Lumayan buat melihat bagaimana raksasa dunia hendak menggilas negara berkembang, sementara itu negara berkembang makin terpecah belah. '-------------------- >Date: Mon, 6 Dec 1999 17:31:29 +0100 > >Bisnis Indonesia Edisi : 05-DEC-1999 > >Ide 'gila' dua Bill di KTM WTO Seattle >Oleh Yosef Ardi > >SEATTLE (Bisnis): Ada dua Bill yang berpengaruh besar dalam pelaksanaan >Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-3 WTO di Seattle, AS pada 29 November-4 >Desember. >Pertama, Bill Clinton, presiden AS yang kemarin melakukan kunjungan resmi >ke Seattle, Washington. Kedua, Bill Gates, pemilik Microsoft Corp., yang >juga Co-chairman panitia sidang yang dihadiri delegasi 135 negara dan >sejumlah negara berstatus peninjau. >Kedua nama besar itu, masing-masing mewakili dua adidaya. Clinton membawa >agenda besar AS, sedangkan Gates merupakan personifikasi dari raksasa >bisnis global di bidang teknologi informasi. Keduanya sama-sama ingin >menjadikan WTO sebagai kuda tunggangan untuk semakin menguasai dunia. >Kedua Bill itu harus diakui membawa pengaruh besar bagi persidangan. >Macetnya sidang WTO selama dua hari pertama akibat demontrasi hebat (konon >yang terbesar dalam 40 tahun terakhir), mau tak mau membuat malu AS sebagai >tuan rumah. Walikota Seattle memberlakukan keadaan darurat di beberapa >bagian kota, dan gubernur negara bagian Washington meminta bantuan National >Guard untuk mengamankan sidang. >Clinton akhirnya tiba di Seattle dan menyelenggarakan jamuan makan siang >dengan para menteri yang hadir di sidang WTO di The Westin Hotel, dekat >dengan Washington Seattle Trade and Convention Center (WSTCC), tempat >sidang berlangsung. >USTR Charlene Barshefsky pun meminta maaf kepada delegasi. Tetapi tampaknya >Clinton sangat pandai memanfaatkan dua momentum itu untuk kedigdayaan AS >dan membantu Al Gore merebut kursi kepresidenan AS dalam Pemilu tahun >depan. >Desakan para demonstran agar WTO memperhatikan masalah buruh dan lingkungan >hidup, dua agenda yang ditentang sebagian besar anggota negara berkembang, >termasuk Indonesia, justru dijadikan Clinton sebagai alat perundingan, baik >untuk memenangkan persaingan di pasar ekspor, maupun memenangkan suara >kelompok LSM dan buruh untuk meloloskan kandidat dari Partai Demokrat. >Lima agenda >Hal itu tergambar dalam perubahan mendasar dalam agenda AS di WTO. Dalam >agenda sebelum pertemuan yaitu pada 13 Oktober 1999, Clinton mengumumkan >lima agenda penting yaitu liberalisasi sektor pertanian (penghapusan >subsidi ekspor, memangkas tarif, menghapus domestic support, dan membuka >akses pasar ke produk pertanian berbasis bioteknologi. >Pertanian ditetapkan sebagai agenda terpenting, yang diikuti empat agenda >lain yaitu liberalisasi perdagangan produk industri manufaktur dan jasa, >penetapan bebas pajak untuk e-commerce, membahas keterkaitan perdagangan >dengan buruh dan lingkungan hidup, serta memastikan WTO memberi manfaat >bagi negara berkembang. >Tetapi pada 30 November, persis di tengah aksi protes masif itu, Clinton >mengubah prioritas agenda yang dibahas di WTO. Dalam draft agenda AS di WTO >tertanggal 30 November, Clinton justru menempatkan masalah buruh dan >lingkungan sebagai agenda utama. >Tak heran bila sejumlah diplomat dari negara berkembang menilai Clinton >memang 'licik'. Agenda pada Oktober itu cuma untuk menarik hati negara >berkembang, tetapi setelah delegasi 134 negara tiba di Seattle, AS >menggunakan momentum protes LSM untuk mengubah agendanya. >Tentu saja agenda AS itu bisa masuk kategori 'gila' bagi negara berkembang. >Bagaimana mungkin membuat standard buruh yang sama untuk AS dan Indonesia? >Dubes RI untuk AS Dorodjatun Kuntjoro-jakti mengatakan sikap AS dan negara >berkembang lain yang menghendaki sebuah putaran baru WTO yang komprehensif >dengan batas waktu tiga tahun, sulit diterima. >Dia bahkan menyebutkan dalam soal nama putaran perundingan itu saja, masih >ada perebutan. Eropa menghendaki dinamakan Millenium Round, AS meminta >disebut Seattle Round. "Jadi sudah seperti olimpiade saja," ujarnya. >Menghadapi siasat AS (dan negara maju lainnya), memang tidak ada pilihan >bagi negara berkembang untuk menentang. Cuma sejumlah negara berkembang, >seperti Indonesia atau Thailand, yang telah terikat kakinya dengan IMF, >tidak bisa mengambil sikap keras. >Sebab kalau di WTO mereka membandel, negara maju bisa menggarap mereka >melalui lembaga multilateral lain seperti IMF atau Bank Dunia. >Hal itu sudah terbukti dalam pelaksanaan liberalisasi ekonomi di Indonesia >yang ternyata jauh lebih cepat dari komitmennya di negara maju. >Beruntunglah ada klausul single undertaking dan pengambilan keputusan >dengan konsensus, tanpa voting. Jika ada satu negara saja yang ngotot untuk >tidak setuju, maka tidak ada perundingan. >E-commerce >Bill yang lain juga tak kalah siasat. Sebagai sponsor sidang, Gates bahkan >telah berhasil memasukkan agenda e-commerce dalam bahan yang diperjuangkan >AS di Seattle. Gates menghendaki e-commerce yang kini duty-free dijadikan >kesepakatan multilateral dan bersifat indefinetely. >Apa sesungguhnya yang ada di benak Gates sehingga AS begitu ngotot agar >untuk selanjutnya, duty free itu dipertahankan? >Dubes RI untuk WTO Halida Miljani mengatakan pasti ada sesuatu di benak >Gates. >"Apa persisnya, para ahli Indonesia harus mempelajarinya. Karena itu, >Indonesia meminta soal bebas pajak itu hanya diberlakukan sementara, sampai >kita memahami dengan persis, apa dampaknya di masa depan," ujarnya jujur. >Tetapi sesungguhnya mudah dipahami manfaat ekonomi bagi Microsoft dan >raksasa TI lainnya yang bergerak di produksi piranti lunak. >Saat ini, transaksi dan pengiriman paket program komputer bisa dilakukan >lewat Internet (e-commerce). Padahal nilai bisnis ini bakal melampaui >triliunan dolar di abad mendatang. Kita semua tahu, AS merupakan jawara di >bisnis TI dunia. >Tak heran bila pada 1 Desember, Gates bahkan mengumumkan rencana Microsoft >mengakuisisi negara Amerika Serikat. "Ini langkah yang logis dan positif >bagi semua orang," ujar Gates usai bertemu Clinton di Gedung Putih. >Tawaran Gates itu ternyata disambut positif Clinton dengan menyatakan >bersedia menjadi wakil presiden di bawah Microsoft yang bertugas mengelola >negara AS. >Untuk itu kabarnya Clinton akan menerima gaji 10 kali lipat dari gaji yang >sekarang diterimanya sebagai presiden AS yaitu US$200.000 per tahun. Tentu >saja pertemuan kedua Bill dengan rencana gila itu mencerminkan betapa >keduanya memiliki agenda yang sama di Seattle. Tetapi berbagai temuan >mutakhir lahir dari gagasan yang dianggap gila? >Y Penulis adalah wartawan Bisnis Indonesia. >�COPYRIGHT 1998 BISNIS INDONESIA >PT Jurnalindo Aksara Grafika > ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
