambangan
>yang diperoleh dari putrinya dengan suami seorang perantau, Maulana Ishak,
>penyebar agama Islam di Jawa.
>
>Tepat memasuki usia 16 tahun, Raden Paku oleh Nyai Gede Pinatih atau Sie Tay
>Nio, dititipkan ke gurunya yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat), yang nama
>Tionghoanya adalah Bong Swee Hoo atau Pang Swie Hoo.
>
>Dalam usia dewasa, setelah jenuh berdagang, Raden Paku bertapa selama 40
>hari 40 malam. Juga membangun masjid di Gunung Giri, sehingga bergelar Sunan
>Giri yang juga disegani para pemeluk agama Islam.
>
>Pada saat meninggal, jenazahnya dimakamkan di Gunung Giri dan kini banyak
>dikunjungi para peziarah. Bahkan, tempat ini juga dikatakan sebagai
>"Makahnya orang Timur''. Tidak hanya itu, sampai sekarang banyak orang ke
>Gresik juga untuk menengok makam Nyai Gede Pinatih,
>keturunan Sie Tjin Geng.
>
>"Beberapa kisah di atas hanya sebagian kecil saja dari peran hwa kiauw dalam
>perkembangan sejarah di bumi Indonesia yang tercinta ini,'' ujar Budi
>Haliman Halim. (Priyonggo-60k)
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
DC Email!
free email for the community - http://www.DCemail.com
____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.