In a message dated 01/29/2000 5:12:04 AM !!!First Boot!!!,
[EMAIL PROTECTED] writes:
<< Kepada Tuhanku,
ENGKAU tahu aku mempercayai MU
ENGKAU tahu tak ada keraguan kepada kekuasaan MU
ENGKAU tahu aku bersujud kehadapan MU
Maafkan aku Tuhan,
aku hendak bertanya, kepada MU
pertanyaan yang tak mungkin terjawab oleh
jiwa dan otakku yang hina dina
Tuhan, rencana apa yang ENGKAU susun untuk
diriku dan negeriku?
bukankah ENGKAU Maha Pelindung dan Maha Penyayang
ah Tuhan, maafkan hamba MU ini
tapi tolong, berilah jawaban untukku...
salam hormat, hamba MU
ida >>
Kepada Ida dan rekan-rekan,
Berikut kalimat yang terbayang di benak saya:
Aku tahu engkau mempercayai Ku
Aku tahu tak ada keraguanmu kepada kekuasaan Ku
Aku tahu engkau bersujud kehadapan Ku
(Sementara menulis ini aku sadar bahwa aku manusia lemah juga. Sehingga
memahami kalimat Ida dengan cara orang lemah juga):
Maafkan aku Tuhan,
aku hendak bertanya, kepada MU
pertanyaan yang tak mungkin terjawab oleh
jiwa dan otakku yang hina dina
(Aku, penyimak pinggiran, juga begitu, Tuhan)
Tuhan barangkali menjawab begini:
Ida, rencana apa yang Aku susun untuk
dirimu dan negerimu?
Aku memang Maha Pelindung dan Maha Penyayang
Ah ida, Aku maha Pengampun
Aku akan beri jawabanKu...
Bantu Gus Dur-Megawati dan bangsamu
dengan dukungan, kritikan dan doamu
(Jangan lupa juga/selesaikan cepat/pendidikan doktor ilmu politikmu/bangsa
tengah menunggumu)
penyimak pinggiran
(belajar menafsir keinginan Dia untuk Ida)