Konstelasi politik Indonesia mencapai babak baru. Saat ini saya jadi bingung
dalam bersikap.

Tur keliling dunia dari Gus Dur yang tadinya saya ikut menentang rupanya
memberikan hasil. Keempat jempol saya akan saya acungkan kepada Gus Dur.
Kenapa empat? Karena yang dua buah yaitu jempol tangan saya berikan pada Gus
Dur untuk keberhasilan politik LN-nya. Sementara itu, dua jempol kaki saya
yang bau juga saya kasihkan karena Gus Dur masih saja bikin kisruh
kabinetnya sendiri.

Kesan bahwa Gus Dur berusaha membersihkan kabinet demi nyamannya kursi ligna
kok agak mengemuka ya? Setelah membersihkan Hamzah Haz, entah siapa lagi
korbannya.

Yang makin menarik adalah peran Marjuki Darusman si tokoh Brutus. Saya
katakan Brutus karena Marjuki ini dulu sangat besar peranannya dalam
menggusur tuannya Habibie. Marjuki ini juga sudah besar peran dan
sumbangsihnya untuk menjadi satelit PDIP di dalam tubuh Golkar. Tugas
terbaru dari barisan PDIP adalah pembersihan komponen poros tengah di dalam
pemerintahan. Entah siapa lagi korban black magic dari Marjuki ini.

Sekedar ngomong-ngomong nih, apakah Marjuki masih manut dengan Akbar
Tanjung? Jelas tidak karena memang Marjuki ini sudah merasa punya power.
Apalagi kalau sekarang dimana dia sudah menjadi algojo. Baik untuk
kepentingan Gus Dur, PDIP, atau untuk kepentingan sendiri.

Terus terang, dengan melihat tampangnya saja, saya sudah gerah karena serasa
melihat golok tajam. Kalau saya jadi pejabat, mata saya tidak akan pernah
lepas dari matanya. Takut menikam dari belakang sih. Entah kenapa kesan
culas kok nampak ya. Kesan ini sudah lama saya rasakan.

Yang rada mengambang buat saya adalah Amien ini. Dengan gempuran kanan kiri
dari PDIP dan Gus Dur, harusnya Amien memperkuat posisi poros tengah bukan
dengan memakai issue federasi yang justru hanya populer di kalangan
minoritas, yaitu kelompok yang ingin mencari peluang jabatan baru, atau
kelompok yang dibohongi oleh kelompok pertama tadi. Amien juga mulai harus
menata mulutnya. Kalau tidak bisa menata mulutnya mending jadi anggota milis
saja yang memang tidak punya kriteria harus mampu menata mulut. Jadi boleh
ngomong apa saja deh.


Jeffrey Anjasmara


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke