Kesalahan kita yg pertama menurut saya adalah membiarkan
praktek demokrasi arisan tumbuh di negara kita ketimbang
demokrasi rakyat.

Saya sejak awalnya sudah terus menentang demokrasi
arisan ditumbuh-kembangkan di negeri kita. Tapi beberapa
respon yg muncul di milis ini malah mencoba mencari pembenaran
konstitusi atas demokrasi arisan tersebut ketimbang mengacu
pada semangat demokrasi rakyat yg seharusnya patut kita
perjuangkan bila kita ingin demokrasi tegak dibumi pertiwi.
Yang membuat saya kecewa di milis ini adalah ternyata rakyat
kecil yg notabene sering kita kategorikan rakyat "bodoh" malah
ternyata soal demokrasi mereka lebih mengerti soal
demokrasi dari kita2 disini....:'(
Mereka tahu, bahwa dalam demokrasi rakyat suara rakyat
adalah suara final, capres dari partai pengumpul suara terbanyak
atau pemenang pemilu berhak untuk memimpin pemerintahan
bila pemilihan persiden tidak dilakukan secara langsung
karena memang logikanya adalah capres pemenang pemilu
itulah yg paling banyak mendapat kepercayaan rakyat.
Itu konsekuensi logis bila kita mau menegakkan demokrasi
rakyat.

Tapi sudahlah, hal itu sudah lewat. Yang penting bagaimana
kita bisa menghadapi serta mencermati konsekuensi logis
dari demokrasi arisan ini.

Dampak pertama yg kita lihat dari penerapan demokrasi
arisan ini adalah dengan dibagi2nya atau adanya jatah2an
menteri yg duduk dalam kabinet yg berasal dari banyak partai.
Ini jelas ngga sehat bila kita ngomong secara idealnya.
Apalagi yg ikut menentukan pemilihan menteri tersebut
adalah:
Amien Rais yg posisinya adalah seorang ketua MPR aktif.
Akbar Tandjung yg posisinya adalah seorang ketua DPR aktif.
yg sebenarnya diharapkan dapat menjalankan fungsi
kontrol dan bukan ikut2an nyusun kabinet dengan
cari ngasih daftar nama2 orang yg mereka maui duduk
di kabinet.

Dampak kedua adalah tanggung jawab atas menteri yg
disodori bukan dari pihak lain, dalam hal ini dari pihak
Amien Rais dan Akbar Tandjung.
Kita lihat kasus Bomer Pasaribu yg di "garansi" oleh
Akbar Tandjung. Bomer Pasaribu yg diangkat menjadi
Menaker ternyata banyak diprotes oleh LSM atau
pun lembaga2 karena diduga punya kasus2.

Dampak ketiga adalah tidak jelasnya kini aturan main
dan batas wewenang yg berlaku. Contoh kasus adalah
ucapan ketua MPR yg berkata, "Mulai sekarang agar
jangan ada lagi dubes negara asing mencampuri urusan
dalam negeri Indonesia," setelah mengetahui bahwa
menkeu Bambang Subianto yg notabene adalah hasil
dari "garansi"nya mendapat tekanan dari salah seorang
dubes (dubes AS). Yang lebih hebat lagi adalah respon
dari peristiwa ini, ketua MPR kita akan menemui dubes
tersebut. Yang saya bingungkan, tanggung jawab seorang
menteri itu khan ke presiden dan bukan ke ketua MPR.
Dan lagian khan belum ada reaksi dari presiden atau pun
menteri itu akibat dari tekanan tersebut. Koq belum apa2
ketua MPR sudah melangkahi wewenang presiden sih?
Seharusnya, kalau pun ketua MPR itu hendak bertindak,
pertama dia harus konsultasi dulu dengan ketua2 MPR lainnya.
Jadi ya ngga bertindak sendirian dan semaunya saja.
Dan setelah itu baru mungkin memanggil presiden untuk
menanyakan kasus penekanan tersebut. Jadi, yg berhak
bicara atas masalah tekanan terhadap seorang menteri itu
ya presidennya dong.  Atau, kalau pun ingin memanggil
menteri keuangan tersebut, ya bisa dilakukan lewat DPR
dalam rangka mencari tahu atau minta penjelasan/dengar pendapat.
Nah, kejadian yg sekarang khan menkeunya sendiri belum
bikin tindakan apa2 atas tekanan tersebut, eh ketua MPRnya
udah blingsatan. Dan lebih parahnya lagi mau nemuin dubes
tersebut. Apa ngga salah nih? Masak sih posisi ketua MPR
yg demikian terhormat melakukan hal2 seperti itu, datengin
dubes di negaranya sendiri.

Ketiga dampak negatif dari demokrasi arisan di atas yg
baru bisa saya identifikasikan sampai saat ini. Artinya.
tidak tertutup kemungkinan akan adanya dampak2 negatif
lainnya bila kita tidak hati2 bersikap atau menyikapi kelemahan2
dari demokrasi arisan ini.

Semoga banyak di antara kita yg segera menyadari ini dan
segera waspada dan lebih mawas diri lagi agar dapat
meminimumkan dampak2 negatif dari demokrasi arisan
yg seharusnya sejak awal perlu ditentang.

Memang banyak hal yg tidak enak yg kita lihat sekarang
di awal pemerintahan baru. Yang perlu disadari, semua itu
adalah konsekuensi dari pemberlakukan demokrasi arisan
yg saya lihat mendapat banyak dukungan di milis
permias ini.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke