MEREKA PERGI SEKOLAH DALAM ARTI YANG SUCI
----------------------------------------------------------------------------
--
Oleh : Nasrullah Idris
Seharusnya "mereka pergi sekolah" punya makna yang suci, dalam, serta
hakiki, bukan sekedar tiga kata yang membentuk satu kalimat, serta sering
diucapkan secara klise dalam kehidupan.
"Mereka pergi sekolah" harus dipandang sebagai petualangannya atau
perjalanannya ke tempat pendidikan dengan itikad yang sungguh-sungguh buat
melakukan penambangan, penyuapan, serta pengolahan pengetahuan.
Ini atas dasar, kemiskinan pengetahuan atau kekayaan pengetahuan
masing-masing merupakan kondisi "menyedihkan" dan "membahagiakan".
Jadi sikap ikhlas yang terpancar melalui ekspresi wajah ketika menuju
sekolah.
Tambah banyak pengetahuan yang diperoleh, ruang gerak serta ragam
kreatif mereka tambah luas, baik pembicaraannya, pemikirannya, maupun
perbuatannya.
Dengan otomatis, kualitas kepintarannya bertambah dalam menghadapi
problem atau ketergantungannya terhadap realitas akibat kebodohannya
berkurang.
Jadi mereka pergi sekolah bukan sekedar mengikuti apresiasi pendidikan
belaka, tetapi benar-benar meningkatkan porsi pengetahuan tiap saat.
Sebab baginya, pengetahuan merupakan senjata yang ampuh buat
membebaskan dari kemiskinan serta memperoleh kebahagiaan, sekaligus
menghindari segala bentuk penipuan akibat kebodohan. Singkatnya, mereka
seperti menanamkan semboyan : "Tiada Hari Tanpa Ilmu".
Kalau suatu hari tak dapat pengetahuan yang cukup, mereka tampak kecewa
sambil intropeksi, ibarat pedagangan serta pengecer yang tak dapat laba
cukup buat nafkah keluarga. Padahal mereka yakin, hari itu pengetahuan
sangat banyak bisa diperoleh dengan mudah dari sekolah. "Mengapa sampai
begitu?" atau "Mengapa sampai begini?", mungkin demikian kalimat penyesalan
yang terucap olehnya. Ini sekaligus dijadikan pecutan, supaya jangan
terulang lagi pada hari berikutnya.
Ketika masih Sekodah Dasar, mereka tiap pulang sekolah langsung
melaporkan jumlah pengetahuan yang diperolehnya kepada sang ayah atau sang
ibu dengan rasa suka-cita, seperti dapat kueh lezat saja.
Atau mungkin mereka yang menyambutnya dengan panasaran, apakah anaknya
memperoleh pengetahuan yang cukup? Yang pertama jelas mengisyaratkan
kebanggaannya dapat pengetahuan. Sedangkan yang terakhir, mengisyaratkan
kecemasan orangtuanya, jangan-jangan sang anak tak dapat pengetahuan yang
cukup.
Adanya pelaporan serta persoalan seperti itu menggambarkan suasana
komunikasi pendidikan secara hakiki dalam suatu keluarga, yang justru kalau
dipupuk terus dapat menimbulkan sugesti, sekaligus merupakan kiat buat
menciptakan keluarga yang beranggotakan cendekiawan. Sikap spontan mereka
mengisyaratkan bahwa pendidikan dalam keluarga itu mencerminkan pengertian
yang sesungguhnya, sesuai dengan makna hakiki, dalam, serta suci yang
terkandung dalam filosofi pendidikan.
Ketika telah duduk di Perguruan Tinggi, mereka mampu menciptakan
suasana belajar yang serius, semangat, serta rajin, hingga seperti dikejar
gelar, bukan mengejar gelar. Tambah lama gelar tambah mendekati hingga
ketika diwisuda, gelar berhasil menangkap dia. Artinya, mereka memperoleh
hadiah : gelar.
Selain itu, frekwensi kegiatannya di perguruan tinggi lebih banyak
tentang pengetahuan. Kalau ada sahabatnya baru saja dapat suatu pengetahuan
yang baru, mereka cenderung berusaha, supaya mereka juga memiliki
pengetahuan itu.
Mereka memang mengikuti ujian. Tetapi sekedar mengukur, sampai berapa
banyak pengetahuan yang baru diperoleh dalam periode tertentu. Jadi bagus,
mereka puas serta kalau tak, mereke kecewa, yang keduanya terhadap dirinya.
Sebab itu, mereka berusaha menghindari segala bentuk kondisi penilaian tak
wajar antara hasil ujian dengan jumlah pengetahuan yang diperolehnya. Sebab
mereka sadar, kampus bukan panggung sandiwara buat melakukan manipulasi
pengetahuan, supaya dapat nilai layak saat ujian serta segera dapat gelar.
Sebab itu, mereka akan geleng kepala kalau melihat sahabatnya masuk
kampus hanya sekedar untuk memperoleh nilai saja alias tanpa disertai itikad
buat mentransformasikan pengetahuan terhadap kehidupan. Malah tambah geleng
kepala kalau mereka melihat sahabatnya menyontek hasil ujian, karena itu
mengisyaratkan sikap yang tak sungguh-sungguh dalam menuntut pengetahuan.
Mereka punya obsesi buat mencapai intelektual seperti "pohon asli" yang
mesikipun jelek, lusuh, serta kotor, namun selalu berkembang hingga tiap
saat berubah bentuk. Mereka tak ingin punya intelektual seperti "pohon
plastik" yang meskipun indah, licin, serta bersih, tak pernah berkembang
hingga sampai kapan saja punya bentuk seragam.
Memang demikian wawasan filosofi sekolah yang sesungguhnya serta perlu
diaktulisasikan, diapresiasikan, atau dimasyarakatkan, supaya "proses nilai
tambah melalui sekolah" benar-benar dirasakan dalam kehidupan. Sebab segala
pengetahuan yang diperoleh dari sekolah merupakan point-point yang
terhubungkan dengan kehidupan, karena pengetahuan merupakan produk dari
kehidupan.
Jadi seharusnya sekolah dijadikan buat meningkatkan prestasi
intelektual, bukan prestise kepribadian, meskipun akhirnya prestasi
intelektual akan mendukung atau mempengaruhi prestise kepribadian. Soalnya
telah jadi hukum psikologis : terdapat korelasi antara prestise serta
prestasi dalam konteks sebab dan akibat.
Kalau konsep sekolah telah seperti semua itu, maka dalam lingkungan tak
hanya timbul persoalan seperti : "Kapan kamu ujian?" atau "Telah terima
rapor?", seperti yang sudah mendominasi percakapan tentang sekolah dewasa
ini. Tetapi juga persoalan seperti : "Tadi dapat pengetahuan apa?" atau
"Dapat apa dari sekolah?"
Sekolah memang merupakan senjata bagi pembangunan suatu bangsa. Tetapi
tetap tak serta kurang efektif kalau makna hakiki, dalam, serta suci dari
sekolah kurang dan tak merasuk pada lubuk hatinurani bangsa itu.