Title: ROL 12-01-2000 - Umat Islam mulai Terisolasi Massa Merah Kembali Serang Galela
 
Republika Online
Profil REPUBLIKAMedia KitPenelusuranKembali ke Home Page
Republika Online edisi:
12 Jan 2000


Berita Hari Ini Berita Sebelum Berita Berikut

Umat Islam mulai Terisolasi Massa Merah Kembali Serang Galela

JAKARTA -- Maluku Utara masih genting. Camat Galela, Drs Ichwan Marzuki, melaporkan Kelompok Merah (massa Kristen) kembali melakukan aksi penyerangan terhadap warga Muslim di Kecamatan Galela, Maluku Utara, kemarin pagi. ''Diduga banyak korban yang tewas,'' katanya, tadi malam.

Namun, sampai berita ini diturunkan, Ichwan belum bisa merinci jumlah korban dan akhir penyerangan yang dilakukan massa Merah itu. Sebab, kata Ichwan, yang kebetulan sedang berada di Ternate, setelah mendapat laporan tentang penyerangan itu ia beberapa kali mencoba menghubungi kantor Camat Galela via telepon tetapi tidak ada yang mengangkat.

Soal jumlah korban yang jatuh, menurut sumber Republika, paling sedikit 18 Muslim tewas. Sumber itu mengatakan kebanyakan mereka yang meninggal kemungkinan adalah orang-orang yang berasal dari pasukan jihad Ternate-Tidore.

Ichwan juga belum dapat menyebutkan desa mana saja yang telah menjadi sasaran serangan massa Merah. Para penyerang, paparnya, berasal dari beberapa desa di Galela yang kebetulan mayoritas penduduknya beragama Kristen. Antara lain, dari Desa Makeke dan Desa Duma. Aksi penyerangan kelompok Merah juga mendapat bantuan dari warga Kristen lainnya yang berasal dari beberapa kecamatan. Antara lain, kata Ichwan, Kecamatan Kao dan Loloda yang memang kebanyakan beragama Kristen.

Dari Ternate, Wakil Ketua DPRD Ternate, Abdurrakhim Fabanyo, mengatakan berdasarkan informasi yang dia terima dari Galela memang telah terjadi penyerangan oleh kelompok Merah yang menyebabkan satu orang tewas, dan puluhan rumah terbakar di dua desa.

Kedua desa yang diserang massa Merah itu, menurut Fabanyo, adalah Desa Igobula dan Desa Soakonora. ''Meski tidak sempat memakan banyak korban, namun serangan itu sempat membuat panik masyarakat Muslim di kedua desa itu,'' papar Fabanyo.

Penyerangan yang dilakukan oleh ribuan massa Merah itu, tambahnya, berbasis di tiga desa yang sebelumnya mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, jelas Fabanyo, akibat serangan yang bertubi-tubi dilancarkan massa Merah, ketiga desa itu berhasil mereka rebut. Desa-desa itu adalah Desa Dokulamo, Desa Nyidoho, dan Desa Kotabaru.

''Untuk memperkuat posisinya, pihak Kristen berusaha untuk merebut dua desa yang tersisa itu yang memang mayoritas penduduknya beragama Islam,'' ungkap Fabanyo yang juga Ketua DPW PAN Maluku Utara.

Sekarang ini, paparnya, massa Merah di Halmahera Utara menggunakan sistem gerilya dalam melumpuhkan warga Islam. Dengan cara yang mereka gunakan itu, jelas Fabanyo, mereka masuk hutan dan keluar memasuki pemukiman Muslim untuk kemudian menyerangnya. ''Setelah itu, mereka masuk hutan lagi.''

Menurut Fabanyo, pihak penyerang mempunyai senjata yang lengkap dan modern, sementara warga Muslim tidak mempunyai senjata apa-apa. Penyebabnya, jelasnya, karena memang umat Islam di Galela tidak pernah berniat untuk menyerang saudaranya yang beragama Kristen. ''Tetapi, rupanya mereka terus diintimidasi dan diserang oleh kelompok Merah. Jadi, mau tidak mau mereka juga harus bertahan,'' kata Fabanyo.

Adanya serangan itu juga dibenarkan oleh seorang petugas medis Posko Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), Dr Yose Rizal. ''Sejak kemarin Subuh umat Islam di Galela kembali diserang dari arah utara. Itu daerah pedalaman dan di sana belum terjangkau aparat,'' katanya, kemarin.

Pihak massa Merah yang melakukan penyerangan, menurutnya, berjumlah sekitar 500 hingga 1.000 orang. Sementara pihak Muslim yang berjaga di wilayah tersebut cuma sekitar 50 orang. Sehingga, dari ibu kota Kecamatan Galela, beberapa pasukan Muslim dimobilisasi ke perbatasan. Pasukan Muslim yang mempertahankan wilayah perbatasan itu, menurutnya, cuma bersenjata parang, tombak, dan panah. Sedangkan massa Merah yang menyerang, menggunakan senjata api rakitan.

Menurutnya, serangan massa Merah itu dilakukan terencana. ''Mereka sudah berkumpul di Duma sejak dua-tiga hari lalu,'' ujar Yose Rizal. Kemudian dari pedalaman itulah, lanjutnya, kaum Kristen menyerang Muslim Galela. Aparat keamanan, katanya, baru datang setelah penyerangan itu memakan korban.

Hingga sekitar pukul 09.00 WIB, kata Yose Rizal, jumlah korban dari pihak Muslim sembilan orang. Satu di antaranya meninggal dunia, yakni Madjid Kea (18), warga Muslim Galela. Kesemua korban tersebut, sambungnya, mengalami luka tembak dengan peluru tajam.

Kemudian sekitar pukul 10.00 Tim Penanggulangan dan Rehabilitasi Pengungsi Korban Kerusuhan Massa Halmahera Utara (Togamo) berhasil menghubungi posko tersebut. Hingga detik itu, ujar Ketua Togamo, Husein Alham, jumlah korban meninggal dari pihak Muslim menjadi dua orang.

Meski kembali diserang, Ichwan berharap agar Galela dapat dipertahankan sebagai benteng terakhir pertahanan umat Islam. ''Jika sampai Galela jatuh, tentu yang akan sangat menderita adalah umat Islam sendiri,'' lanjutnya. Umat Islam, tambahnya, bisa mengalami perlakuan yang paling buruk yang selama ini telah dilakukan kelompok Merah. Ichwan mencontohkan seperti pembakaran hidup-hidup, serta pembunuhan terhadap anak-anak dan kaum wanita.

Terisolasi

Mulai sekitar pukul 10.00 hubungan telepon ke Galela seperti terputus. Beberapa kali Republika mencoba menghubungi kantor Kecamatan Galela dan Polsek Galela, tetapi tidak juga ada yang mengangkatnya. Termasuk juga saat Republika menghubungi posko pertahanan umat Islam di Galela, tidak ada yang mengangkat.

Seperti diakui Ichwan, kesulitan hubungan via telepon ini bisa jadi karena menyingkirnya warga Muslim untuk mencari perlindungan ke tempat lain. Jadi, paparnya, saat ini warga Muslim Galela mulai meninggalkan rumahnya untuk mencari tempat lain yang dianggap dapat melindungi mereka.

Karena itu, warga Muslim di Kecamatan Galela, Halmahera Utara, sejak kemarin siang mulai terisolisasi. Mereka kesulitan berhubungan dengan umat Islam di daerah lain. Selain sudah terkepung, saluran telepon yang ada di Galela tidak berfungsi lagi. Beberapa kali Usaha Sentral Telkom di Jakarta untuk menghubungi sentral Telkom di Galela pun tidak membuahkan hasil.

Seorang petugas sentral telepon di Jakarta mengaku tidak tahu persis penyebab putusnya komunikasi tersebut. Pihaknya menduga, putusnya hubungan komunikasi itu terjadi karena ada gangguan pada perangkat sentral telepon di Galela. Baik Togamo maupun Republika hingga pukul 21.00 WIB semalam tidak bisa lagi menghubungi Galela.

Untuk mencari tahu nasib terakhir yang menimpa Muslim Galela, hari ini, Togamo berencana mengirim tim ke Galela. ''Mudah-mudahan, besok (hari ini --Red), kami sudah bisa mengetahui nasib umat Islam di sana secara lengkap,'' kata Husein. Pihaknya mengaku khawatir, selama komunikasi dengan daerah lain terputus, Muslim di Galela mengalami nasib yang sangat buruk.

Menurut Yose Rizal, nasib pengungsi Muslim di Galela memang cukup memprihatinkan. Selain mulai dijangkiti penyakit, Muslim Galela, menurutnya, juga mulai menghadapi problem logistik yang cukup serius. ''Dolog Galela yang di dalamnya tersimpan 1.000 ton beras, sudah dibobol pasukan Merah,'' tuturnya. Satu-satunya yang bisa diharapkan, menurutnya, adalah pasokan logistik dari Ternate.

Kondisi para pengungsi di Ternate juga sangat memprihatinkan. Selain keterbatasan obat-obatan, makanan, serta tenaga medis, pengungsi yang sampai kemarin malam berjumlah sekitar 50 ribu orang tidak bisa ke luar dari Ternate sama sekali. Karena, sudah beberapa hari ini tidak ada kapal yang masuk ke Pelabuhan Ternate.

''Sudah tidak ada kapal sama sekali, Pak. Para pengungsi sangat kesulitan untuk ke luar dari Ternate,'' kata Abdul Wahid, Ketua Posko Gerakan Ukhuwah Islamiyah di Ternate, semalam. ''Tolong sampaikan pada Menteri Perhubungan di Jakarta, Pak, kami di sini membutuhkan kapal-kapal untuk mengangkut para pengungsi ke luar dari Ternate,'' ujar Wahid lagi.

Walaupun saat ini para pengungsi Muslim terkonsentrasi antara lain di Ternate, menurut Wahid, namun situasi keamanan sama sekali tidak bisa menjamin keselamatan mereka. Sehingga, para pengungsi bertekad untuk ke mana saja, asal bisa ke luar dari Maluku.

Jam malam

Menyusul isyarat dari Panglima TNI Laksamana Widodo AS untuk, jika perlu, TNI akan memberlakuan jam malam di daerah rawan konflik, Gubernur Maluku Utara Surasmin SH, berharap itu tidak dilakukan di wilayahnya.

''Jangan ada jam malamlah, biar masyarakat tidak melihatnya seperti ada yang serem banget,'' kata Surasmin seusai mendampingi Panglima TNI dalam memberikan pengarahan kepada prajurit di Yonif 732 Banau, Ternate, kemarin.

Di tempat terpisah, sesudah memberikan pengarahan kepada prajurit yang bertugas di Morotai, sebelum singgah sebentar di Menado untuk mengisi bahan bakar sebelum kemudian ke Jakarta, Panglima TNI menegaskan perlu-tidaknya jam malam sangat situasional. ''Pemberlakuan jam malam itu berkait dengan dinamika di lapangan. Apa yang diinginkan gubernur dalam rangka normalisasi wilayah. Jadi, kalau Gubernur meminta itu dilakukan akan kita lakukan,'' kata Widodo.

Panglima TNI juga mengungkap ditangkapnya dua prajurit yang diduga tidak netral dalam melakukan tugasnya di lapangan. ''Saya dapat laporan dari Pangdam (Brigjen TNI Max Tamaela) ada satu-dua prajurit yang nyata-nyata tidak netral. Saya minta [mereka] itu diselesaikan lewat jalur hukum,'' katanya. Namun Panglima tidak menyebutkan kelompok mana yang dibela prajurit itu.

Pada kesempatan itu Widodo juga menerangkan dalam upaya membantu gubernur menjalankan roda ekonomi, TNI akan membuka kembali jalur transportasi reguler, baik melalui kapal laut maupun pesawat udara. Upaya penyekatan itu sendiri, kata Widodo, semula dimaksudkan untuk menjamin keamanan. ''Itu dilakukan agar tidak ada pihak-pihak luar yang mencoba masuk yang bisa memberikan hal-hal yang tak menguntungkan,'' tambahnya.

Menurut keterangan Surasmin, dua pekan terakhir ini kapal-kapal Pelni dan penerbangan sipil tidak lagi menyinggahi Pelabuhan Ternate. Ini menyusul terjadinya penyanderaan terhadap KM Lambelu dan helikopter milik perusahaan tambang emas Australia di Gosowong Kao, Halmahera.

Menurut gubernur, kalau blokade itu berlarut-larut, akan mengganggu pasokan kebutuhan pokok masyarakat di provinsi termuda di Indonesia itu. Menjawab pertanyaan wartawan tentang batas waktu kapan akan dibuka kembali, gubernur mengatakan sementara ini masih diupayakan dan mungkin dalam minggu-minggu ini sudah dapat dilakukan.

Dampak dari blokade udara dan laut ternyata juga dirasakan oleh warga di Pulau Morotai. Dalam temu wicara dengan Panglima TNI, salah satu wakil tokoh masyarakat Morotai mengharapkan agar transportasi laut kembali diaktifkan. ''Kami sudah mengalami kesulitan pangan. Persediaan BBM kira-kira hanya cukup untuk 15 hari, bahkan telekomonikasi mungkin hanya bisa menjangkau 30 hari saja,'' ungkap pemuda setempat kepada Panglima.

Karena ditutupnya penerbangan sipil dari dan ke Ternate, maka Bandara Sultan Babullah hanya dilayani oleh penerbangan militer untuk kepentingan evakuasi. Sementara penerbangan pesawat milik Merpati Nusantara Airline (MNA) sejak Senin pekan lalu tidak lagi melayani Ternate.

Namun, para eksodus asal Maluku Utara keluar daerah, mengeluh karena tarif yang diberlakukan oleh penerbangan militer dengan pesawat Hercules (C-130) milik TNI-AU cukup besar. Tarif Ternate-Manado (Sulawesi Utara), misalnya Rp 400.000 per orang.

Tarif Ternate Jakarta Rp 1.100.000 per orang, Ternate-Surabaya Rp 1.500.000 dan untuk kendaraan roda empat (mobil) dikenakan tarif Rp 1.000.000 - Rp 1,5 juta, tergantung jaraknya. Namun, bila dibandingkan dengan penerbangan sipil (pesawat merpati) tarif tersebut jauh lebih murah.

Menurut Surasmin, blokade transportasi perhubungan laut dan udara dari dan ke Ternate, menyusul kerusuhan bernuansa SARA di Pulau Halmahera bagian Utara, itu akan diselesaikan oleh pemerintah pusat. Blokade perhubungan laut dan udara akan segera diupayakan pemerintah pusat dan Pemda Maluku Utara untuk diselesaikan, karena tindakan tersebut sangat mengganggu terutama untuk pengembangan perdagangan dan perekonomian. Jalur penerbangan dan pelayaran dari dan ke Ternate (Maluku Utara) akan segera dibuka kembali. n osa/erd/hfi/ant/run

 

Menuju lembar atas

   

[HOME ] [INDEX LENGKAP] [BERITA UTAMA] [NASIONAL] [EKBIS]
[NUSANTARA] [JABOTABEK] [INTERNASIONAL] [HIBURAN] [IPTEK] [OPINI]
[OLAHRAGA] [TELUSUR]

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 2000




Kirim email ke