Setelah bertahun kita melupakan P Sipadan, akhirnya kita dikejutkan oleh
berita penculikan wisatawan di P Sipadan. Yang mengherankan Malaysia masih
saja menganggap enteng masalah status quo pulau itu.

Kira-kira lima tahun lalu saya membaca sengketa kita dengan Malaysia masalah
Pulau Sipadan ini. Dulupun Malaysia dengan cueknya membangun pusat wisata di
situ dengan alasan sebagai penterjemahan usulan pengelolaan bersama dengan
Indonesia di bidang pariwisata.

Kita adalah negara besar, bagaimana mungkin mempertahankan pulau dari
ancaman Malaysia saja kita melempem? Kirim saja satu batalion ke sana.
Pengiriman pasukan dengan pengiriman pengusaha pariwisata sama saja artinya.
Artinya ya menganggap milik sendiri tanah itu. Kalau Malaysia berkeberatan,
ya kita minta mereka cabut juga dari sana. Kita ini dari dulu dikibulin
dengan akal-akalan beginian. Setelah ada impression dunia internasional
bahwa Sipadan milik Malaysia baru kita sadar.

Seharusnya kita tegas. Malaysia saja sangat tegas dalam menangkapi para
pekerja Indonesia di sana. Sudah saja, kirim satu batalion dong. Dulu yg
mengangkat masalah ini kalau tidak salah cuman wartawan Kompas. Memang
dasarnya kita penakut. Sama Singapura kita takut, sama Malaysia kita takut,
sama Australia kita melempem. Beraninya cuman sama mahasiswa doang. Nah, ini
sebetulnya kesempatan buat Tyasno untuk menunjukkan fungsi TNI-AD untuk bela
negara. Bukan jadi bayangkari pemegang kekuasaan. Tyasno...tyasno.... udah
pakai saja celana monyet saja. Pakai baju hijau tidak pantas....:)


Anjasmara
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke