>Diwaktu yang lalu, Indonesia sering dikecam oleh berbagai pihak di AS
>berkaitan dengan pelanggaran HAM atau Timtim. Walaupun masih banyak
>pekerjaan rumah yang harus kita lakukan berkaitan dengan hal-hal itu,
>namun "Indonesia Baru" sekarang sudah jauh berubah dan lebih baik
>daripada sebelumnya. Sudah saatnya kita "strike back" ke berbagai pihak
>di AS itu. Sudah saatnya pula Permias dan masyarakat Indonesia di AS
>"mengarahkan" mata perjuangannya ke pihak AS, disamping terus bersikap
>"correct" terhadap KBRI/KJRI. Mari kita kampanyekan di seluruh AS bahwa
>Indonesia sekarang adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia,
>yang siap membangun kembali ekonominya bebas dari KKN.
>
>Untuk tahap pertama, mungkin sesama anggota Permias dapat membahas
>hal-hal seperti kegiatan apa yang dapat dilakukan Permias untuk dapat
>ikut memperbaiki citra Indonesia di AS yg rusak selama ini. Program apa
>yang perlu dilakukan Permias dalam membantu meyakinkan investor dan
>pengusaha AS untuk segera kembali masuk ke Indonesia, dsb.
>

Saya tertarik membaca tulisan kerjasama Permias dan KBRI ini.

Posisi Indonesia memang agak sulit, soalnya sampai sekarang negara kita
dianggap sebagai negara 'pariah' bukan 'victim.' Agak sulit mendapatkan
simpati untuk negara besar seperti kita atau RRC (dibandingkan dengan
Palestina) dan juga karena status kita yang sering kali dianggap sebagai
agressor dengan petualangan kita di Aceh dan Timor Timur. Mengenai Aceh,
kita bisa argue tentang sejarah Aceh yang sama-sama menentang Belanda
atau pernyataan rakyat Aceh untuk bergabung dengan Indonesia di tahun

1945. Namun, tindak tanduk 'human right abuses' yang ditodongkan di Aceh
dan juga beberapa versi sejarah yang digembar gemborkan media massa di
US tidak menolong kita dalam memberikan legitimasi Indonesia di Aceh.

Jika kita mau 'strike back' ke berbagai pihak mengenai Indonesia, kita harus
'menyerang'-nya bukan hanya dari satu arah saja. Tapi juga harus dari beberapa
arah dan sekaligus perlu juga konsolidasi masyarakat.

Untuk membereskan citra Indonesia di mata internasional, ide kampanye
memang bisa merupakan salah satu 'arah penyerangan,' tapi sejauh mana
dan apa jenisnya, itu yang masih dipertanyakan. Lagipula, kampanye sendiri
tak akan efektif kalau tak dibarengi oleh gerakan lain dan juga jikalau tak
ada
wadah kerjasama seluruh masyarakat Indonesia di Amerika Serikat. Saya
rasa sudah tak perlu disangkal bahwa masyarakat Indonesia di US sering kali
kurang bersatu dan kebanyakan berkelompok; kecuali untuk beberapa kasus
dimana orang Indonesianya memang sangat sedikit. Lagipula, setiap gerakan
Indonesia sering kali sporadik tanpa dibarengi kebersamaan. Belum lagi
kurangnya
kesadaran politik masyarakat. Sering kali tujuan orang Indonesia yang di US
hanya untuk belajar dan bekerja. Titik. Politik merupakan barang haram
karena terlalu radikal artinya 'cekal,' dan lagipula tak adanya 'benefit'
tak banyak meningkatkan semangat. Aversi kepada politik tak perlu
lagi disangkal karena merupakan salah satu dampak Orde Baru.

Pemilu kemarin dan kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini
juga bukan merupakan pendorong bagi massa Indonesia di US untuk lebih

berminat politik, bahkan saya kuatir bahwa pemilu kemarin agak membuat
massa Indonesia di US terfragmentasi. Seperti kita lihat di milis ini,
keributan
antara yang Pro VS Anti Mega sudah merupakan makanan sehari-hari, belum
lagi keributan yang menyangkut agama. Setiap kali ada kasus gereja atau
mesjid dibakar, pasti terjadi teriakan pro atau kontra, dan terjadi kasus
saling
menyalahkan. Setiap kali Mega atau Gus Dur terselandung, pasti terjadi
keributan yang tak diwarnai rasa kritis, namun penuh emosi ditambah lagi
teriakan 'anti Islam' atau 'anti Kristen' dsb. Sikap agamais ini terus terang
tidak akan menarik hati orang-orang Indonesia di US apalagi orang-orang
di US yang mau kita pengaruhi. Bagaimana bisa mempengaruhi orang-orang
US bahwa Indonesia sudah 'berubah' kalau setiap kali yang mereka baca
adalah gereja dibakar atau keributan pro/kontra satu partai politik?

