Alasan Cockroach menolak Buyung karena keamanan benar-benar memalukan. Dulu
waktu TNI tidak membolehkan wartawan masuk dengan alasan yang sama hebohnya
minta ampun. Sekarang tim advokasi yang bertujuan membuka tabir keterlibatan
TNI yang juga mereka tuduhkan ternyata tidak dapat dijamin keamanannya.
Artinya apa? Hal ini dapat disebabkan oleh kemampuan pasukan Aussie yang
terlalu lemah untuk melindungi tim advokasi. Kan sungguh mengherankan kalau
tidak mampu melindungi rombongan kecil kan? Kesimpulan lain yg dapat
diambil, si AUssie keparat ini memang mau memojokkan TNI/Indonesia. Mungkin
saja sekarang ada pembaca biar saja TNI dihukum secara sosial oleh dunia dan
masyarakatnya sendiri. Masalahnya tak semudah itu. Si gemblung raja koran
asal Aussie Murdock aja sampai memerlukan bikin seminar untuk memojokkan
Indonesia.
Hal lain dapat disebabkan oleh ketidakamanan dalam Timtim sendiri. Ini
seperti yang diindikasikan oleh Buyung di bawah ini. Artinya apa? Memang
banyak sekali konflik kepentingan di sana. Ini artinya kembali ke jaman pra
1977 sebelum Indonesia masuk ke sana, yang memang sudah kocar-kacir. Aussie
jelas hendak menutupi masalah ini dari publik. Tapi tak akan lama bertahan
lah.
Jeffrey Anjasmara
---------------------------------
Sabtu, 18 Desember 1999, 18:44 WIB
Buyung : Masyarakat Indonesia di Timtim Tidak Aman
Kupang, Antara
Pengacara Adnan Buyung Nasution menyatakan bahwa penolakan pasukan
multinasional PBB di Timtim (Interfet) selaku penanggung jawab keamanan
terhadap rencana kedatangan tim advokasi hukum yang dipimpinnya ke Timtim
merupakan "warning" bagi masyarakat Indonesia yang akan berkunjung ke
wilayah itu.
"Dari surat penolakan Mayjen Peter Cosgrove terhadap Tim advokasi memberi
gambaran bahwa masyarakat Indonesia yang akan bepergian ke Timtim tidak
aman, dan tidak ada jaminan keamanan baginya," katanya kepada wartawan
sebelum bertolak ke Jakarta, Sabtu.
Peter Cosgrove adalah komandan Interfet asal Australia. Menurut dia, Xanana,
Peter Cosgrove dan juga Kepala Pemerintahan transisi Timtim Sergio Vieira de
Mello seharusnya malu, karena ternyata tidak terbukti kalau kondisi keamanan
di Dili sudah dapat dikendalikan oleh Interfet.
"Penolakan Interfet atas dasar tidak dijaminnya keamanan terhadap Tim
Advokasi yang ingin melihat langsung fakta di lapangan yang menyangkut
tuduhan pelanggaran HAM terhadap beberapa personil TNI, merupakan petunjuk
bahwa Timtim saat ini belum aman, khususnya bagi masyarakat warga Negara
Indonesia," katanya. Ditambahkannya, penolakan Interfet tersebut juga
merupakan wujud dari agresifnya masyarakat Timtim, sehingga pertikaian yang
menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM, khususnya pasca jajak pendapat bukan
dilakukan oleh pihak lain, seperti TNI.
Semua pihak, katanya, mengetahui bahwa hingga saat ini konflik intern
diantara masyarakat Timtim sangat tinggi. Pertikaian yang akhirnya bermuara
pada pelanggaran HAM sangatlah mudah terjadi. Sehingga tindak kekerasan yang
terjadi pada pasca jajak pendapat September lalu, didasari oleh rasa
permusuhan atau pun sentimen konflik yang ada selama ini, katanya. Tuduhan
keterlibatan aparat keamanan sebagaimana diungkapkan oleh KPP HAM terhadap
beberapa prajurit TNI masih perlu diklarifikasikan.
"Ternyata, meskipun TNI sekarang ini tidak ada di Timtim, konflik intern
tersebut tetap berlangsung. Jadi yang memicu terjadinya pertikaian diantara
masyarakat Timtim itu ada di dalam diri masyarakat Timtim sendiri," katanya
menegaskan.
Buyung Nasution bersama rombongan selama kunjungannya ke NTT (Kupang dan
Atambua) sempat melakukan tatap muka dengan para tokoh Timtim, seperti Joao
Tavares, Eurico Gutteres, Cancio dan Joanico. Di Atambua, Buyung Nasution
juga sempat berdialog langsung dengan masyarakat pengungsi asal Timtim yang
bermukim di Desa Mota Ain dan Atapupu Kabupaten Belu. (and)
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com