Dijalan - jalan dan daerah perumahan, sejak Ramadhan ini banyak muncul
spanduk - spanduk partai antara lain PAN, PK, dan PPP yang isinya mengajak
dan menghimbau untuk tidak berbuat maksiat, tidak berzinah, tidak berjudi,
tidak minum minuman keras, tidak mabuk, anti narkoba dll.

Dari partai besar seperti PDIP dan Golkar tidak terlihat satupun ajakan yang
sarat dengan pesan moral.

Eh ....  malah di Surabaya ada calon pemimpin yang punya moral koq ya bejat
amat, suka main perempuan dan mabuk malah dibenarkan.

Soe

===============================================
Komentar Asal Bunyi
Pengurus PDIP Diadukan Polisi
Reporter: Budi Sugiharto

detikcom - Surabaya, Sebanyak 10 orang yang tergabung dalam KOMPAK
mendatangi Polwiltabes Surabaya, Selasa (14/12/1999). Mereka melaporkan
wakil sekretaris PDIP Surabaya Yan Samuel Sinlay atas ucapannya yang
dianggap merusak citra Surabaya.

Samuel yang juga Ketua Komisi D DPRD KMS itu, beberapa waktu lalu
ketika dikonfirmasi pers soal pencalonan Sutikno (PDIP) sebagai
walikota Surabaya, ia membuat komentar yang mengejutkan. "Ini Surabaya
cak, kalau nggak suka minum, main cewek, bukan orang Surabaya," kata
Samuel dalam dialek Suroboyoan. Ia mengucapkan itu untuk "mendukung"
Sutikno yang diduga suka main perempuan dan minum-minuman keras.

Ternyata, ucapan Semi (panggilan Samuel) esoknya muncul di koran-koran
Surabaya. Tak pelak menimbulkan reaksi. Antara lain dari pemuda Ansor,
dari Paguyuban Tukang Becak, dan lain-lain. Dan, Semi masih membela
diri bahwa ucapan itu mengutip ucapan Roeslan Abdulgani (Cak Roes),
tokoh nasional yang asli Surabaya.

Rupanya bagi KOMPAK, Semi tak cukup didemo. Walau Semi sendiri sudah
menyatakan minta maaf, tapi KOMPAK memilih melaporkan yang bersangkutan
ke Polwil, Selasa (14/12/1999). Pengadukan KOMPAK (Komite Masyarakat
Penegak Kebenaran) yang dipimpin M Soleh Suaidy itu diterima Kapusdalop
Letkol Drs Endro Wardyo SH, sekitar pukul 11.00 WIB.

Selain melaporkan, KOMPAK juga menggelar spanduk KOMPAK. Menurut
mereka, pernytaaan Semi itu sama dengan menuduh masyarakat Surabaya
amoral. Hal itu membuat masyarakat dan pemimpin agama tersinggung.
"Pernyataan tersebut juga mencemarkan nama Cak Roes sebagai bapak orang
Surabaya. Kami menuntut Semi membuktikan ucapan Cak Roes," kata Suaidy.

http://www.detik.com/peristiwa/199912/19991214-111205

Kirim email ke