Tambahan :
Setiap variabel kebohongan dengan topik "a" harus memiliki paling tidak
empat lapis "a" berikutnya untuk menutupinya.
Jadi akan ada "a", "a^2", "a^3", "a^4" dst.
Jadi kebohongan itu memiliki " n dimensi", bukan cuma persamaan linear
biasa, Pak Nasrul :-)
Soe
-----Original Message-----
From: Nasrullah Idris <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, February 02, 2000 12:17 PM
Subject: Perselingkuhan Seks dari Aspek Matematika
> Meskipun kenikmatan dari perselingkuhan seks hanya berlangsung
sebentar
>namun dampaknya bisa berkepanjangan. Karena itu tidaklah heran bila ia
>dianggap sebagai pekerjaan tidak efisien.
>
> Soalnya pasca perselingkuhan seks bisa berakibat pemborosan energi
>hanya untuk menciptakan beragam bentuk kebohongan terhadap pasangan di
>rumah. Sementara harus diupayakan di mana "kebohongan yang satu" tidak
>sampai kontradiktif terhadap "kebohongan yang lain". Berapa banyak waktu
>terbuang begitu saja, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain.
>
> Taroklah setiap jenis kebohongan mempunyai simbol a, b, c, d, e, f,
dan
>seterusnya. Maka semakin banyak jenis kebohongannya semakin banyak pulalah
>simbolnya. Sedangkan nilai dari setiap jenis kebohongan itu pun beragam.
>Kalau ingin tetap aman, si pelaku harus bisa melakukan kalkulasi terhadap
>simbol beserta nilainya masing-masing.
> Dari aspek Matematika, si pelaku cepat melakukan kalkulasi terhadap
>persamaan tiga anu sebagai berikut :
>
>3a + 2b + 3c = 100
>5a + 6b + 4c = 120
>9a + 8b + 9c = 200
>
> Ini baru untuk tiga jenis kebohogan. Agar jenis kebohongan berikutnya
>tidak tumpang tindih dengan ketiga jenis kebohongan sebelumnya itu, maka ia
>terlebih dulu harus mencari nilai a, nilai b, dan nilai c. Kerana kalau
>tidak maka ketika membuat persamaan empat anu bisa muncul dualisme nilai a,
>nilai b, dan nilai c. Artinya, pada persamaan tiga anu, nilai "a"nya adalah
>segitu, sedangkan pada persamaan empat anu, nilai "a"nya malah segini.
>
> Bisa dibayangkan, berapa beratnya pikiran si pelaku. Karena ia harus
>melakukan kalkulasi persamaan "n" anu sebelum melangkah pada pembantukan
>persamaan "n+1" anu. Karena semakin banyak "anu"nya dari persamaan berarti
>proses kalkulasinya semakin panjang.
>
> Mendingan jika si pelaku terus percaya diri. Bagaimana kalau tidak
>sanggup lagi melakukan kalkulasi secara cepat? akhirnya terjadilah error
>kalkulasi. Artinya, adanya kontradiktif antara persamaan "anu" yang satu
>dengan persamaan "anu" yang lain.
>
> Akhirnya ya ketahuan juga belangnya.
>
> Karena itu, janganlah berselingkuh.
>
>Salam,
>
>Nasrullah Idris