Mohon maaf untuk redaksi Kompas, karena saya terpaksa mengutip secara
keseluruhan tulisan percakapan di bawah ini. Hal ini karena ketidakmampuan
saya untuk memotong tulisan wawancara yg padat isi dan bisa dikatakan
mewakili sebagian perasaan masyarakat bawah.
Tuntutan agar Amien Rais lengser atau pun mundur dari jabatan ketua MPR
tampaknya sudah tidak bisa ditunda2 lagi demi meningkatkan kepastian
akan pemulihan ekonomi serta kestabilan politik dan keamanan di Indonesia.
Sudah terlalu lama masyarakat Indonesia menunggu harapan untuk melihat
Indonesia yg lebih baik pasca pemerintahan Soeharto.
Akankah masa penantian tersebut akan menjadi lebih panjang hanya karena
tingkah dan ulah seorang Amien Rais???
Kini saatnya rakyat bicara dengan jelas dan tegas terhadap pilihan yg ada:
Meminta Amien Rais mundur dari jabatan sebagai ketua MPR, ataukah
mempersiapkan
diri untuk menghadapi ketidakpastian di bidang pemulihan ekonomi, politik,
dan keamanan.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
http://www.kompas.com/berita-terbaru/0006/26/headline/09.htm
Senin, 26 Juni 2000, 05:00 WIB
Sarapan Pagi bersama Ahmad Tohari
Di Desa Saya, Rakyat Tidak Peduli Syahril Sabirin
Purwokerto, Kompas Cyber Media
Percakapan dengan Kurniawan Junaedhie
Novelis dan kolumnis Ahmad Tohari menuturkan, di desanya, sekitar 20
kilometer dari Purwokerto rakyat tidak perduli soal Syahril Sabirin. "Yang
sangat mengusik ketentraman justru pertikaian elit politik di Jakarta.
Rakyat yang kini sudah mulai bisa membeli gula dan beras sering
dikejutkan oleh omongan kampungan yang tak ada juntrungannya,"
demikian Tohari.
Dihubungi di desanya, Tinggar Jaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten
Bayumas melalui telepon genggam --satu-satunya alat komunikasi yang
bisa dilakukan-- Ahmad Tohari mengatakan, rakyat tidak perduli soal
Syahril Sabirin. Bagi rakyat, yang penting tidak lapar, bisa menyekolahkan
anak dan keadilan harus ditegakkan. "Kalau Gubernur Bank Indonesia
dianggap korupsi, ya wajar kalau ditahan. Kenapa jadi ada pro-kontra?"
Menurut novelis yang karya-karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam
bahasa asing ini, pertikaian di tingkat elit politik di Jakarta memang sering
membuat warga desa terkaget-kaget. "Rakyat tidak paham soal konspirasi
politik, atau motif-motif politik yang ada di belakangnya. Yang jelas bagi
rakyat, omongan mereka kampungan, ngawur, kasar, dan sama sekali
tidak mencerminkan seorang intelektual," katanya.
Ditanya siapa yang dimaksud elit politik itu, Tohari menjawab, "siapa saja
yang suka ngomong di koran-koran."
"Masak ada tokoh elit, menggunakan istilah "menjewer presiden", padahal
masih ada padanan kata yang lebih santun, misalnya "mengingatkan
presiden. Rakyat kan jadi bingung?" katanya.
Partisanisme ala Orde Baru
Novelis yang kini sedang menyiapkan novel Bekisar Merah bagian II yang
mengungkap kebobrokan rezim Orde Baru itu juga heran, kenapa
belakangan semua kejelekan Gus Dur disorot, termasuk kesehatan Gus
Dur dipersoalkan, akibat omongannya yang ceplas-ceplos. "Lha kan kita
semua sudah tahu, sejak sebelum menjadi presiden pun Gus Dur sudah
ceplas-ceplos. Pantesnya, kan Pak Amien (Amien Rais, red) atau Pak
Akbar (Akbar Tanjung, red) juga dicek kesehatannya," katanya.
Sementara itu, Tohari juga mengecam sikap para anggota DPR yang
dinilainya hanya asal galak dan asal vokal.
"Mereka masih terjebak partisanisme ala Orde Baru. Yaitu masih
mengutamakan golongan atau partai politiknya. Padahal mestinya kan
mereka membawakan suara rakyat."
Mantan Ketua Dewan Kesenian Banyumas dan kolumnis Suara Merdeka
itu mengingatkan bahwa ingar bingar ini bila terus berlarut-larut bisa
mengusik kegairahan masyarakat desa yang sesungguhnya sudah mulai
muncul. Ditunjukkannya, tempat-tempat perbelanjaan yang belakangan
makin ramai, yang berarti sudah pulihnya daya beli masyarakat.
Tohari mengibaratkan pemerintahan Gus Dur seperti tim dokter yang
sedang bekerja di ruang gawat darurat. Pasiennya adalah bangsa ini.
"Kalau kita ribut terus, konsentrasi tim dokter itu tentu bisa kacau,"
ujarnya.
Karena itu, menurut Tohari, pemerintahan Gus Dur yang legitimate itu harus
didukung, apa pun hasilnya. "Masak Syahril Sabirin ditahan saja jadi bahan
polemik berlebihan Percaya saja, rakyat di desa nggak perduli soal Syahril
Sabirin," katanya mengakhiri pembicaraan. (***)