Saya kira hanya saya yang mempunyai dugaan bahwa AS sedang berusaha dibela.
Ternyata alhamdulillah logika sederhana saya masih sesuai dengan relnya.

Beberapa sinyalemen bahwa Amien-lah yang keluar dari rel, atau Bambang
Sudibyo yang tidak bisa berbahasa Inggris, yang dilontarkan oleh para analis
(dan juga beberapa di milis permias@) terbukti malah kembali membela AS.
Suatu kebetulan yang mengherankan.

Sudah berkali-kali saya menulis agar kita waspada pada IMF dan AS, ternyata
masih saja banyak penggemarnya yg membuta. Tingkah IMF yang menunda bantuan
dan setelah dokumen long form dibuka, dan malah diobral, malahan IMF pula
yang ingin cepat-cepat kasus Bank Bali ditutup. Hubert Neiss yang bilang
begitu. Kemarin sudah saya tulis toh, mengapa IMF (juga HIID) yang juga
harus bertanggung jawab atas kerusakan ekonomi kita?

Dalam kasus dubes AS yang bertingkah selaku presiden RI, alih-alih menuding
AS, beberapa dari kita malahan menanyakan kredibilitas Amien yang membongkar
intervensi AS. Sungguh aneh bin ajaib.

Di bawah ini saya sampaikan berita dari Berpolitik.com


Jeffrey Anjasmara

'-----------------------------------
Mar'ie Mencoba Membersihkan Diri, Alwi Shihab Disebut  "Calo"
Kepentingan AS

Kamis, 04 Nopember 1999, @14:35 WIB

Geger seputar tekanan Kedubes AS kepada Menkeu membawa dampak yang
semakin luas meskipun belum muncul ke atas permukaan lanskap politik di
tanah air.
Sejumlah sumber yang dimintai komentar oleh BerPolitik.com mengatakan,
kasus ini menunjukkan dua hal: Mar'ie berkepentingan terhadap BPPN dan Alwi
Shihab telah menjalankan hari-hari pertamanya sebagai Menlu dengan
memposisikan dirinya sebagai "calo" kepentingan AS.

Setelah Amien pernyataan Amien mengenai sikap tidak patut Dubes AS
kepada Menkeu terus bergulir, Mar'ie Muhammad dan Alwi Shihab sibuk
mengklarifikasikan dan membantah adanya tekanan itu. Bantahan mereka
kini mulai terkuak kebohongannya. Seperti bantahan Alwi bahwa dirinya sedang
shalat saat terjadi pembicaraan antara Dubes AS dan Menkeu, ternyata menurut
Bambang Sudibyo, sebagaimana dituturkan orang dekatnya, Alwi dan Mar'ie
sedang berada di tempat saat terjadi pembicaraan yang panas itu.

Sebenarnya ada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu, mengapa Menkeu
harus menghadap Dubes AS, mengapa Alwi Shihab harus menjadi mediator, dan
mengapa pertemuannya harus di kantor Mar'ie?

Menurut sumber BerPolitik.com, pertemuan itu malah sedianya akan
dilakukan di Kedubes AS. Atas saran Fuad Bawazier, akhirnya Bambang Sudibyo
menolak mengadakan pertemuan di Kedubes. Menurut sumber itu, Fuad mengatakan
kepada Bambang Sudibyo bahwa semestinya Dubes AS yang menghadap Menteri,
bukan Menteri menghadap Dubes AS.

Setelah Bambang menolak bertemu di Kedubes AS itulah kemudian muncul
tawaran untuk mengadakan pertemuan di kantor Mar'ie Muhammad, kantor KKI, di
Jl. Brawijaya.

Menurut sumber itu, yang dibawa menghadap Dubes AS oleh Alwi Shihab
ternyata bukan hanya Bambang Sudibyo, tetapi ada beberapa menteri lainnya.
Hal inilah yang kini sedang dipertanyakan oleh banyak pihak. Alwi dianggap
sudah melanggar prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Pertanyaan mengapa Alwi sebagai menlu membawa sejumlah menteri menghadap
Dubes AS nampaknya perlu segera dijelaskan oleh Alwi sendiri.

Mengenai pertemuan di KKI, kantor Mar'ie, sumber BerPolitik.com
mengatakan, dalam hal BPPN Mar'ie memang berkepentingan. Sebab, berbagai
kejanggalan yang ada di BPPN berpangkal dari Keppres No 26/1998 tanggal 26
Januari 1998 yang diusulkan oleh dirinya kepada presiden berkuasa kala itu,
Soeharto.

Di samping itu, sebagai Ketua IRC, komite yang bertugas melakukan review
atas kerja-kerja BPPN, Mar'ie bisa dianggap gagal kalau kemudian
"borok-borok"

BPPN dibuka oleh kepalanya yang baru. Oleh karena itu, Mar'ie pun
berkepentingan atas tidak digantinya Glenn Yusuf.***


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke