Sebetulnya saya tidak hendak dan tidak dalam posisi yg cukup untuk menerangkan apa itu federasi. Cuman saya dari dulu sudah anti konsep federasi yang banyak digemborkan oleh Christianto Wibisono dan akhirnya di-echo-in oleh Amien Rais. Gara-gara Amien ikutan ngomong tanpa konsep jelas made in Christ inilah yg membuat saya akhirnya mencoblos PKB. Padahal saya lagi kesal-kesalnya dengan Mbah Gus Dur yg sukanya demenan sama Mbakyu Mega. Yah, pandangan saya ini sudah sering saya tulis sih. Bukannya apa-apa, dengan kondisi yang masih bersuasana sukuis, dan berbagai pertikaian etnis yg muncul, maka konsep federasi jelas harus out dari pemikiran. Dasarnya belum cukup kuat untuk membangun ikatan antar state. Pada saat konflik Timtim mengemuka, media barat (CNN atau ABCNews, antara dua itulah) menulis bahwa konflik antar etnik di Indonesia tidak separah di Yugoslavia justru karena wujud dari wilayahnya yg berpulau-pulau. Di lain pihak saya berpikir memang konflik secara nyata dapat lebih teredam, tetapi ikatan sebagai sesama bangsa Indonesia juga menjadi rentan oleh gosokan. Si Abang Buyung Nasution menyatakan bahwa konsep federalisme harus diterapkan, tetapi penerapannya tidak boleh seketika, tetapi berjangka dari 5 sampai 10 tahun. Nah, sebetulnya kan sama. Saya bilang saat ini konsep federasi tidak aplicable, dan Buyung bilang cocoknya 10 tahun lagi. Bedanya saya mahasiswa miskin, Buyung biarpun katanya ditekan Suharto masih hidup kayak pangeran. Yang jadi masalah, terlalu banyak elit politik yg lebih senang mengeluarkan ucapan yg BERNILAI JUAL, khususnya ke koran-koran. Mereka menyatakan bentuk federal harus diterapkan untuk mencegah disintegrasi, tetapi mereka menabung statement lanjutan, bahwa bentuk itu tidak cocok untuk saat ini. Mereka justru WAJIB untuk menyampaikan statement yg mereka sembunyikan itu. Mengapa? Karena mahasiswa-mahasiswa itu berpikir sangat pragmatis. Begitu sering mendengar konsep federalisme dikomentarin bagus, langsung mintanya saat ini juga. Ini mestinya yg harus disadari oleh para politisi yg hobi mengumbar statement hanya berujud headline doang. Isinya sih kapan-kapan saja disampaikannya. Kalau bisa disampaikannya pas ada seminar biar ada/dapat honornya. Nah, kan repot. Headlinenya sudah dijual eceran, body beritanya dijual secara khusus. Mestinya mereka pantas juga disebut sebagai provokator. Berhubung yg sekarang ini hobi dengan issue federasi adalah mahasiswa Sulsel, saya jelas kesalnya dilontarkan ke sana. Masak dilontarkan ke nona di sebelah saya ini? Kekesalan saya karena tuntutan itu tidak didasari oleh pikiran yg jernih. Apakah yg disebut dengan bentuk federasi itu yg model Malaysia? Atau yang model AS? Berhubung yg model Malaysia jelas tidak cocok (karena didasarkan oleh kesultanan), maka yg jadi patokan pasti yg model Amerika. Yang repot, desentralisasi yg saat ini sedang dilaksanakan sebetulnya sudah seperti bentuk federasi itu sendiri. Gubernur nanti dipilih dari bawah, bupati juga demikian. Kalau camat sama kades sih dari dulu juga urusan daerah. Masalah pendapatan juga sudah didesentralisasi. Masalah pembangunan? Bappenas sekarang hanya bertugas membuat perencanaan global saja. Semua urusan sudah urusan Bappeda. Pembangunan fisik juga ditangani Dinas PU propinsi. Lalu apa lagi yg dimaui oleh mahasiswa Sulsel? Merdeka? Eh, yg dulu ngojok-ngojokin dan maju paling depan waktu peristiwa 10 November di Surabaya itu siapa kalau bukan orang-orang pergerakan yg juga banyak dimotori oleh orang sulsel dan sulut? Itu 300,000 orang yg mati. Inilah kalau perasaan emosi akibat Habibie tidak terpilih jadi presiden. Harusnya ditanya dulu dong, Habibie selama 1.5 tahun sudah ngasih apa ke Sulsel? Yang ada orang Sulsel diusirin dari Timtim gara-gara Habibie. Harusnya mahasiswa Sulsel justru menggantung Habibie di pantai Losari dong. Daripada ribut mending bikin kapal nelayan yg gede buat cari ikan deh. Malu dong katanya raja lautan tapi sekarang cuma dikencingi sama nelayan taiwan baik yg pencuri maupun yg legal. Sebelum saya tutup omelan panjang pendek saya, saya mau tanya apa saudara-saudara ada yg melihat Embak Mega? Diserahi tugas ngurusin KTI kok malah bobo siang. Bangunin dong, bilangin dia sekarang jabatannya wapres. Bukan lagi tukang kebun. Mestinya rajin dikit gitu. Masak bangun tidur, bagi-bagi tanda jasa, nowel-nowel taruna, lalu ngemil, lalu tidur siang. Kapan kurusnya mbak. Pantas awet endut. Jeffrey Anjasmara ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
