Tabayun dalam Eforia Kebebasan Pers


Ahmad M Sewang
Asdir II/Dosen PPS IAIN Alauddin Makassar

Tabayun adalah kata yang diintrodusir Alquran untuk bersikap kritis terhadap
berbagai informasi. Tabayun dapat diartikan sebagai klarifikasi tentang
kebenaran sebuah pemberitaan. Sikap ini diperlukan dalam menghadapi
kesimpangsiuran informasi sebagai dampak sampingan dari reformasi. Era
reformasi membawa bangsa Indonesia melewati tonggak sejarah baru, dari
keseragaman kepada keragaman atau dari keterbelengguan dalam satu pendapat
kepada beragam pandangan.

Reformasi membuat orang menderita penyakit baru berupa eforia kebebasan.
Siapa saja memiliki kebebasan berpendapat tentang apa saja, mulai dari rakyat
biasa sampai kepada kepala negara. Terkadang pendapat itu dikemas secara
berlebihan dalam bentuk isu-isu yang bersifat provokatif, sehingga bisa
mendorong seseorang bertindak destruktif.

Sebagai tindakan preventif dalam mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita
inginkan dari dampak suatu berita, Alquran mengajar sikap tabayun, seperti
tersebut dalam QS al-Hujurat (49): 6, ''Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka ber-tabayun-lah, agar kamu
tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu.''

Ayat tersebut turun sebagai reaksi terhadap berita bohong yang dibawa oleh
al-Walid ibn Ukbah ibn Abi Mu'it. Pada suatu hari Rasulullah SAW mengutus
al-Walid memungut zakat kepada Bani Mustalaq yang telah masuk Islam. Al-Walid
tidak berhasil dalam misinya itu, ia kembali ke Madinah dengan memberikan
laporan palsu kepada Nabi, ''Saya tidak berhasil memungut zakat karena Bani
Mustalaq telah murtad dari Islam,'' lapor al-Walid.

Mendengar laporan itu Rasulullah SAW mengutus Khalid ibn Walid bersama
beberapa orang sahabat untuk melakukan tabayun. Kedatangan Khalid dan
rombongan di Bani Mustalaq dilakukan secara rahasia. Mereka melakukan
penyamaran untuk mendapatkan informasi akurat. Ternyata warga Bani Mustalaq
yang mereka saksikan berbeda dengan apa yang dilaporkan oleh al-Walid. Bani
Mustalaq menjalankan Islam dengan baik, melaksanakan shalat tepat waktu.
Khalid pun segera melaporkan tentang hasil temuannya kepada Nabi di Madinah.
Maka turunlah ayat di atas yang mengingatkan, ''Hendaknya bersikat kritis
terhadap berita yang datang dari seorang fasik.'' Sikap kritis itu diperlukan
untuk menghindari fitnah yang akhirnya akan menimbulkan penyesalan di
kemudian hari sebagai dampak dari informasi yang salah.

Metode Alquran untuk melakukan tabayun pada setiap informasi yang diterima
adalah sangat relevan untuk dipraktekkan di zaman informasi sekarang ini.
Sebab, informasi yang diterima melalui media massa sudah tidak lagi
menggambarkan realitas sebenarnya, melainkan realitas buatan. PBB yang
digambarkan media massa Barat sebagai pusat demokrasi dunia, ternyata
sebaliknya. Lembaga dunia ini memang menjadi tumpuan dan harapan seluruh umat
manusia. Dari gedung PBB-lah diharapkan hembusan angin segar demokrasi.
Tetapi, berbeda dengan kenyataan, PBB-lah yang mengajarkan kediktatoran.
Sepanjang negara-negara besar masih memiliki hak veto, jangan harap
nilai-nilai demokrasi akan muncul dari dalam gedung PBB itu.

Israel yang mencaplok tanah Arab digambarkan media massa Barat sebagai cara
untuk mencapai perdamaian, sehinggan terkenal ungkapan, ''Tanah untuk
perdamaian''. Tetapi, gerakan intifada Palestina yang berjuang membebaskan
tanah air mereka disebut Amerika dan sekutunya sebagai teroris. Media massa
Barat sudah tidak lagi menampilkan realitas yang sesungguhnya. Ini juga
terjadi ketika Pemilu di Al-Jazair dimenangkan oleh al-Jabhah al-Islamiyah li
al-Inqas (Front Keselamatan Islam) secara demokratis. Kemenangan tersebut
dikudeta oleh Angkatan Bersenjata al-Jazair. Amerika dan pers Barat yang
dianggap sebagai pendukung demokrasi justru tidak bereaksi, malah sebaliknya
mendukung kudeta itu dengan alasan sebagai penyelamatan demokrasi dari kaum
fundamentalis. Karena itu, demokrasi Amerika adalah demokrasi 'menurut
keinginannya', atau sebagai cermin dari demokrasi double standar Amerika
Serikat yang selama ini dipraktekkan. Demokrasi semacam ini menurut bahasa
agama disebut demokrasi munafik.

Masih segar dalam ingatan kita, peristiwa huru-hara Mei 1998 yang menyebabkan
lengsernya Presiden Soeharto. Media elektronik dan media persuratkabaran
membuat opini seakan-akan banyak pemerkosaan yang dilakukan oleh pemuda
Muslim kepada warga keturunan. Opini ini sangat berpengaruh dan berulang kali
disiarkan oleh CNN dan internet. Berita pemerkosaan itu sengaja diekspos
untuk mendiskreditkan umat Islam. Kenyataannya, sampai saat ini kasus
pemerkosaan itu tidak bisa dibuktikan. Gambar-gambar pemerkosaan yang
ditayangkan di internat adalah tidak lebih dari gambar-gambar rekaan yang
diambil dari peristiwa yang sudah terjadi sebelum peristiwa Mei 1998.

Berbeda ketika umat Islam dikejar-kejar di Kupang, sampai ada keluarga Bugis
melarikan diri dengan perahu tanpa persiapan bekal makanan. Berhari-hari
mereka di tengah lautan ke laparan. Tetapi, tidak ada satu pun media Barat
yang memberitakannya. Demikian halnya, pemberitaan peristiwa Ambon dan
pembantaian umat Islam di Halmahera, kita sangat kurang mendapatkan berita
akurat dari media Barat. Kita ingat peristiwa apa pun yang terjadi di Timor
Timur sebelum era jajak pendapat akan terpampang di media massa Barat. Tidak
heran, jika terdengar nada sinis, ''Sekalipun jarum yang jatuh ke lantai di
Timor Timur akan menjadi bahan berita besar-besaran di Barat.''

Kejadian demikian berpengaruh kepada beberapa LSM di Indonesia. Komnas HAM
begitu gencar memeriksa para jenderal yang dianggap bersalah pada akhir jajak
pendapat di Timor Timur. Tetapi, terhadap peristiwa pembantaian umat Islam di
Halmahera dan Maluku Utara yang terjadi pada waktu yang sama, Komnas HAM
tidak berbuat apa-apa. Dapat dipahami, jika banyak suara, termasuk MUI,
mengusulkan agar Komnas HAM dibubarkan saja. Amien Rais sendiri turut menaruh
curiga kepada Komnas HAM. ''Sewaktu krisis Timtim, ada satu dua orang
terbunuh, mereka keras sekali reaksinya. Tetapi, ketika ribuan penduduk di
Aceh terbunuh, dan sekarang ribuan warga di Halmahera dibantai, Komnas HAM
tidak bereaksi apa-apa,'' kata Amien. ''Pembakaran Doulos cepat mereka
antisipasi. Tetapi, tragedi pembantaian umat Islam di Halmahera, mereka tidak
peka,'' tambah Husaen Umar.

Kita memang perlu berhati-hati menerima setiap informasi yang sudah tidak
lagi mencerminkan realitas sesungguhnya. Informasi sudah terkontaminasi opini
yang perlu secara kritis disikapi dengan metode tabayun, uji kebenaran, dan
cek ulang. Hal itu diperlukan untuk menghindari terjadinya pengambilan
kesimpulan yang salah, sehingga merugikan kita semua. Sekarang ini,
masyarakat sedang dijejali rumor, isu, dan desas-desus yang bisa memecah
belah dan mengadu-domba umat. Bila kita percaya begitu saja akan berakibat
sangat jauh.

Memang informasi bisa membawa kepada kezaliman. Pengedaran dokumen palsu
tentang Idul Fitri Berdarah di Ambon, membuat sekelompok orang terprovokasi
untuk menyerang dan membantai umat Islam 1 Syawal 1419 H. Betapa dahsyatnya
kerusakan yang ditimbulkan sebuah informasi yang direkayasa. Kerusakan yang
timbul secara beruntun bagai 'teori domino' yang tidak diketahui kapan
berakhir.

''Kita hanya bisa mengetahui kapan mulai terjadi tragedi Ambon, tetapi tidak
seorang pun yang bisa meramalkan kapan berakhirnya.'' Tapi, sekali lagi
Alquran mengingatkan perlunya sikap tabayun untuk tidak mudah termakan
informasi sesat.

Kirim email ke