Salam PERMIAS dan juga untuk Bung Nasrullah,
Saya turut sedih juga atas dibubarkannya Deppen dan Depsos. Ada banyak
sekali kenalan yang ada di dua departemen tersebut. Resiko jadi pemimpin
? Tapi saya lihat Gus Dur juga punya point tersendiri dalam hal ini.
Peluang, however, masih terbuka sangat luas untuk orang-orang mantan
Deppen (Depsos saya nggak terlalu familiar);
1. Bikin media rating systems di Indonesia (seperti Consumer Report
disini) dalam bentuk majalah, web, siaran TV, radio, dll.
2. Production house
3. Advertising industry (copywriter, etc)
4. Public relation consultant
5. Media massa (editor, wartawan, penyiar, etc)
6. ada lagi yang punya ide ?
Salam,
--
[EMAIL PROTECTED]
http://www.nawala.com
On Fri, 29 Oct 1999, Nasrullah Idris wrote:
> Republika Online edisi:
> 29 Oct 1999
>
> JAKARTA -- Pembubaran Deppen dan Depsos berbuntut panjang. Kemarin ribuan
> karyawan dua departemen itu datang mendemo Istana Negara menuntut
> pertanggungjawaban Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atas keputusannya
> membubarkan kedua departemen tersebut.
>
> Gus Dur kemudian bersedia menemui 10 orang yang mewakili pendemo dari
> Deppen. Dalam rombongan itu terdapat (mantan) Dirjen Penerangan Umum (Penum)
> Soedaryanto dan (mantan) Sekjen Deppen IGK Manila yang sekaligus memimpin
> delegasi itu. Beberapa saat kemudian muncullah mantan Menpen Yunus Yosfiah.
>
> Pembicaraan berjalan lancar pada awalnya. Kemudian perbincangan Presiden
> dengan mantan tokoh Deppen memanas saat Yunus menyatakan bahwa dia tidak
> mengerti bagaimana sampai Gus Dur mengambil keputusan pembubaran itu. Ia
> bahkan menilai Gus Dur kurang arif karena di saat krisis justru menghapus
> departemen yang karyawannya berjumlah 50.875. ''BP7 yang dibubarkan beberapa
> waktu lalu sampai kini masalah karyawannya belum terselesaikan,'' katanya.
>
> ''Kami khawatir staf Bapak yang mengelola ini --mungkin di atas-- tetapi
> tidak langsung turun ke bawah mengecek seperti apa sebenarnya kondisinya,
> Pak. Maaf ini ...'' kata Yunus dengan intonasi suara yang sedikit keras.
>
> Yunus yang pernah melontarkan gagasan pembubaran Deppen itu mengaku datang
> ke Wisma Negara --tempat pertemuan itu-- atas inisiatif sendiri tanpa ada
> yang mengundangnya. Apalagi keluarganya berkali-kali mendapat telepon gelap
> karena penghapusan Deppen dikira gara-gara kebijakannya sewaktu menjadi
> Menpen. Padahal, menurut dia, sampai saat ini tidak pernah ada konsep,
> program, atau rencana untuk membubarkan Deppen secara bertahap, seperti
> terjadi di Depsos.
>
> Gus Dur kemudian menyatakan simpatinya atas nasib Yunus. Tapi entah kenapa
> Gus Dur sempat menyebut Yunus sebagai Menpen. Saat itu pula Yunus memotong
> pembicaraan Presiden dengan mengatakan sejak Presiden dilantik dia tak
> pernah lagi datang ke Deppen untuk menjaga jangan sampai ada orang lain
> mengutak-atik departemen itu. ''Jangan sampai kedatangan kami juga dianggap
> menuntut-nuntut jabatan. Maaf, tidak, Pak.''
>
> Jawaban itu agaknya membuat Gus Dur terpancing emosinya. Keputusan itu,
> katanya, sesuai prinsipnya sejak dulu yakni pemerintah sebaiknya tidak
> terlalu banyak campur tangan urusan masyarakat. Rakyat, menurutnya, sudah
> terlalu lama menderita di tangan pemerintah, sehingga ia mencoba
> memperbaikinya dari sedikit termasuk penataan, efisiensi, dan penghapusan
> Deppen.
>
> ''Tidak ada urusannya dengan penasihat. Memangnya saya orang bodo. Saya
> bikin kabinet sendiri kok, berlima Bu Mega, Pak Amien, Pak Akbar Tanjung,
> dan Pak Wiranto,'' ujar Gus Dur. Ia membantah bahwa penghapusan Deppen itu
> merupakan usulan dari penesihat-penasihatnya. ''Penghapusan Deppen pada
> prinsipnya agar pemerintah tak terlalu banyak turut campur urusan
> masyarakat,'' katanya.
>
> Pekerjaan penerangan, tambahnya, dapat dilakukan masyarakat sendiri. Kendati
> pemerintah ikut membantu, tapi bantuan itu tidak harus dalam bentuk
> departemen. Karena, departemen terlalu besar hanya untuk urusan demikian.
> ''Masa urusan menerangkan kepada masyarakat saja harus ada departemen. Kalau
> begitu nanti ada departemen macam-macam dong,'' ujar Kepala Negara.
>
> Gus Dur juga mengungkapkan kekecewaannya, karena selama ini Deppen lebih
> mirip pasar, tempat dilakukan tawar-menawar. Karena, ada departemen di mana
> ada pedagang menunggu di bawah sementara pejabat enak-enakan dengan 'wanita'
> yang dibawa sang pedagang. ''Apaan ini, departemen kok begini. Malu saya
> sebagai warga negara melihat departemen dijadikan begitu. Negara ini
> diinjak-injak orang,'' papar Gus Dur.
>
> Ketika Gus Dur akan menyudahi acara, Yunus justru kembali angkat bicara
> dengan menyatakan tindakan Presiden amat mengecewakannya, karena Gus Dur
> yang semula dianggap pemimpin umat dan kini pemimpin negara yang diharapkan
> dapat membantu kesulitan rakyat justru menimbulkan kesulitan baru dengan
> langkah mendadaknya. ''Seyogianya pemerintah memiliki sense of crisis,
> seperti Depsos,'' kata Yunus.
>
> Mendapat kecaman pedas itu Gus Dur ganti angkat bicara. ''Satu hal, kalau
> Bapak katakan kecewa, yang paling kecewa itu rakyat. Yang tahu rakyat itu
> saya, bukan Bapak, karena yang menang [pemilu] saya kok. Masyarakat sudah
> lama jengkel dengan pemerintah, tahu? Bapak enak, jadi Letjen, jadi menteri,
> tidak merasakan yang di bawah kayak apa,'' kata Gus Dur dengan nada
> membentak.
>
> Menurut Gus Dur, sudah waktunya efisiensi dilakukan, kendati diakui memakan
> korban. Ia berjanji tidak akan menelantarkan nasib karyawan Deppen. ''Tetapi
> untuk menghidupkan kembali Deppen, maaf saya tidak bisa. Ketuk hati,
> dibilang arif atau tidak arif, itu urusan Bapak, bukan urusan saya. Urusan
> saya adalah keyakinan yang tumbuh perlahan-lahan selama 30 tahun saya
> memperhatikan negara ini,'' tegas Gus Dur.
>
> Poster Protes
>
> Aroma demo karyawan Deppen sudah tercium ketika dilakukan upacara Sumpah
> Pemuda. Saat itu, para peserta upacara tak begitu konsentrasi. Dan begitu
> upacara selesai, aneka poster mulai digelar. Beberapa karyawan tampak
> berkaca-kaca, bahkan ada yang menangis.
>
> IGK Manila yang menjadi inspektur upacara langsung menjadi tumpahan
> kesedihan pada karyawan. Dengan sabar dia meladeni keluhan dan isakan
> karyawan yang merasa tidak tahu harus ke mana setelah departemennya
> dibubarkan. Beberapa karyawan lain, ternyata sudah siap dengan poster-poster
> dan langsung menggelarnya.
>
> ''Gus Dur, keputusanmu brilian tapi memilukan kami,'' bunyi sebuah poster.
> ''Wah, kami jadi korban rekonsiliasi,'' bunyi poster lain. ''Yunus, mana
> tanggung jawabmu?''
>
> ''Tidak perlu begitu. Tanpa poster saya tahu apa keinginan kalian. Saya
> memimpin kalian karena Menteri Penerangan sudah tidak ada,'' kata Manila
> kalem. Ia mencoba menenangkan sekitar tujuh ribuan karyawan berseragam
> kelabu itu dengan antara lain menyebut bahwa tidak mungkin ada pemecatan,
> bahkan hak gaji sekaligus berbagai tunjangan tetap.
>
> Tapi itu tidak terlalu dihiraukan pendemo. ''Ayo ... ayo ... kita tanya
> langsung ke Gus Dur! Jalan, ayo jalan ...'' teriakan lewat pengeras suara.
> Dalam sekejap mereka membanjir ke Jalan Merdeka Barat lalu berjalan ke
> Istana Negara.
>
> Demonstran pun kemudian mendaulat Manila untuk minta penjelasan Presiden.
> Setelah bernegosiasi dengan Paspampres akhirnya Manila didampingi 10 pejabat
> eselon I dan II di lingkungan Deppen diizinkan bertemu Presiden di Wisma
> Negara.
>
> Kepada mereka, Gus Dur menegaskan tetap pada pendiriannya dengan alasan
> efisiensi. ''Supaya pemerintah tidak terlalu banyak campur tangan dalam
> urusan masyarakat, maka baik Deppen maupun Depsos tidak akan dihidupkan
> lagi,'' katanya.
>
> Namun, kata Gus Dur, dengan tidak dicantumkannya Deppen dalam kabinetnya
> bukan berarti kerja penerangan tidak ada lagi. Kerja penerangan akan tetap
> ada. Hanya, setelah adanya otonomi daerah (OD) yang memberi kekuasaan lebih
> banyak di daerah, merekalah yang akan menyerap tenaga kerja ini. ''Jadi
> percayalah, saya tidak akan membiarkan Anda terkatung-katung terlalu lama,''
> jelas Presiden.
>
> Ketika menerima perwakilan Depsos siang harinya Presiden mengatakan tidak
> tercantumnya Depsos dalam kabinet kali ini dilakukan dengan sengaja. ''Bukan
> tak tahu risikonya. Justru karena tahu risikonya maka kita harus memperbaiki
> keseimbangan pemerintah, supaya pemerintah bukan yang melakukan tetapi
> sebagai fasilitator masyarakat. Kerja sosial harus dilakukan masyarakat,''
> katanya.
>
> Karyawan Depsos, kemarin, sekitar pukul 10.30 WIB memang bergabung dengan
> karyawan Deppen yang berunjuk rasa di depan Istana Negara. Dengan tetap
> mengenakan seragam batik Korpri, mereka datang menggunakan puluhan bus untuk
> menuntut penjelasan dan pertanggungjawaban pemerintah sehubungan tidak
> adanya Depsos dalam pemerintahan RI 1999-2004.
>
> Sebuah kendaraan Unit Siaran RRI digunakan untuk orasi pengunjuk rasa dengan
> pengeras suara di arahkan ke Istana. Dalam orasi tersebut karyawan RRI dan
> TVRI mengatakan akan menghentikan siaran mereka jika Deppen tetap
> dibubarkan.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Subscribe/unsubscribe bincang@ ?
> Send email to [EMAIL PROTECTED], with subject: (un)subscribe bincang@.
>
> --------------------------------------------------------------------------
>
> Menjadikan PERMIAS organisasi yang satu, berguna bagi anggotanya, perduli,
> tanggap dan independen...
>
> --------------------------------------------------------------------------
>
>
>