Bila selama ini kita memandang oknum-oknum pegawai melakukan korupsi,
sebaiknya kita mulai melihat hulu dari segala permasalahan. Satu hal dari
'kebaikan' dari berbagai keputusan pemerintah Wa-Hyde yang amburadul adalah
perubahan status Bappenas, yang akan dikembalikan ke dalam fungsinya sebagai
perencana, bukan perencana dan pembagi proyek yang selama 10 tahun ini
diemban.

Sebagai suatu badan yang menjadi demikian strategis, maka Bappenas berubah
menjadi godfather bagi jalannya pemerintahan. Semua urusan harus mendapat
restu dari bappenas. Semua departemen wajib sowan kepada para pegawai
Bappenas, tentunya dengan segepok kertas berwarna hijau. Para pimpinan
proyek harus menghadap dan membicarakan persentase dana untuk pelicin. Bila
tidak menghadap, maka jangan harap persetujuan akan turun. Dari berbagai
kebocoran dana pembangunan, bila kita misalkan saluran uang ke proyek adalah
pipa, maka kebocoran di tangan godfather ini berada tepat di mulut pompa
air. Boro-boro lewat pipa, sebagian dana ini belum sempat merasakan untuk
menyentuh karat dalam pipa saluran.

Selain kebocoran dana di mulut pompa, kebocoran yg lain dan tak kalah besar
terjadi di Depkeu, yaitu di bagian anggaran. Modus operandinya adalah sama
saja. Kalau tidak diberi, maka anggaran diancam akan dipotong. Dari dua
institusi ini saja kebocoran dapat mencapai 30%.

Setelah aliran air mengalir, si pemilik pipa tidak boleh mencurahkan seluruh
air ke dalam sawahnya. Sebanyak 10% harus ditadah di dalam penampungan
sementara, katakanlah jirigen. Tidak perduli bagaimana baiknya pengolahan
sawah, jirigen harus diisi penuh. Saat pengolahan sawah masih dilangsungkan,
maka BPK dan BPKP akan datang untuk mengukur aliran air itu. Tentu saja
kesalahan pertama sudah ada. Kok cuman 70% saja total air yang mau
dialirkan? Tentu saja mereka menutup mata bahwa 30% air tidak sempat
mengalir. Kalaupun si pemilik sawah mampu menjelaskan bahwa 70% air
digunakan untuk sawah, sejumlah kesalahan harus ada atau dipersiapkan. Kalau
tidak nanti si pemilik sawah harus menjelaskan 30% air, yang akhirnya tidak
berhenti-henti bersilat lidah membahas permasalahan yg sebetulnya sudah
sama-sama tahu.

Dengan demikian, sebagus apapun prestasi si pemilik sawah, sudah terdapat
kesalahan kebocoran "di luar tanggung jawabnya". Katakanlah ini faktor
inheren. Dengan efisiensi 100%-pun, si pemilik sawah harus tetap menyediakan
jirigen tadi. Thus, dia dari awal hanya mempunyai air 60% saja. Bila si
pemilik sawah tidak berani menjamin kebocoran oleh lubang yuyu kangkang,
lubang ular di sawahnya, maka another 10% harus disiapkan di jirigen.
Berarti terdapat kesalahan pengelolaan kan? Total hanya terdapat 40-50% air
yang siap curah ke sawah tersebut.

Dengan berbagai kebocoran oleh lubang yuyu dan ular, maka 10% atau lebih
akan kabur dari sawah. Hence, total 40% atau kurang yg menggenangi
persawahan.

Dengan demikian, sangat penting untuk memaksa pemerintahan Mr. Wa-Hyde
memberlakukan pengumuman harta kekayaan setiap pihak-pihak yg terkait ini.
Jangan pula lupa bahwa seluruh jajaran kabinetpun harus mengumumkan
kekayaannya. Atau Mr. Wa-Hyde sudah lupa berdiri dari kursi Ligna?


Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke