Kita pasti tahu apa itu pucang. Tapi baiklah saya lukiskan lagi sedikit
Pucang adalah sebuah batang pinang putih telanjang, tegak berdiri di
tengah-tengah lapang. Di bagian atas di pasang lingkaran bambu dengan
sokongan jari-jari-nya mirip sebuah satelit mata-mata. Batang telah di
lumuri oli hitam, sangat licin dan bau ketika oli dilumuri lemak, yang
makin membuat batang menjadi sangat licin. Dipuncaknya bergantungan
radio kecil, payung hitam romantis, coklat isi kopi, kaos oblong 777,
sandat jepit, balon, panci, mobil, rumah, photomodel....oppps!!
Hadiah-hadiah ini bukan makanan, tapi tentu sangat merangsang air liur.
Ketika saatnya dimulai berlomba-lombalah orang-orang untuk memanjat
tiangnya, mendapatkan hadiah yang berayun-ayun. Ada yang dua-dua, ada
yang membentuk grup, bahkan ada yang tanpa pendukung sama sekali. Yang
penting dapat bagian, katanya.

Yang membuat pucang beda kali ini adalah sebuah kursi mentereng. Ini
yang menjadi incaran para pendaki. Kursi kelihatan begitu cantik, nyaman
dan terlihat amat mahal. Duduk di sana, seperti duduk di La-Z-Boy,
begitu duduk tertidur. Ya, walau bercampur dengan kaos oblong dan sandal
jepit.

Tahun-tahun lewat telah diisi para politisi betulan dan kacangan, tegap
melihat di puncak pucang. Ada sebuah kursi menjadi incaran. Para pendaki
pucang dengan supporter-nya masing-masing, memberi semangat jagoannya
untuk menjadi orang yang tertinggi di atas pucang, meraih kursi,
kelihatan oleh siapa saja. Karena siapa yang meraihnya akan memiliki
hadiah-hadiah lain, sendal jepit dan kaos oblong. Punya kekuasaaan dia,
apakah hadiahnya akan di ambil sendiri, atau akan dilemparkan ke bawah
ke para pendukungnya. Punya kuasa dia apakah mau makan di mana malam
ini, mau liburan kemana tahun baru ini.

Jika pucang telah mulai, beberapa pendaki mulai memanjat. Mula-mula
berbentuk kelompok, mencoba saling menyokong. Yang satu berpundak ke
yang lain Teratur. Namun makin lama, ketika lumuran oli makin berkuang,
makin gampang naik ke atas, kerjasama mengendor. Kini setiap orang ingin
menjadi yang paling atas. Dia injak pundak atau kepala yang ada di
bawah. Atau "nylonong" memanjat terakhir supaya mandapat yang paling
tinggi. Yang diinjak juga demikian, ketika sudah tinggi, dia pengen
berubah posisi menjadi yang paling atas. Mundurlah ia, susunan
berguguran, semuanya jatuh. Pucang adalah arena yang menggembirakan,
saatnya menyanyikan lagu padamu negeri kami mengabdi, demi sandal jepit
dan kaos oblong.

Republik ini banyak dosa. Dosa yang dibuat oleh para pemimpin yang ingin
meraih kursi, lalu duduk, kemudian duduk lantas duduk. Dosa para
supporter yang ingin mendapat bagian sandal jepit dan kaos oblong. Dosa
rakyat yang bersorak-sorak mengompori perseturuan. Dosa penulis cerita
ini yang mengingini pengakuan. Dosa rakyat yang juga diam. Atau
dosa-dosa mulut-mulut dan pena-pena yang berbicara seolah-olah mewakili
kebenaran. Orang-orang senang, media senang karena ada pucang ditengah
lapangan yang ramai untuk diberitakan. Orang-orang suka menonton
walaupun harus membayar dengan nasib-nasib orang-orang terbantai
bergelimpangan. Dosa pula orang-orang yang silau melihat kursi
mentereng, mengangguk-angguk dan menunduk-nunduk di depan kursi yang
kini tergantung tinggi.

Pucang adalah sebuah kebudayaan, karena ia adalah ekspresi watak
manusia. Ketika para pendaki "eker-ekeran",  menyikut siapa yang mencoba
mendahuluinya dan menginjak siapapun yang ada di bawahnya, sementara
penonton bersorak-horai. Biarpun badan berlumuran oli-oli hitam
kemunafikan, lemak-lemak berbau penindasan, namun semua ada imbalannya
kursi mentereng, atau kaos oblong pun tak apalah.

Tahun-tahun selalu berlalu dengan  pucang. Pucang adalah laku budaya
yang akan selalu ada di mana manusia ada. Tapi karenanya pula ia terbuka
untuk perubahan. Kita masih memerlukan pucang, karena ia hiburan dan
makanan. Tapi kita perlu pucang yang tanpa oli dan lemak, yang membuat
orang yang meraihnya adalah karena imbalan bukan keinginan. Yang membuat
pemenangnya rela mengenakan kaos oblong dan sandal jepit tanpa bau oli
dan lemak. Membagi rata hadiah sesuai haknya, bukan seberapa keras
teriakannya.

Troy, Jan 5, 2000
Pungkas B. Ali

--
"Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung"

Kirim email ke