Majalah Gatra - Edisi Nomor 31, VI, Tanggal 17 Juni 2000
Taufiq Ismail *
Demokrasi Kebun Binatang
DALAM acara Pemuda Muhammadiyah pada 28 Mei, memperingati dua tahun
reformasi, bersama enam seniman saya membacakan puisi saya: Kucing Jinak
Dipaksakan Berdemokrasi dengan Kucing Hutan. (Metafor kucing hutan dari
Asrul Sani). Salah seorang yang hadir Presiden Abdurrahman Wahid.
Saya menduga, dia akan mengomentari puisi saya itu. Tapi taksiran saya
meleset. Dia tidak berselera memberi komentar terhadap reaksi keras
masyarakat yang menentang usulannya mencabut Tap MPRS Nomor XXV/1966.
Presiden menepis semua puisi itu dengan, "Ah, itu kan cuma puisi protes
saja." Tapi, karena saya menyebut kucing dalam sajak humor saya, presiden
menukas, "Nah, saya punya anekdot tentang harimau."
Lelucon itu tentang seorang yang dikejar macan, dan berhenti di tebing
jurang. Setengah mati ketakutan dia berdiri, memejamkan mata dan berdoa.
Sehabis dia berdoa, dibukanya matanya. Dia terkejut melihat harimau yang
mengejarnya tadi berdiri di sisinya, juga menutupkan mata. Orang ketakutan
itu bertanya, "Yang pantas berdoa kan saya. Kenapa kamu berdoa juga?"
Harimau itu menjawab: "Lha, saya kan berdoa sebelum makan." Hadirin tertawa
gemuruh. Dengan lelucon itu persoalan (sepertinya dianggap) selesai.
Mari kita bersama-sama pergi ke kebun binatang, karena persoalan belum
selesai. Kita dengarkan bersama gagasan pimpinan baru kebun binatang, yang
ingin mereposisi sebuah kandang penting. Penduduk kandang itu kambing,
kancil, kelinci, kijang, kucing, kuda, anjing, domba, sapi, kerbau, gajah,
rusa, perkutut, burung hantu, dan jerapah. Karena sudah 34 tahun lamanya
serigala dikucilkan, Pak Kepala berminat benar memasukkan serigala ke dalam
kandang besar itu.
Alasannya, demokrasi hewan harus ditegakkan, termasuk demokrasi
serigala. Menurut serigala, ukuran demokrasi adalah "sama-sama hewan", dan
gagasan ini dengan gigih didukung kepala kebun binatang. Ke-15 hewan lainnya
itu tak setuju. Menurut mereka, definisi demokrasi adalah "sama-sama hewan
yang tidak memakan satu sama lain". Pak Kepala, ganjilnya, tak menerima
logika ini, dan tetap berpihak pada definisi demokrasi serigala.
Pada suatu hari dia membawa seekor hewan berkaki empat ke depan kandang
itu. "Kalian tengoklah makhluk penyabar ini. Nah, kan dia jinak dan baik
hati," kata Pak Kepala. Ke-15 hewan itu berteriak. "Lho, itu kan serigala,
yang memakai jaket kulit kambing dan memakai telinga kambing palsu!" seru
mereka. "Biar menyamar seperti apa, Pak Kepala, kami tetap kenal betul bau
keringat badannya!"
Esoknya dia datang ke depan kandang, menuntun lagi makhluk itu. "Coba
perhatikan ciptaan Tuhan ini, bukankah dia jinak dan baik hati?" tanyanya.
Ke-15 hewan penghuni kandang bersorak. "Yaaah, itu kan serigala menyamar
lagi, yang memakai rompi bulu domba, dan memakai tanduk domba palsu!" seru
mereka. "Biar menyamar seperti apa, Pak Kepala, biar bulunya wol putih
seperti domba Ostrali, kami tetap kenal gigi dan taringnya yang
runcing-runcing itu!"
Kepala kebun binatang kesal. "Bagaimana ini kalian, kok tidak
menghormati demokrasi serigala? Hargailah hak-hak asasi hewan. Artinya,
jangan mengucilkan hewan apa pun," katanya.
Ke-15 hewan penghuni kandang berebutan bicara. "Bagi kami, hak-hak asasi
hewan adalah tidak mempertakuti hewan yang lain. Serigala ini dulu, 42 tahun
yang lalu, juga 34 tahun yang lalu, bukan saja mempertakuti, tapi memakan
daging penghuni kandang yang lain. Buas sekali dia ini. Pak Kepala, kok
seperti tidak belajar biologi. Pada 34 tahun silam, di mana Pak Kepala?"
Kepala kebun binatang tidak pernah menjawab pertanyaan ini. Hewan-hewan
itu berebutan bicara, "Bagaimana Pak Kepala ini? Jangan-jangan nanti
dimasukkannya juga macan dan ular kobra ke kandang kita ini, demi demokrasi
serigala."
Melalui mesin waktu, lewat terowongan dengan angin taifun berputar
tiba-tiba, kita sampai di Gedung MPR-DPR. Anak-anak tukang koran menjual
harian sore tahun 2001. Sebuah jumpa pers sedang berlangsung, dipimpin
kepala humas.
l Saudara pimpinan. Kenapa Partai Nazi, yang dilarang di Jerman, di
negara demokratis itu, dibolehkan dibentuk di DPR kita?
l Begini, Bung. Sesudah Tap XXV/1966 dicabut, maka betul-betul kita
sepenuhnya melaksanakan demokrasi. Kita paling demokratis di dunia. Republik
Federasi Jerman itu katanya saja demokratis, tapi toh ideologi Nazi
dilarang. Aneh itu. Padahal Nazi itu cuma membunuh 6 juta orang Yahudi saja
di masa Perang Dunia II. Ideologi komunisme, yang membunuh 100 juta orang
sedunia saja, kita izinkan hidup kembali partainya, apalagi ideologi Nazi.
l Saudara pimpinan. Kenapa Partai Fasis Mussolini yang tak boleh hidup
di Italia itu dibolehkan berdiri di Indonesia?
l Begini, Bung. Kita demokrat tulen di atas jagat raya ini. Italia itu
katanya saja demokratis, tapi fasisme kok tabu di sana. Kita tunjukkan pada
mereka bahwa rezim ini betul-betul 100% demokratis. Bukan saja Partai Fasis,
juga Partai Homo, Partai Lesbo, dan Partai Madat, sudah berdiri sekarang.
l Saudara pimpinan. Apakah benar ada penyuapan anggota MPR, praktek
money politics, yang memberi suara mencabut Tap XXV dalam sidang yang lalu,
sebanyak lima trilyun, yang diduga datang dari negara kaya, yang ingin
melihat negara kita tercabik-cabik?
l Tidak betul itu. Jumpa pers selesai.
Di kebun binatang, ternyata bukan cuma serigala yang masuk kandang,
melainkan juga macan dan ular kobra. Demokrasi serigala tegak di kebun
binatang itu.
* Penyair dan budayawan