In a message dated 1/4/00 1:56:48 AM Eastern Standard Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Kalau 10 orang atau 15 orang Nasrani membunuh, ini pasti yang salah adalah
> orang tersebut. Atau bisa dibilang OKNUM.
>
> Tapi kalau 25 RIBU orang menyerang Muslim Halmahera yang cuma berjumlah 5
> Ribu orang, MEMBUNUH 800 orang dan MEMPERKOSA, MAKA saya harus mencari
> terminologi baru untuk kata OKNUM.
>
> Bukannya sok menghakimi atau menyerang agama orang lain. Sebenarnya malah
> SAYA TIDAK PERDULI dengan agama orang lain. Tapi begitu mereka mulai
> menganggu agama saya, masalahnya menjadi lain.
>
> Lagipula KEMANA para PEMIMPIN AGAMA 25 RIBU orang tersebut. KEMANA ? Nggak
> bisa apa menggiring domba-domba itu ke jalan yang benar.
>
> Soe
Irwan:
Waduh, koq tolok ukurnya cuma sebatas angka ya?...:(
Apakah menurut Soehendri peristiwa sedih Mei 98 yg dilakukan
oleh ratusan ribu "orang Islam" di berbagai daerah yg
sasarannya orang Kristen dan keturunan Tionghoa lalu
serta merta kita langsung bisa menyalahkan atau mempertanyakan
agama Islam yg katanya agama pembawa damai tersebut?
Ngga bisa begitu khan?
Saya hanya ingin mengingatkan anda kembali, berhati2lah
menggunakan kata2 atau standar2 tertentu, bisa2 malah
berbalik ke anda sendiri.
Peristiwa Ambon siapapun korbannya jelas saya sesali dan
tidak bisa dibenarkan.
Peristiwa Ambon itu sudah sedemikian pelik, ngga bisa dengan
menggunakan email lalu mereka berhenti bertikai.
Ngga bisa juga dengan Megawati berkunjung atau Gus Dur
berkunjung, atau Amien Rais berkunjung, maka pertikaian segera
terhenti.
Mau ngirim pasukan pun juga perlu hati2, karena salah2 bisa
seperti menyiram minyak ke api, tambah runyam.
Yang namanya politik dengan menggunakan ujung tombak
provokator itu memang bahaya banget. Sekali emosi masyarakat
bisa dijentikan oleh provokator, maka selebihnya provokator2
itu tinggal menonton saja proses pembumi hangusan oleh
warga daerah itu sendiri akibat adu domba. Pintarnya provokator
kali ini adalah bisa menemukan daerah yg memang bersumbu pendek.
Sampai saat ini tampaknya provokator sulit untuk buka praktek di
Irian karena sudah beberapa kali dicoba tapi gagal.
Bahkan di sulut, berdasarkan informasi yg saya miliki, sebenarnya
juga sempat hampir masuk tapi keburu provokatornya dibayar
tinggi oleh orang2 daerah sana untuk tidak membuat "keramaian"
disana.
Tahun 2000, tahun babat habis provokator.
Ini juga kalau kita mau Indonesia kita ngga dikotori oleh
tangan2 jahat provokator lho....:)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu