Lho, kerja paksa oleh Interfet? Apa pula itu? Katanya dikasih merdeka kok
malah disuruh kerja paksa tentara Aussie? Ada komentar males segala? Kok
pakai isu perkosaan segala? Bagaimana sih Mayjen Cockroach itu? Bosan ayam
lehorn lalu mau ayam kampung ya? Wah, pagar makan tanaman tuh....:)

Si Mario Carascalao si pembelot kelas wahid kenapa pula teriak-teriak bahwa
UN via Interfet dan Untaet disebut mempraktekkan neokolonialisme? Marah bin
kecewa nggak dikasih jabatan dalam pemerintahan baru Timtim yang boneka
Aussie itu ya? Kacian....:) Makanya jadi orang jangan bermuka dua. Dijadiin
gubernur bukannya membangun Timtim malahan bermegah ria di Jakarta. Habis
itu sebagai ketua DPA malah ngabur ke Makao. Mario...mario.....:) Nasibmu
nak....:) Orang Portugis ngaku orang Timtim. Wah...wah....:)


Jeffrey Anjasmara

-----------------------------------------------
* TNI HARUS HENTIKAN INTIMDASI TERHADAP PENGUNGSI TIMTIM
Intro : Untuk mempercepat pemulangan pengungsi Timtim yang masih berada
di NTT, pemerintah Indonesia, terutama TNI, harus menghentikan
intimidasi dan penyebarluasan informasi yang menyesatkan tentang situasi
di Timtim. Itu lebih effektif ketimbang imbauan Duta Besar Amerika
Serikat untuk PBB, Richard Holbrooke kepada pemerintah Indonesia agar
mempercepat pemulangan pengungsi Timtim. Demikian Sylvia Fangidae dari
Posko Penanggulangan Bencana di Kupang, NTT.

SYLVIA FANGIDAE [SF]: Kalau sepengamatan saya dan teman-teman yang
bekerja untuk pengungsi, itu secara formal pemerintah Indonesia memang
malah mendesak pengungsi TimTim untuk segera pulang. Terutama yang bukan
keluarga tentara. Tetapi di lapangan, kontrol dan intimidasi dari milisi
pro-integrasi masih cukup kuat, terutama di wilayah-wilayah perbatasan yang
berbatasan langsung dengan TimTim dan di kamp-kamp pengungsian yang
mayoritas keluarga tentara dan keluarga milisi. Jadi walaupun secara formal
mereka dijamin untuk boleh kembali, kalau mau, tapi para pengungsi sendiri
takut untuk menyatakan keinginan untuk kembali kepada UNHCR atau kepada
posko Satlak di tempat-tempat pengungsian itu.

Karena kalau mereka menyatakan keinginan untuk kembali, mereka langsung
terancam. Dan sampai dua hari lalu pun masih ada pembunuhan dengan motif
seperti itu di Kabupaten Belu. Jadi memang mendesak pemerintah Indonesia
untuk memberikan ijin formal, itu saya rasa tidak terlalu efektif. Yang
lebih efektif adalah mendesak mungkin TNI, dan pemerintah Indonesia untuk
tidak mengizinkan milisi pro-integrasi untuk memakai wilayah Indonesia
sebagai basis kegiatan mereka. Dan dengan demikian de facto mereka menguasai
pengungsi-pengungsi yang ada di wilayah NTT.

Dan juga kami dari lapangan itu mendapatkan banyak sekali cerita dari
orang-orang yang katanya baru kembali dari TimTim, terutama dari Dili.
Bahwa di sana terjadi pemisahan kamp-kamp. Perempuan muda, satu kamp
sendiri, lalu terjadi sejenis kerja paksa di mana katanya Interfet
sangat tidak berperi kemanusiaan. Memaksa pemuda-pemuda TimTim yang
masih ada di TimTim atau yang baru kembali dari NTT untuk kerja-kerja
kasar melewati batas-batas kemanusiaan.

Tapi yah, berita-berita ini ada beberapa verifikasi yang kami lakukan
juga dengan teman-teman yang dari Dili atau yang masih berad di Dili dan
banyak yang membantah. Terutama pemisahan kamp, pamisahan yang perempuan
katanya dipisah sendiri untuk di 'rape' (perkosa, Red.) oleh tentara
Interfet. Tapi umumnya kalau dari informan-informan yang kami percaya,
katanya itu tidak terjadi. Sementara kalau kerja paksa, yah saya tidak tahu
apa-apa. Apakah ini dibesar-besarkan untuk kepentingan pro-integrasi atau
memang ada kebetulan orang-orang yang kembali lagi ke NTT, karena dibilang
harus kerja paksa di sana. Sifatnya 'personal'
(pribadi, Red.) atau mungkin malas, atau saya tidak tahu apa. Saya lebih
cenderung bahwa ini ada satu pola untuk memanipulasi informasi tentang
kondisi TimTim.

RADIO NEDERLAND [RN]: Selain informasi yang menyesatkan, informasi yang
salah mengenai situasi di TimTim, apakah pihak militer Indonesia juga
memberikan pengamanan kepada pengungsi TimTim yang mau kembali?

SF: Pengawalan selalu ada. Penghadangan-penghadangan dalam proses
pemulangan itu relatif tidak ada. Tapi yang menjadi masalah adalah
intimidasi untuk mereka menyampaikan kemauan untuk pulang. Sekarang
masih tertinggal di wilayah Belu. Belu itu kabupaten yang berbatasan
langsung dengan TimTim, masih sekitar 100.000-an orang. Di Kupang masih ada
20.000-an orang. Dan itu memang di wilayah-wilayah yang konsentrasi
milisinya tinggi. Jadi memang intimidasi untuk pengungsi supaya tidak pulang
itu juga tinggi.

RN: Bagaimana situasi dan kondisi para pengungsi di Timor Timur yang
saat ini masih berada di kamp-kamp NTT itu?

SF: Menurut penilaian saya, sudah banyak sekali "emergency released
agency" (organisasi-organisasi pemberi bantuan, Red.) yang masuk. Tapi
sekarang ini sudah masuk musim hujan, dan musim hujan berarti semua
perlindungan yang di musim panas cukup, sudah tidak cukup. Itu seperti
tempat penampungan darurat, dan sumber air yang bersih, itu biasanya di awal
musim hujan kan menjadi keruh. Kita lihat yang paling murni dalam penanganan
kali ini adalah masalah air dan sanitasi. Kalau makanan secara umum cukup.
Karena WFP bekerja melalui berbagai lembaga untuk menyalurkan beras. Begitu
juga kebutuhan-kebutuhan lain. Tetapi sarana air bersih dan kesehatan,
relatif kurang. Karena 'coverage' (besarnya, Red.) wilayahnya itu terlalu
luas.

-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke