Nah, staf UNTAET mau apa lagi? Mereka belum bekerja sudah mau minta berlibur? Mereka mau bekerja membantu Timtim atau sekedar melepas kejenuhan di barak-barak Australia yang tandus sana? Benar-benar apes karena melepas kejenuhan di tempat yang benar-benar salah. Sekarang belum menunjukkan hasil sama sekali sudah mau berlibur? Dasar hedonis tak tahu diri....:) Tugas UNTAET adalah membentuk pemerintahan resmi Timtim, baru bekerja dua bulan sudah kepayahan. Bagaimana kalau mereka disuruh bekerja di Timtim sambil dijadikan sasaran tembak Fretilin seperti jaman dulu? Pasti baru dua hari sudah berjingkat balik ke negerinya. Pasukan UNTAET dibiayai dengan dana PBB, artinya mereka makan uang negara-negara anggota termasuk di dalamnya uang NKRI juga. Bagaimana mungkin uang itu bukannya digunakan untuk membangun Timtim malah dipakai foya-foya. Membiarkan mereka pelesir melepas rasa penat akibat terlalu banyak duduk di kursi goyang di Dili artinya membiarkan korupsi uang dan waktu di tubuh UNTAET. Artinya kita membiarkan bule-bule keparat itu menggunakan uang RI untuk menginjak-injak harga diri orang NKRI juga. Menjadi anggota UNTAET adalah kemauan mereka sendiri. Tidak perduli dari Malaysia atau Jordan atau dari Australia, maka mereka sudah bersedia menanggung segala resiko, bahkan resiko mati. Kalau mau beristirahat, kenapa mereka tidak pulang ke negara masing-masing menemui keluarganya? Malaysia dengan Bali tidak punya perbedaan jarak yang mencolok. Australia juga lebih dekat. Ngapain? Ngapain UNTAET yg kebanyakan orang Aussie mau berlibur ke Bali instead of negarinya sendiri? Mau apa? Melacur? Main gelek? Mereka-mereka ini tidak akan membawa keuntungan ekonomi apapun untuk bidang pariwisata kecuali menumbuhkan pelacuran dan usaha miras dan madat. Contoh sudah banyak. Lihat perbatasan-perbatasan Thailand yg dulu dipenuhi tempat pelacuran dan bar-bar! Lihat kota-kota di dekat pangkalan Subic dan Clark di Philipina! Itu belum apa-apa. Ingat ibukota Bangkok dan Manila yang sempat dipenuhi kandang-kandang monyet. (Tak lupa ingat foto bar-bar yg mulai tumbuh di Dili). Kesalahan kedua negara yang sempat dikenal sebagai negara penghibur (penghalusan dari negara penuh pelacur) adalah membiarkan Thailand sebagai tempat beristirahat pasukan GI Joe jaman Vietnam, dan membiarkan pasukan yg sama pada jaman Subic dan Clark. Sampai saat ini Thailand belum mampu membersihkan praktek pelacuran dan image negerinya. Philipina memang tidak separah Thailand, tetapi citra wanita Philipina juga sudah telanjur rusak. Ingat pariwisata seks Jepang ke Philipina? Logikanya kalau tidak mau membiarkan bule tukang lacur Aussie ke Bali, tentunya tidak membolehkan teman Malaysia dan Jordan ikut-ikutan masuk dong. Masak gara-gara ingin mempersilakan Malaysia dan Jordan yg jumlahnya sedikit lalu membiarkan masuk begundal-begundal pasukan rahwana Aussie? Selain itu, justru resiko bahwa mereka mengembangkan intelejen dalam rangka mengobrak-abrik NKRI lebih besar. Habis ini mereka mau minta berlibur ke Aceh? Ke Amboina? Huh...benar-benar bule tak tahu diri.....:) Mohon rekan-rekan meneruskan posting ini ke si yahudi Alwi Shihab biar dia mau berpikir lebih panjang sedikit dibandingkan dengan jenggotnya itu. Katanya kiai kok mau membiarkan potensi maraknya pelacuran di negeri ini. Jeffrey Anjasmara '---------------------------------------------- Staf UNTAET Minta Kemudahan Berlibur di Bali Jakarta, Antara Pemerintah sementara PBB di Timtim (UNTAET) meminta ijin khusus kepada Pemerintah RI agar personil mereka, termasuk personil asal Australia, diberi fasilitas khusus untuk berlibur di Bali. "Dibicarakan tentang kemungkinan kalau bisa nantinya orang UNTAET, yang jumlahnya cukup besar itu, diijinkan ke Bali dengan fasilitas khusus," kata Menlu Alwi Shihab menjawab pertanyaan wartawan usai bertemu Presiden KH Abdurrahman Wahid di Bina Graha, Jakarta, Selasa. Menurut Menlu, keadaan di Timtim sangat "kering" sehingga mereka merasa perlu "berekreasi" ke Bali. Dalam kaitan itu juga UNTAET meminta agar dihidupkan lagi penerbangan reguler Denpasar-Dili. Ketika ditanya apakah ijin bagi staf UNTAET itu tidak akan menyakitkan perasaan hati masyarakat, setelah yang dilakukan Australia di Timtim karena sebagian besar anggota badan itu adalah warga Australia, Alwi mengatakan, "Ini 'kan baru permohonan, belum tentu 100 persen diterima, mungkin 50 persen, yah ... itu soal teknik." Menurut Alwi Shihab, pada dasarnya orang-orang yang ditugaskan PBB, yang ribuan itu tidak melulu orang Australia, tetapi ada juga orang Malaysia, Filipina, dan Yordania, yang perlu berlibur di Bali. Memang, kata Menlu, kalau dilihat perlakuan orang-orang Australia di Timtim saat menjalankan Misi PBB di Timtim (UNAMET), memang timbul pertanyaan itu. "Tentu kita merasa 'kok begitu. Tapi kita juga harus melihat orang Malaysia, orang Thailand, orang Yordan, ya ... orang-orang kawan kita semuanya," kata Menlu. Teman-teman Indonesia itu, ujar Menlu, jangan sampai mereka datang dengan harapan membantu lalu diperlakukan sama dengan yang bukan teman. "Tapi problemnya, kalau itu kebijakan diberikan kepada satu, tentunya akan berlaku untuk semuanya," kata Menlu yang bertemu Presiden guna melaporkan rencana perjalanannya ke Vatikan. Untuk memutuskan apakah ijin berlibur ke Bali itu diberikan atau tidak, menurut Menlu, Deplu dan departemen lainnya akan memutuskannya dalam waktu dekat. ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
