Republika Online edisi:
18 Dec 1999

Rubrik Hari Ini:
Indeks Lengkap
Berita Utama
Nasional
Ekonomi-Bisnis
Nusantara
Hiburan & TV
Opini
Iptek
Jabotabek
Internasional
Olahraga





Theo Syafei Dikabarkan jadi Calon Ketua Otorita Batam


SINGAPURA -- Keberadaan Otorita Batam di Riau kini santer disorot oleh
Pemerintah Pusat. Selain itu, di pulau tersebut berkembang pula isu Ketua
Otorita Batam (OB) Ismeth Abdullah bakal diganti oleh Mayjen (Purn) Theo
Syafei. Penggantian pejabat teras, menurut kalangan DPRD, harus melibatkan
DPRD dan Pemda.

Isu penggantian itu pun bergema di kalangan organisasi masyarakat (ormas)
yang mengikuti seminar 'Pemerintahan Indonesia Baru dan Peluang Bisnis di
Riau' di Singapura, Jumat (17/12). Usai seminar, sejumlah ormas seperti HMI
Cabang Batam, KAMI Cabang Batam dan Forum Komunikasi Pengusaha Kecil
Menengah Indonesia (FKPKMI) Batam secara tegas menolak munculnya nama Theo
Syafei sebagai Ketua Otorita Batam.

Penggantian secara mendadak, ungkap Ketua HMI Batam Lisa Fitriani kepada
wartawan, masih mengesankan Pusat melakukan intervensi. Padahal, kebijakan
yang menerapkan otonomi luas di daerah intinya tidak akan ada lagi berbagai
tekanan pusat karena daerah diberi wewenang menentukan kebijakan daerahnya.

Lisa juga melihat Theo adalah sosok militer yang dinilai tidak cocok
memimpin kawasan seperti Pulau Batam. ''Budaya dan kehidupan di Batam tidak
mungkin menerima figur militer sebagai payung politik,'' tegasnya. OB dan
Pemda yang nantinya melebur bersamaan dengan penerapan otonomi penuh,
tambahnya, membutuhkan figur visioner berjiwa entrepreneurship dan
profesional.

Ketua FKPKMI Batam Dr Sujak Widodo menambahkan penggantian Ismeth yang
secara mendadak harus dipertimbangkan kembali. Boleh saja Ismeth diganti
tapi harus yang mempunyai naluri bisnis sesuai dengan perkembangan Batam.
Namun, jika pendekatannya kekuasaan, ia melihat, tidak akan cocok untuk
diterapkan di Batam. Bila Pusat memaksakan penempatan Ketua OB, ia khawatir
akan timbul gejolak yang sangat berbahaya bagi dunia investasi.

Sementara Ketua DPRD Riau drh Chaidir yang melihat perkembangan di Batam
kepada Republika mengatakan perlu antisipasi secepatnya bagi aspirasi yang
berkembang di masyarakat. Ia mengungkap rencananya bersama Tim Sembilan DPRD
Riau dan ketua-ketua DPRD ke Jakarta untuk menyampaikan pernyataan sikap
DPRD Riau tentang aspirasi masyarakat dan surat mengenai situasi di OB.

Copy surat ke Presiden Abdurrahman Wahid yang diperoleh Republika dengan
nomor 110/99-12/758, perihal Otorita Batam, itu tertanggal 16 Desember 1999.
Isinya, pertama, keputusan presiden yang dipakai sebagai dasar hukum OB
segera ditinjau kembali dan pengelolaan Pulau Batam dan pulau-pulau di
sekitar dikembalikan kepada Pemda Riau.

Kedua, mengenai perasaan tidak puas yang lebih mendalam di daerah maka
sambil menunggu pembuatan Keppres dimaksud, semua kebijakan yang menyangkut
OB mengenai perubahan organisasi ataupun penggantian pejabat teras hendaknya
terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari Pemda dan DPRD Riau. Surat ini
juga ditembuskan kepada Gubernur Riau yang baru pulang dari Singapura di
Bandara Simpangtiga Pekanbaru.

Gubernur Riau Saleh Djasit ketika dikonfirmasi, menyesalkan isu tersebut.
Hal itu, dinilainya akan dapat memicu permasalahan baru di Batam. Namun,
Gubernur yang mendapat keterangan --saat Ismeth dan rombongan menghadap
Wapres Megawati Soekarnoputri-- Wapres menjelaskan otorita dalam era
sekarang tidak diperlukan lagi sesuai dengan otonomi yang diterapkan di
daerah. Ini, bagi Gubernur, sudah suatu jaminan bahwa pusat tidak akan lagi
melakukan intervensi. Apalagi dengan ada penggantian Ketua OB secara
mendadak.






[HOME ] [INDEX LENGKAP] [BERITA UTAMA] [NASIONAL] [EKBIS]
[NUSANTARA] [JABOTABEK] [INTERNASIONAL] [HIBURAN] [IPTEK] [OPINI]
[OLAHRAGA] [TELUSUR]

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1999

Kirim email ke