Dampak Permias DC-Christianto Wibisono? Berita dipetik dari jawapos.com edisi Senin kemarin. Maju terus, pantang mundur. Sapu bersih semua yang "kotor". ''... Cukong kotor, mandor kotor, semua yang kotor ... kena sensor (kata Iwan Fals;-)) salam, penyimak pinggiran ## Theo Usulkan Asian Monetary Fund JAKARTA - Gerakan anti-IMF dan Bank Dunia kian kencang. Setelah Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS) dan ekonom Drs Christianto Wibisono melakukan unjuk rasa anti-IMF (Dana Moneter Internasional) dan Bank Dunia di Washington, kini dampaknya mulai menular ke Indonesia.Pakar perdagangan valas dan anggota Komisi IX DPR RI Theo F.Toemion, misalnya, terang-terangan mendukung gerakan tersebut. Menurut dia, negara-negara di kawasan Asia perlu bersatu membentuk lembaga tandingan IMF dan Bank Dunia. ''Katakan saja namanya Asian Monetary Fund. Selain itu, meluasnya gerakan anti-IMF ini bisa diartikan masyarakat mendukung upaya kemandirian untuk lepas dari IMF secepatnya,'' kata Theo di Jakarta, kemarin. Direktur Speed Currency ini menambahkan, pembentukan lembaga tandingan itu tujuan jangka pendeknya adalah untuk memberikan shock therapy kepada IMF agar tidak bersikap semaunya ketika berhadapan dengan Indonesia. Selain itu, ide pembetukan lembaga itu dapat diteruskan untuk mendukung kemandirian bangsa-bangsa di Asia. ''Seperti yang sering digembar-gemborkan PM Malaysia Mahathir Mohamad,'' ujar fungsionaris DPP PDI-P ini. Pemerintah, kata Theo, sudah saatnya mulai menegaskan sikap kemandiriannya kepada negara dan lembaga donor asing. ''Tetapi, ide itu bukan berarti lantas dapat diartikan menolak globalisasi,'' tandasnya. Momentum pertemuan dengan IMF yang berlangsung hari ini di Washington, kata Theo, merupakan saat yang tepat bagi pemerintah untuk bersikap tegas. Harus ada kemampuan memilah mana yang harus ditolak dan mana yang diterima berkait dengan saran IMF untuk program pemulihan ekonomi. Menurut Theo, saat ini bangsa Indonesia bisa diibaratkan menderita ketergantungan berat pada narkoba. Kalau tanpa keinginan dari diri sendiri, sangat berat untuk memutuskan jeratan ketergantungan itu. ''Meskipun diberi obat dan terapi yang paling canggih sekalipun,'' kata Theo. Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Prof Dr Anwar Nasution mendukung pemikiran Theo F. Toemion atas perlunya sikap kemandirian pemerintah dalam menghadapi perlakuan semena-mena IMF. ''Harus ada kemampuan berdialog dengan IMF,'' kata guru besar Ilmu Ekonomi UI ini. Menurut dia, program letter of intent (LoI) IMF memang dapat saja dinilai baik. Namun, di sisi lain, hal itu dapat bernilai buruk bagi Indonesia. ''Problem mendasar bagi pemerintahan saat ini adalah kemampuan mengimplementasikan penyatuan kekuatan politik dan ekonomi,'' ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan pengamat ekonomi Dr Hartojo Wignjowiyoto. Menurut dia, pemerintah perlu bersikap tegas dalam menghadapi IMF. Namun, konsultan ekonomi Aspecindo ini menolak pembentukan lembaga Asia Monetary Fund untuk menandingi IMF. ''Untuk mandiri, yang diperlukan di Asia bukan penyatuan sistem perbankannya,'' kata pria berkacamata tebal ini. Namun, lanjut dia, yang diperlukan adalah memperkuat dana pensiun, asuransi, leasing, dan pasar modal. Dijelaskannya, pemerintah perlu membentak IMF agar bersedia menerima tawaran pemutusan utang tambahan. ''Kita tidak butuh penjadwalan atau pengurangan utang,'' ujarnya. Untuk mandiri, ujar Hartojo, sebenarnya agak mudah. Dengan kekayaan alam yang melimpah, maka sebagian kekayaan itu dapat dijual dengan konsep sewa 50 tahun atau 100 tahun kepada pihak swasta asing. Hasilnya dapat digunakan untuk membayar utang. Menurut dia, problem pemerintahan saat ini adalah ketiadaan nyali untuk menolak IMF dengan tegas. ''Tak perlu takut diisolasi. Kita mampu kok,'' ujar Hartojo berapi-api. Dia menilai, selama ini Presiden Gus Dur terlalu kompromis dan terlalu humanis dalam menghadapi IMF. ''IMF itu orangnya sama saja, ya korup juga,'' tegasnya. (lal)
