At 05:42 PM 12/4/99 -0800, you wrote:
>Bangsa Indonesia sendiri sudah terpecah2 tanpa kita semua sadari, kebanggaan
>suku dan ngomong bahasa daerah saja sudah cukup untuk bikin kita terpecah.
>Engga' usah kumpul2 sama bule2 yang semuanya beda dengan kita... ngumpul2 sama
>orang2 Indonesia aja milih2...,yang Jawa main sama yang Jawa, yang batak main
>sama yang batak. Kenapa??? karena rasa sedaerah/sekota/seasal itu yang bikin
>"confortable". Kenapa bikin confortable? karena sekota, sudah pasti lebih
>asyik ngomongin kotanya, bisa 1 bahasa daerah, waaaaahhh lebih ngerasa
>saudara... Kalau kita engga' ngerti bahasa daerah kita sendiri, orang malah
>bilang "kacang lupa kulitnya". Bullshit2 yang kaya gini yang harus dimatikan
>dari orang2 Indonesia. Dan kalau bilang "ach engga'gue gaul sama siapa saja
>kok", iya ada yang beneran gitu, ada juga yang asal dasar terpaksa, karena
>engga' ada temen aja, begitu ketemu yang sesuku....wah langsung bubar...:)).
>Dan yang kaya' gini berlaku untuk semua orang engga' cina, engga' melayu-nya.
>Yang cina juga gitu, apalagi cina jawa, itu paling gila, soalnya mereka hanya
>ngerti bahasa tionghoa atau bahasa jawa, jadi mau bergaulnya juga cuma sama
>orang2 cina, terutama cina (jawa) atau melayu (jawa), kalau sama yang lain,
>engga' mau...
>ada yang mau counter argument?? saya rasa engga'...:)

kalau mau mendukung boleh nggak ? :-)

menurut saya ini seperti buah simalakama, yang mau tidak mau harus pilih
salah satu (karena cara yang salah tentunya) padahal bisa kita 'makan'
dua2nya kalau mau berpikir sedikit...

1. konsep yang didapat dari orang tua adalah : pertahankan adat, junjung
tinggi asal daerah dan nenek moyang masing2... (mulia)

2. menyingkirkan segala perbedaan, bersatu sebagai bangsa indonesia yang
tak perduli bahwa kita berbeda, bhinneka tunggal ika, maju tak gentar
menghadapi dunia... (mulia juga)

tapi karena bangsa indonesia bangsa yang luhur budi dan menjunjung tinggi
nenek moyang, tapi dengan mental yang terjajah, implementasinya adalah :

1. primordialisme, rasa kesukuan yang tinggi, diskriminasi (baik S, A, R
maupun A) yang gila2an, pelaksanaan pesta adat yang berlebihan (boros
materi, buang2 uang, ini terutama pesta pernikahan), menghindari pernikahan
antar suku/ras, dan lain2..

2. dihindari, karena bisa mengganggu nomor 1, akibatnya indonesia sulit
maju, 200 juta lebih penduduk yang saya yakin minimal 5 % adalah bibit
unggul (itu aja udah berapa tuh, tidak usahlah kita bicara pembodohan
nasional 54 tahun...heheh..), jadi tidak pernah matang karena selalu
ditekan oleh 'kewajiban' nomor 1 di atas, yang nggak berani ditentang cuma
karena nggak ngerti prinsipnya *sebenarnya* apa. dan ketidakmengertian ini
sudah berlangsung sekian generasi, jadi memang butuh 'pemberontak' untuk
membongkarnya...

miskin kreatifitas, jadi teruskan saja apa yang selama ini dilakukan orang
tua kita, upacara sana dan upacara sini, tanpa ngerti itu maksudnya apa...
dan hasilnya bisa diduga, dari dulu orang indonesia ya begini terus, kalau
mau ngadu domba gampang, tinggal ungkit sedikit perbedaan salah satu unsur
sara, pasti langsung berantem, contoh paling gampang ya di milis permias
ini (contoh valid karena anggotanya supposedly terpelajar dan punya pikiran
terbuka), cukup senggol S, atau A, pasti sibuk adu pendapat tanpa hasil
yang jelas karena semua cuma mementingkan golongannya masing2. walaupun
begitu yang paling sering saya lihat sih adalah A yang terakhir
(antargolongan), coba aja inget jaman sidang umum kemarin, yang satu
nyenggol mega, yang sini nyenggol akbar tanjung, terus udah deh sibuk
belain jagoan masing2...  what a BIG BS ! (sesuai dengan subject nih)

hehe.... kita ini bodoh banget sih... ? mau aja terus2an diadu
begitu....  semua berasa paling bener, kritik sana kritik sini.... heh...
:-) terus lupa bahwa tujuan utama adalah bikin maju bangsa, bukan
membuktikan bahwa 'megawati emang nggak ngapa2in', 'amien rais harus turun'
dan lain2....  masa iya milis permias isinya juga cuma lawak seperti di
tanah air sana ? malu ah...


e r juni

Kirim email ke