Sistem pilihan berganda bukanlah opsi terbaik dalam pengukuran
kecerdasan. Beberapa model yang populer selama ini ternyata memperbesar
kemungkinan peserta untuk menebak kalau belum bisa dikatakan mirip teka-teki
silang.
     Jadi peserta yang tidak belajar sama sekali pun berpeluang memperoleh
nilai. Terlebih kalau banyak kalimat soalnya yang dilihat dari logika
rata-rata para peserta memudahkannya untuk dijawab. Siapa pun cenderung akan
menjatuhkan pilihannya pada "c" untuk soal "IBU BUDI BERNAMA a. HASAN ; b.
GATOT ; c. HALIMAH ; d. AGUS ; e. AMIR" meskipun tidak pernah mempelajarinya
sedikit.
     Memang jawabannya betul serta memperoleg legitimasi penilaian. Tetapi
apakah sudah menggambarkan pemahaman secara tuntas tentang permasalahan
BUDI? Jelas tidak. Soalnya kalau dilarikan ke dalam bentuk essai belum tentu
bisa dijawab. Sehingga ketika sudah terjun ke dalam kehidupan masyarakat
akan mengalami kesulitan kalau ditanyai seputar BUDI.
     Mengingat hakikat pokok misi ujian di sekolah adalah mengukur kemampuan
terdidik merasakan pelajaran sebagai yang terhubungkan dengan realitas
kehidupan, seyogyanyalah bentuk soal pun diciptakan sedemikirna rupa, agar
menggiring mereka ke arah sana.
     Sistim pilihan berganda yang selama puluhan tahun terus dipertahankan
demi kepraktisan ternyata telah menimbulkan konsekwensi berupa tidak siap
atau kurang fleksibelnya para alumnus untuk menerapkan ilmunya ke dalam
jenis pekerjaan. Mereka mengalami kesulitan untuk melakukan "kreativitas dan
implementasi" yang bernilai tambah.
     Bagaimana pun, sistem pilihan berganda cenderung membuat terdidik malas
untuk berpikir, berkreasi, sampai menganalisa. Karena apa yang akan
dilakukan, toh yang dipancing hanya menentukan satu dari sekian pilihan yang
sudah tertulis.


Salam,


Nasrullah Idris

Kirim email ke