Saya bikin judul yg rada dramatis dikit. Pakai bahasa inggris biar kayak
tukang jual obat yg lain.

Saat pertama membaca kabinet baru itu, saya langsung menghela nafas lega
dengan panjangnya susunan kabinet. Saya sudah ketakutan bakal terjadi chaos
di dalam pelaksanaan pemerintahan, akibat sistem coba-coba dari para analis
yg berjibun dewasa ini. Mungkin cuma saya yang tidak ingin kabinet cuma
berjumlah 25 orang. Semua analis dan
suara-suara di internet memandang jumlah departemen dan menteri terlalu
banyak sehingga menimbulkan keborosan.

Pandangan ini menurut saya sangat keliru. Boros akibat kebocoran dana tidak
akan dapat dicegah dengan cara menghapus atau melebur jumlah menteri. Alasan
lain untuk menghapus suatu jabatan menteri adalah tidak ada fungsinya.
Contoh korban dari alasan ini adalah penghapusan Deppen. Sebagaimana sudah
saya tulis sebelum susunan kabinet diumumkan, penghapusan Deppen merupakan
kesembronoan dalam mengambil kesimpulan dan menetapkan keputusan. Dengan
adanya gap intelektualitas masyarakat, di mana di salah satu pihak masih
hidup di jaman batu, dan di pihak lain terdapat masyarakat yg tidak bisa
hidup tanpa dunia cyber, mestinya Deppen dapat menjadi jembatan. Mereka
dapat berfungsi sebagai layaknya PR dalam suatu perusahaan. Pembelokan
fungsi Deppen menjadi departemen propaganda di masa lalu mestinya dijadikan
sebagai alasan untuk merombaknya. Jadi bukannya lalu menghapuskannya.

Deppen tidak seharusnya ditaruh sebagai bagian dari departemen lain. Justru
semua departemen teknis, semua kementerian negara, bila ingin menyampaikan
segala sesuatunya harus bermuara di satu tempat yaitu Deppen. Bila bagian
penerangan ditempatkan di bawah kementrian lain, maka akan timbul distorsi
kepentingan, dan sentimen antar departemen atau menteri dapat muncul.
Kesembronoan tim penyusun kabinet ini ibarat melihat pisau daging digunakan
untuk membunuh, maka pisau daging dilarang untuk dibuat. Jelas sangat
menyedihkan.

Tentangan saya thd jumlah menteri dan departemen teknis yg sedikit juga
didasari oleh sifat organisasi. Hampir semua departemen mempunyai rentang
kendali yang sudah terlalu lebar, sementara itu secara vertikal paling cuma
mencapai 4 tingkat. Model birokrasi ini bagus agar tidak muncul rantai
birokrasi yg terlalu panjang, sehingga
malahan dapat dibelok-belokkan. Sekarangpun, maksud saya kemarinpun, dengan
4 level vertikal saja sudah sering terjadi pembelokan yg saya sebut itu.
Sebagai misal deptan digabung dengan dephut. Akibatnya sang menteri akan
kewalahan dalam mengelola dan mengawasi bawahannya. Sebagus-bagusnya menteri
kalau scope of work terlalu lebar dan dalam maka hasilnya adalah
penyelewengan oleh bawahan dan inefisiensi.

Pemasangan menko juga saya syukuri. Para analis itu tidak mau membaca
sejarah mengapa jabatan menko ini muncul. Namanya juga koordinator, tugasnya
ya bikin koordinasi agar pekerjaan yg overlap tidak jadi rebutan. Sebaliknya
bisa juga dua atau lebih pihak bertikai ini malah saling mengabaikan. Fungsi
lain adalah sbg penghubung presiden
kepada menteri. Presiden jelas tidak akan mampu mengawasi semua menteri
tadi. Kemampuan dan waktu presiden tidak akan mampu meng-compile laporan
menteri yg punya bidang overlap. Di sinilah peran Menko yang lain itu.

Saya rasa, Indonesia saat ini mengalami apa yg saya sebut ANALIST FLOOD. Di
lain pihak, Indonesia saat ini mengalami STRATEGIST DROUGHT. Entah kenapa
perginya para strategist kita itu, dan entah kapan hujan strategist akan
turun.

Berhubung posting ini sebetulnya saya buat kemarin, rasanya tidak perlu saya
tulis bagaimana para teknokrat dipinggirkan oleh keberadaan pengurus partai.
Sudah banyak yg nulis. Saya akan bicara mengapa PDIP puas dengan 2 orang
wakilnya di kabinet. Menurut saya, terdapat 3 bidang penting saat ini yaitu:
- ekonomi, keuangan, blah-blah-blah...
- teknologi, industri, yada-yada-yada....
- pertanian, kehutanan, yak-yak-yak....

Perekonomian yg nyungsep mau tidak mau mengharuskan kita melirik lalu
merangkul bidang ini, dan "melupakan" dua yang lain. Saat ini menguasai
posisi ekonomi dan keuangan berarti menguasai the whole heart dari kabinet.
Sebagai paribasan, jabatan ekuin setara dengan jabatan 5 orang menteri
lainnya. Apalagi ditambah dengan posisi bidang investasi oleh Laksamana
Sukardi.

Posisi Kwik Kian Gie ini saya rasa sangat sensitif dengan issue pri dan
nonpri jaman dulu. Yang jadi masalah, sambutan hangat pasar yang
disebut-sebut koran itu (atas KKG) perlu dilihat siapa sih "pasar" itu?
Apapun alasannya, keputusan tidak dapat ditarik lagi. Okay KKG dapat duduk
di sana. Memang dari sudut profesionalism (dalam arti "kompetensi") sudah
memenuhi. Saya menyarankan buat rekan-rekan untuk membuat suatu badan yang
boleh saya sebut "CREDITOR WATCH". Fungsinya adalah mengawasi saluran kredit
perbankan dan juga mencakup siapa saja yang diuntungkan oleh kebijakan
ekonomi yg diambil. Kepincangan ekonomi, di mana suatu golongan tertentu
menguasai saluran dan porsi ekonomi bukanlah isapan jempol. Gencarnya
pemberitaan bahwa Suharto, Inc. menguasai perekonomian justru hanya betul
sampai taraf tertentu. Buat saya, yg perlu di-highlite justru CRONIES ini,
yg harus ditulis dengan huruf besar.

Ada nggak yg mau mendirikan CREDITOR WATCH ini? Tugasnya jelas jauh
berbahaya dari sekedar CORRUPTION WATCH-nya Teten yang cuman memusuhi
pejabat dan PNS yg tidak punya kaki tangan terlalu panjang.

Sekian dulu,
Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke