From: syamsuddin toaha <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, March 03, 2000 11:20
Subject: Re: Dua sama dengan Satu ? Memang Betul Kok ! <Seri IV>
*****Assalamu Alaikum wr.wb.
#####Waalaikumussalam
*****Satu sama dengan dua. Kalau betul, apa konsekwensi logisnya, dan kalau
salah apa gunanya.
#####Konsekwensi logisnya akan terjadi bencana komunikasi, intepretasi,
sampai akademik secara global. Malah jauh lebih parah ketimbang probleme
Milenium Bug. Karena itu jangan dilibatkan dalam peradaban manusia.
Lalu apa gunanya? Gunanya tentu saja bagi mereka yang ingin terus
mendalami Matematika secara tuntas, detail, dan integratif. Siapa tahu dari
sana akan muncul pada mereka berupa pemikiran baru serta memberikan kredit
point bagi kepentingan ummat manusia. Bukankah ini sekaligus mengindikasikan
bahwa "Teori Matematika Fundamental"dalam bentuk baru masih terbuka untuk
ditemukan. Berarti orang Indonesia pun berpeluang untuk menemukannya.
Karena tidak sedikit pula suatu penemuan di bidang Sains, Matematika,
dan Teknologi diilhami oleh hasil pengkajian/penelitian yang tidak ada
hubungan langsung dengan penemuan itu sendiri.
Yang penting pada mereka - sebagaimana pada para penemu "Teori
Matematika Monumental" sebelumnya - ada rasa tanggungjawab untuk tetap
melestarikan nilai2 komunikasi, intepretasi, dan akademik dalam ruang
lingkup Matematika?
*****Mungkin disinilah letak dasar pemikirannya kenapa hanya "satu nuansa
fenomena" yang dikenal banyak orang.
#####Karena di permukaan alam sadar .... hampir seluruh manusia lebih sreg
dengan "satu nuansa fenomena saja".
Bukankah hampir semua manusia hanya mempunyai satu nama?
*****Kita boleh saja membuat banyak nuansa fenomena, atau memanipulasi
nuansa fenomena, dan kita akan asyik di
dalamnya tanpa memperhatikan nuansa fenomena lain yang "kontradiksi"
dengannya.
#####Justru itu telah terjadi. Hanya mungkin belum signifikant untuk
dikatakan sebagai bencana. Hanya saya tidak tahu : siapa saja dari kalangan
Matematika mempelajari masalah ini?
*****Sebenarnya tidak ada suatu "sistem" yang kontradiksi sepanjang taat
dengan aksioma yang ada di dalamnya.Kecuali dibuat demikian.
#####Idealnya sih memang begitu. Tetapi dengan dengan adanya ketentuan tidak
diperkenankannya pembagian oleh Nol menunjukkan adanya standar ganda
ketentuan untuk rumus 1/n.
*****Pada hemat saya kemungkinan untuk mendefinisikan 1/0 dan 1/takhingga,
mungkin saja, cuman mungkin nanti kita bekerjanya bukan lagi pada bilangan
riil, tapi pada perluasan bilangan riil. Sama dengan bagaimana
mendefinisikan akar(-1), yang ternyata sekarang banyak gunanya.
#####Nah di sanalah akan terasa bahwa semakin mendalami Matematika ternyata
permasalahannya semakin luas. Setiap kita mengkaji "suatu masalah" akan
mendatangkan "masalah baru". Ya begitulah seterusnya.
Misalkan untuk masalah "genap" dan "ganjil". Mungkin saja nanti akan
timbul pertanyaan : kenapa hanya dua kata itu saja yang populer? Kalau
"genap" bisa dianggap sebagai kelipatan "dua", lalu "ganjil" bisa dianggap
sebagai "genap plus1" atau "genap min 1", mengapa untuk bilangan lain,
seperti 3, 4, 5 dst tidak ada.
*****Kita boleh saja mengembangkan sistem yang sudah ada asalkan jangan
konrtadiksi dengan sistem lainnya.
#####Ya ya ya, saya setuju dengan itu. Mungkin bisa dianalogikan dalam
pembuatan program Windows. Semakin banyak yang kontradiktif, semakin besar
pula peluang untuk menghasilkan error dalam pengoperasionalnya. Malah
mungkin semakin sering pula terjadi perintah "restart windows".
*****Berbicara lebih dari satu nuansa suatu fenomena memang menarik. Sebab
kita boleh berkreasi, membuat asumsi dst, sampai lahir berbagai nuansa.
#####Kreasi nuansa fenomena tidak terlepas dari tuntutan dari dinamika
Matematika itu sendiri. Yang penting ya itu dia : jangan sampai menimbulkan
kontradiktif.
*****Persoalannya adalah, mana yang lebih komplete, sederhana, aplicable,
dan jangan lupa makna pragmatisnya (kegunaanya). Ini memang tantangannya
orang matematik, apalagi orang matematik murni.
#####Kalau mau pragmatis berarti menyelesaikan dulu masalah sederhana yang
menyangkut kepentingan orang banyak. Sayangnya, masih banyak alumnus SMA
yang gagap terhadap hitungan "1/2 dibagi 1/3". Kenapa ini bisa terjadi?
*****Kita boleh membuat 1+2 =5, dst, tapi pada saat ditawarkan kepada orang
ramai, kita akan dikiranya gila.#####Tetapi kalau mereka merasakannya
sebagai bermanfaat, maka kita akan dikatakan sebagai "jenius". Karena
terkadang perbedaan "gila" dan "jenius" terletak pada nilai kemanfaatan.
Salam,
Nasrullah Idris