-- 20:80 dan tittytainment

He ? Apa itu 20:80 dan tittytainment ? 20:80 menggambarkan masa depan
manusia, di mana hanya 20 persen dari jumlah
tenaga kerja yang tersedia, yang dibutuhkan untuk menjalankan roda
perekonomian. 20 persen ini, tidak jadi masalah
di mana mereka hidup, mempunyai hidup yang aktif, berkehidupan cukup,
mengkonsum dunia ini. Yang 80 persen sisanya ?
Mereka harus ditenangkan dengan gizi yang pas-pasan, dilambangkan dengan
<<tits>> alias susu, dan hiburan <<entertaiment>>
yang membuat mereka lupa akan masalah mereka sebenarnya.

20:80, sangat mungkin terjadi bila kita mengikuti logika teknik dan
ekonomi, dan perkembangan integrasi global yang
terjadi sekarang ini. Semua bersaing untuk mencapai efisiensi teroptimal
dan biaya produksi sekecil-kecilnya. Di sinilah
kita ingat akan anggapan keempat kita. Globalisasi DIPERLUKAN untuk
membuka pasar baru dan mendapatkan bahan baku
semurah-murahnya. Bahan baku di sini bukan saja kekayaan alam, tetapi
juga tenaga kerja. Mengapa Global Player membuka
pabrik di Indonesia ? Sebab gaji buruh jauh lebih murah di Indonesia.
Juga tidak usah terlalu pusing dengan masalah
lingkungan. Belum lagi dapat nama baik, sebab membuka lapangan kerja di
negara berkembang. Dan bukan hanya lapangan
kerja yang terbuka, tetapi juga pasar dalam negeri. Diiringi dengan
pengeksporan(tepatnya pengimporan secara sukarela)
cara hidup, sehingga rakyat di negara tersebut berusaha untuk hidup
seperti di negara-negara maju, dengan kata lain,
mobil BMW/Mercedes, rumah bagus, baju merek Italia atau Perancis, dan
segala macam perilaku konsumtif lainnya. Padahal
kita tahu sendiri orang-orang di Jerman malah relatif tidak
konsumtif(karena itu servisnya juga hancur-hancuran).
Tetapi problem sebenarnya bukan itu, tetapi, kita tidak bisa mengimpor
kemampuan untuk mencapai gaya hidup yang
disebut di atas. Atau lebih tepat bila dikatakan, kebanyakan orang tidak
mempunyai kemampuan untuk itu. Mengapa ?
Ingat pembahasan kita di bagian kedua artikel ini. Sebagian kecil rakyat
Indonesia berhasil mencapai taraf hidup
seperti di negara maju, bahkan ada yang jauh melebihi, dengan resep KKN
ala berenang gaya kodok.
Menendang yang di bawah, menepis yang sejajar, menjilat yang di atas.
Loh ? Katanya kita bangsa yang bermoral ?
Yah iya, katanya doang. Habis bagaimana ? Ingat anggapan pertama.
Manusia kan tidak pernah mengenal puas.
Dan susahnya lagi, definisi puasnya sudah globalisasi alias go west.
Begini maksudnya. Suku pedalaman di Irian,
kalau dikasih baju merk A, mereka gak senang tuh, sebab definisi �baju
bagus� bagi mereka bukan itu.
Tapi coba kasih koteka. Nah sekarang dibalik ke kita. Kita dikasih
koteka, wah apa senangnya. Tapi coba dikasih
baju merk apa gitu.

Kembali ke anggapan keempat kita. Apakah globalisasi  benar-benar akan
menguntungkan semua pihak ?
Jawabannya seperti koin. Tergantung dari sisi apa yang sedang dilihat.
Janganlah kita
terlalu mengagung-agungkan globalisasi dan privatisasi. Negara-negara
industri maju(baca: Global Player)
tentu saja mempromosikan itu dan berusaha dalam setiap kesempatan untuk
mewujudkannya. Kita harus membuka
pasar kita hampir di semua sektor, di mana mereka kuat. Tetapi sektor di
mana kita kuat, mereka malah
memproteksinya. Misalnya sektor tekstil dan buah-buahan. Di EU dan USA,
berlaku quota impor untuk tekstil,
yang berarti, Indonesia misalnya hanya boleh mengekspor sekian jumlah
saja. Tidak boleh lebih. Yang lebih lucu
lagi tentu saja peraturan yang berlaku di EU untuk pisang. Setiap pisang
harus mempunyai panjang minimum,
diameter minimum, kelengkungan, dll. Padahal pisang nona di Indonesia
(yang sayangnya kecil-kecil sehingga
tidak bisa diekspor ke EU) tidak kalah enaknya dariapa pisang lainnya.
Mengapa negara-negara industri maju,
yang selalu mengagungkan globalisasi, kebijaksanaannya kok malah
terbalik ? Yah untuk melindungi produksi
dalam negerinya. Ironisnya, kita, yang notabene negara berkembang yang
harus dibantu, malah semakin lama,
semakin tidak boleh untuk melindungi kepentingan produksi dalam negeri
kita sendiri.


-- Faktor-faktor penting yang sering dilupakan

Tanpa disadari, perkembangan dunia ke globalisasi malah memicu dunia ke
arah yang berlawanan. Pemerintah seluruh
dunia lebih mementingkan kepentingan ekonomi tanpa memperhatikan efek
jangka panjangnya. Indonesia bisa menjadi
contoh bagaimana sebuah negara berkembang yang ambisius sekarang
terjebak dalam krisis yang dibuatnya sendiri
selama ini. Kemiskinan, bukan kemakmuran, yang merata memicu keresahan
sosial yang rentan untuk ditunggangi.
Selama yang di atas masih memakai aji mumpung dan gaya kodok, anggapan
kedua kita akan semakin mendekati kenyataan.
Dan bila itu terjadi, berapa tahun yang diperlukan untuk mengejar
ketinggalan kita ? Berapa tahun yang kita
perlukan untuk mengejar Thailand ? Apalagi Malaysia ? Setiap langkah
ekonomi harus diimbangi dengan langkah
di bidang sosial. Seperti misalnya sistem pensiun, asuransi, subsidi
untuk penyamaan kesempatan, dll.
Bila tidak, yang terjadi adalah seperti sekarang ini. Jurang antara si
kaya dan miskin semakin besar.
Yang pada akhirnya akan merugikan si kaya juga bila si miskin berontak.
Apakah yang 80 persen bisa tenang
selamanya dengan <<tittytainment>> ? Bila kapitalis murni yang
dipraktekkan, maka ramalan Marx akan menjadi
kenyataan.

Ada lagi faktor yang sering tidak disadari oleh kita. Faktor ekologi.
Kita pasti sudah sering mendengar tentang
efek rumah kaca, global warming, smog, dll. Manusia dalam rangkanya
untuk mencapai kemakmuran kadang-kadang
hanya berpikir jangka pendek. Misalnya pembakaran hutan di Kalimantan
untuk pembukaan lahan kelapa sawit yang
akhirnya menjadi bencana karena kebetulan ada El Ni�o. Bagaimana anak
cucu kita bisa hidup kelak, kalau
semua pulau sudah menjadi gurun pasir ? Ah, jangan takut, kemajuan
teknologi pasti akan bisa menjawab itu.
Oh yah ? Arah teknologi ditentukan oleh manusia. Bukankah segala polusi
diciptakan oleh teknologi juga ?
Sebab itu arah teknologi harus diarahkan ke penjagaan alam. Mengapa
kebanyakan industri mobil masih belum
membuat mobil yang misalnya 1 liter cukup untuk 100 km ? Ah, 1 liter
untuk 100 km. Mana mungkin ?
100 tahun yang lalu, berapa orang yang percaya bahwa kita tidak perlu
kuda untuk menarik gerbong ?
Mengapa kita ingin membangun PLTN ? Jerman saja sekarang kepusingan
karena skandal radiasi Castor.
Mengapa kita tidak membangun pembangkit tenaga matahari ? Apa iya tidak
bisa atau tidak mungkin ? Mengapa
kita membuat pabrik pesawat terbang, padahal bikin mobil sendiri saja
belum bisa. Mengapa kita tidak meneliti
teknologi agraris, di mana kita sudah mempunyai alam yang mendukung ?

Globalisasi harus bukan saja di bidang ekonomi, tetapi harus diimbangi
dengan faktor sosial dan ekologi.
Bila tidak, maka kita menciptakan bom waktu untuk kita dan anak cucu
kita sendiri. Ah, mana mungkin kita
bisa seideal itu ? Mengapa tidak mungkin ? Semua diawali dari pikiran
kita sendiri. Dua bulan lalu,
mana ada yang percaya, bila ada yang berkata, Soeharto sebentar lagi
akan turun. Tapi apa yang terjadi ?
500 tahun lalu, orang tidak percaya bahwa bumi bulat. 100 tahun lalu,
orang tidak percaya bahwa manusia
akan bisa terbang. 50 tahun lalu, orang tidak percaya bahwa manusia bisa
menginjakkan kakinya di bulan.
Hari ini adalah masa depan !!!

Kirim email ke