Terkadang saya sering bertanya-tanya: apa tujuan seseorang hanya menulis '
ini si goblok' atau 'itu si pembual' tanpa ada tanggapan dari dia yang
sifatnya
memberikan kritik membangun. Tulisan seperti dari Mme. Mardhika, M. Jeffrey
atau M. Irwan atau M. Okki dan lain-lain justru lebih menyenangkan untuk
dibaca,
karena walaupun sering kali idenya itu super kontroversial, tapi at least
ada usaha
untuk memberikan masukan kepada satu masalah. Jadi tak menyatakan 'kalau
saya bilang salah ya salah,' atau 'anti Islam, ya,' tapi diwarnai oleh
argumen yang
mendukung fakta-faktanya. Argumen yang super emosional justru membuat orang-
orang lain menjadi malas berpendapat dalam politik, karena kesannya ide
mereka
tidak ditanggapi serius, tapi asal-asalan atau emosional atau lebih parah
lagi seperti
berbicara dengan tembok. Yang enak untuk diterima adalah fakta yang mendukung
argumen, bukan emosi yang mendukung fakta.

Kembali ke permasalahan semula, jika kita sudah berhasil mempersatukan
massa Indonesia di US, langkah berikutnya adalah membentuk Special Interest
Group. Apa itu SIG? Ini adalah kelompok massa Indo yang dibiayai oleh orang-
orang Indonesia sendiri yang gunanya untuk melobby congress US. Sampai
sekarang, congress US hanya diwarnai oleh Lobby dari 'Free Timor' dan
pemimpin tertingginya 'Yang Mulia Bapak Menteri Luar Negeri Yang Terhormat
Ramos Horta Yang Tak Bisa Dibantah Karena Menteri Luar Negeri Termuda di
Dunia dan Korban Nomor Satu Indonesia Serta Pemenang Hadiah Nobel dan
Didukung Penuh Oleh Pemerintah Portugal Yang Memikirkan Rakyat Timornya.'
Dengan lobby seperti itu, siapa yang tidak terpengaruh? Karena congress US
hanya diwarnai oleh satu pihak ini saja, serta karena lobby ini sangat dekat
dengan media massa, karena itu tak mudah bagi Indonesia untuk memulihkan
reputasinya. Tanpa lobby seperti ini juga, apakah US akan memberikan
bantuan kepada Israel atau Taiwan? Karena itu Indonesia perlu juga membentuk
SIG ini dan membuat access ke media massa sehingga kita bisa memberikan
versi yang merupakan versi Indonesia. SIG ini perlu terkoordinir dengan
konsulat/
kedubes sehingga ada koordinasi tentang kegiatan ataupun penerangan kepada
publik. Tapi SIG ini BUKAN 'antek' konsulat/kedubes, melainkan dianggotai dan
diurusi oleh orang-orang Indonesia di US baik mahasiswa ataupun expatriat.
Konjen atau kedubes hanya bersifat sebagai penasihat yang memberikan informasi
tentang posisi pemerintah Indonesia. Di SIG ini juga tak boleh ada intrik
yang
bersifat SARA atau hanya memberikan penerangan yang memihak. SIG perlu
objektif kepada fakta, tapi subjektif karena pro Indonesia.

Akhirnya, yang paling terutama yang bisa dilakukan untuk membantu citra
Indonesia
di internasional adalah reformasi Indonesia sendiri. Jika Indonesia mau benar-
benar mendirikan negara hukum tanpa 'politik Byzantium,' serta kepastian
hukum yang benar-benar adil, saya rasa investor akan kembali ke Indonesia.
Pemberantasan KKN, penyederhanaan birokrasi dan insentif serta kepastian
politik juga sangat membantu. Itu adalah urusan pemerintah, tapi untuk massa
Indonesia di US, yang sangat diperlukan adalah nalar yang didukung logika
serta
usaha untuk membersatukan massa yang tak berdasarkan SARA.



YS

Kirim email ke