From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, March 08, 2000 22:12


     Tetapi kalau anda bisa memberikan intepretasi dari pembagian dengan
nol,  barangkali saya akan mau mempertimbangkannya lagi.
========================
     Hallo Theo
     Saya masih mempertanyakan akan adanya kalimat "Bilangan Tidak
Terhingga" (BTT). Apakah ia "Bilangan Imajiner", "Bilangan Rasional", atau
"Bilangan Realitas".

     Saya rasa kuatnya kultur intelektual masyarakat terhadap kalimat "BTT"
mirip dengan kuatnya kultur intelektual mereka terhadap fenomena seperti
berikut ini :

     Kereta bergerak dengan kecepatan 200 KM per jam. Ada seorang penumpang
dalam kereta berjalan dengan kecepatan 2 KM per jam.

     Kultur intelektual manusia selama ini cenderung beranggapan bahwa orang
itu bergerak dengan kecepatan 202 KM per jam. Padahal kecepatan sebenarnya
tidak demikian.

    Karena kalau gerakan si penumpang diganti dengan cahaya toh tidak akan
menambah kecepatan dari cahaya alias tetap 300 KM per detik.

     Jadi ada apa dibalik kuatnya kultur intelektual semacam itu di mana
Albert Einstein telah berhasil keluar dari kultur tersebut ?

     Saya pun tidak tahu : apa kita perlu mengkaji masalah "pembagian dengan
NOL", sebagaimana Albert Einstein mengkaji masalah Teori Relativitas?


     Saya pun tidak tahu : sampai di mana latar belakang tertentu sampai
mempengaruhi saya mengajukan semua pertanyaan saya di atas ?


Salam,


Nasrullah Idris

Kirim email ke