Ini satu lagi saya forwardkan tulisan/analisa yg mungkin
tidak terlihat oleh kita. Seberapa besar tingkat kebenaran
dari tulisan berikut ini, silahkan dianalisa sendiri....:)

Nah, moga2 kita ditambahkan lagi wawasannya dalam
menilai dan melihat suatu masalah.

Kata mama, politik itu kotor.
Makanya saya ngga suka jadi orang politik, tapi lebih senang
untuk berdiri dan berjalan bersama rakyat.

Untuk Gus Dur dan Megawati, teruskan usaha kalian mengangkat
kembali kehidupan rakyat. Suka atau tidak, banyak pihak yg berusaha
untuk menjatuhkan kalian. Tapi percayalah, selama kita berdiri
bersama rakyat, selama itu pula kita akan memiliki kekuatan
yg tidak kecil.

Masalah yg dihadapi Indonesia saat ini tidak ringan.
Sebagian orang hanya mau terima hasilnya saja tanpa
mau ikut berupaya menyelesaikan masalah, bahkan tanpa
disadari malah sering memperkeruh masalah

Dari jauh saya berdoa agar Tuhan selalu melimpahkan
berkatNya pada anda berdua dalam mengemban tugas
yg tidak ringan ini.

Dalam hari2 mendatang, saya akan memulai kembali
mencoba berbuat sesuatu yg mungkin bisa sedikit
meringankan tugas yg kita hadapi bersama di Indonesia.

Khusus untuk Gus Dur, jangan pernah anda ragu2 untuk
me-reshuffle kabinet anda yg memang dari awalnya sudah
saya ragukan akan berhasil. Pilihlah orang2 yg memang
anda percayai dan memang punya niat tulus untuk
memperbaiki negeri kita, yang akan support perjuangan
kita untuk memperbaiki nasib rakyat kecil. Yakinlah,
rakyat akan bersama kita.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


---------
FWD:
---------
Dari Ambon,

Gus Dur - Mega Digoyang (?)

Jagat politik kian yakin, bahwa kerusuhan yang menerjang Bumi Maluku
merupakan bagian dari tarik menarik kepentingan elit politik nasional maupun
lokal.
Belakangan, disinyalir kasus Maluku tidak lepas manuver elit politik
--militer dan Islam politik-- untuk menggoyang kepemimpinan Gus Dur dan
Megawati
Soekarnoputri. Siapa dalangnya?

Posisi KH Abdurrahman Wahid alias sebagai orang nomor satu di negeri ini
tampaknya mulai tak nyaman. Begitupun posisi "adiknya", Megawati
Soekarnoputri yang terpilih secara demokratis dalam Sidang Umum MPR 1999 lalu
menjadi Wakil Presiden. Seteru politik mereka berdua dan
kelompok-kelompok kekuatan yang kini berada di luar lingkaran kekuasaan mulai
menghantam. Bahkan, dari dalam tubuh kabinet sendiri ada yang mulai
menikam dari belakang.

Tidak tanggung-tanggung, di Jakarta mulai terbongkar isu soal persekongkolan
untuk menggulingkan Gus Dur dari pucuk pimpinan nasional. Media
Ibukota, Harian Rakyat Merdeka, edisi 29 Desember 1999, melaporkan, isu
persekongkolan itu antara lain menyebutkan, Gus Dur kini digoyang dari dua
penjuru, yakni dari dalam dan luar kabinet. Targetnya, Gus Dur terjungkal
dalam Sidang Umum tahunan MPR 2000 nanti. Dan, sesuai pasal 8 UUD 1945,
posisi Gus Dur bakal digantikan oleh Wapres, Megawati Soekarnoputri.

Namun, belum tentu, Mega yang dianggap adik oleh Gus Dur bersedia
menggantikan posisi abangnya. Akan tetapi, digembargemborkan, bahwa Prof Dr
Amien Rais yang kini menjabat Ketua MPR akan mengisi posisi Wapres, dan jika
benar Megawati tak bersedia menggantikan posisi Gus Dur, otomatis
Amien diorbitkan menjadi orang nomor satu di negeri ini. Kontan saja,
komposisi kabinet Persatuan Nasional pun dirombak. Utamanya, di jajaran
Menteri
Koordinator (Menko).

Dua tokoh yang dikenal dekat dengan mantan Presiden Prof Dr Ing BJ Habibie,
masing-masing, Prof Dr Muladi, SH dan Adi Sasono yang kini berada jauh
dari ring kekuasaan, dikabarkan akan masuk dan langsung menduduki posisi
Menko. Muladi disebut-sebut akan menggantikan posisi mantan
Menhankam/Pangab Wiranto, sebagai Menko Polkam. Maklum saja, Wiranto sendiri
saat ini tengah sibuk membela diri dari tuduhan keterlibatannya dalam
upaya pembumihangusan dan pelanggaran HAM di Timor Leste.

Sementara Adi Sasono dikabarkan akan menggantikan Prof Dr Basri Hasanudin,
sebagai Menko Kesra/Taskin. Sedangkan, ekonom Kwik Kian Gie tetap
dipertahankan pada posisinya sebagai Menko Ekuin. Belum diketahui, bagaimana
posisi anggota kabinet lainnya. Namun dari kalangan DPR RI diperoleh
informasi, bahwa orang-orang Habibie tengah berusaha keras melobi orang-orang
PDI Perjuangan untuk ditawari posisi di kabinet mendatang. "Tapi
pendekatan itu tampaknya gagal," ucap sebuah sumber di DPR.

Lantas, apa hubungannya dengan kerusuhan Ambon? Patut dicatat, bahwa kubu
Habibie dalam Sidang Umum kali lalu, merupakan rival terberat Megawati.
Ketika itu, kubu Habibie melalui tokoh tua, AA Baramuli membentuk kelompok
Iramasuka --Irian Jaya, Makulu, Sulawesi, Kalimantan. "Artinya, orang-orang
Habibie juga bergerak di Ambon untuk terus melanggengkan kerusuhan guna
menggoyang Gus Dur da Mega," ucap sumber Siwalima.

Asal tahu saja, Megawati memang mendapat tugas khusus dari Presiden untuk
menuntaskan kasus Ambon. Dan, mulai ada yang mematok target waktu
hingga Januari bagi Mega dan Gus Dur untuk menyelesaikan Krisis Ambon. Jika
tidak, mereka bakal melancarkan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan
nasional. Ujung-ujungnya, sudah jelas, Gus Dur dan Mega hendak disingkirkan
dari pucuk pimpinan nasional. Terus?

Sabar dulu. Masih ada cerita menarik yang patut disimak dari konspirasi besar
ini. Kubu Soeharto yang kian terpojok dengan langkah duet Gus Dur - Mega
melalui Jaksa Agung, Marzuki Darusman, SH yang terus memburu dugaan KKN yang
dilakukan mantan diktator besar itu. Maklum saja, sejak Eyang Sepuh
Soeharto berkuasa, Gus Dur dan Megawati boleh dibilang cukup teraniaya secara
politis. Mega yang --ketika itu-- sudah dengan susah payah diorbitkan
memimpin PDI, digulingkan secara sadis oleh kaki tangan Soeharto melalui
Kongres Medan.

Alhasil, tak mengherankan kalau kubu Soeharto ketakutan menghadapi duet
kepemimpinan nasional yang ada sekarang. Kendati Gus Dur telah berusaha
maksimal untuk menawarkan penyelesaian secara politis, namun kubu Megawati
tampaknya akan tetap serius untuk menempuh proses hukum. Apalagi,
sejak awal perjuangannya, Megawati memang bertekad menegakkan supremasi
hukum.

Dari situ pula muncul dugaan, bahwa kekuatan Soeharto ikut bermain dalam
kerusuhan di Maluku. Malah, koordinator Lembaga Rekonsiliasi dan Perdamaian
(Lerai) Dr Thamrin Tomagola langsung menohok ke arah orang dekat Soeharto,
seperti Yoris Raweyai atau Prajogo Pangestu. Tidak cuma itu. Kalangan DPR
pun mensinyalir hal yang sama. Ketua Tim Pencari Fakta bentukan FPDIP DPR RI,
RK Sembiring Meliala menyebut, dalang rusuh Ambon adalah orang
berduit di Jakarta. Sayangnya, sampai saat ini belum terang benar siapa yang
dimaksud. Lantas?

Tunggu dulu. Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah pengaruh kekuatan
militer. Rusuh Ambon oleh sejumlah kalangan dinilai sebagai akibat lanjut dari
adanya intervensi kekuatan militer. Bahkan, hal ini semakin jelas terlihat
dalam sejumlah kasus rusuh di Ambon dan sekitarnya. Tidak sedikit personil
aparat
keamanan yang secara jelas-jelas terlibat dalam kerusuhan massal, dan ikut
melepaskan tembakan ke arah kerumunan massa.

Diduga kuat, militer ikut bermain dalam Krisis Ambon guna mengalihkan
perhatian --bahkan menjadi bagian dari presure terhadap pemerintahan Gus Dur -
Mega-- dari kemelut di tingkat elit TNI-Polri. Paling tidak, sebut sebuah
sumber Siwalima, ada kaki tangan elit militer tertentu yang bergerak di Ambon
guna
menekan Gus Dur dan Mega agar peradilan para jenderal dalam kasus Timtim dan
Aceh tidak dilakukan. Artinya, Ambon dijadikan tombol untuk menghalau
laju tekanan terhadap para mantan elit militer yang terlibat kasus Aceh dan
Timor Leste.

Kelompok ini bersatu dengan kekuatan TNI hijau yang kini masih eksis dalam
lingkaran kekuasaan militer. Salah satu tokoh yang disebut-sebut berada
dalam lingkaran ini, menurut rumor yang berkembang akhir-akhir ini, adalah
Letjen TNI Suaedi Marasabessy. Mantan ketua Tim 19 dan Tim 3 bentukan
Mabes ABRI (ketika itu belum berubah nama menjadi Mabes TNI) ini
disebut-sebut sebagai orang tokoh militer yang paling berperan dalam meredam
tekanan terhadap para seniornya. Apalagi, ia kini dibantu oleh mantan Pangdam
Udayana Mayjen TNI Adam R Damiri, yang dituding terlibat dalam kasus
pelanggaran HAM di Timor Leste pasca jajak pendapat.

Nah, sampai di sini, jika diurut-urut kembali, maka setidaknya ada tiga
kekuatan yang bisa saja memanfaatkan kasus rusuh Ambon untuk menggulingkan Gus
Dur dan Mega. Yakni, kelompok Islam politik yang bergabung dalam kekuatan
Poros Tengah, antek-antek Soeharto dan Habibie, serta kekuatan militer.
Bukan tidak mungkin, ketiga kekuatan ini saling berangkulan untuk
mengobok-obok Maluku. Paling tidak, dengan terus langgengnya kerusuhan di
Maluku,
maka kredibilitas Gus Dur dan Mega pun ikut rontok. Buntutnya, mereka berdua
bisa saja dicopot dalam Sidang Umum MPR tahun depan. Mungkinkah?

Sekretaris Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI, Kholiq Achmad menegaskan,
Gus Dur tidak bisa dilengserkan dalam Sidang Umum tahunan, tahun
depan. Alasannya, kata dia, forum itu hanya untuk mendengarjkan progress
report presiden dalam kaitan dengan pelaksanaan GBHN 1999. "Jadi, forum itu
bukan untuk meminta pertanggungjawaban presiden," tandasnya.

Pertanyaan sekarang: Siapa orang lokal yang ikut bermain dalam menyulut
kerusuhan di Maluku? Jawabannya hanya bisa ditemukan, bila massa Islam dan
Kristen sama-sama sepakat untuk berhenti bertikai, dan memulai membentengi
diri untuk tidak mudah terprovokasi, dengan bayaran mahal sekalipun. Jika
tidak, niscaya tahun 2000 nanti tetap akan menjadi tahun neraka bagi rakyat
di Bumi Maluku. Ah! Ddosa apakah kau, Ambon?
-----------

Kirim email ke