Wah, ada apa kok LSM Jepang ikut-ikutan. Sampai 24 LSM ngomong bareng
lagi...:) Seperti biasa, satu move selalu ada motivasinya. Saya jadi ingat
cerita bahwa tahun 1930an akhir banyak sekali turis asing dari Jepang yang
berjalan-jalan pakai sepeda ke seluruh pelosok tanah air. Sebagaimana
layaknya turis Jepang saat inipun, mereka dari dulu hobi motret. Tidak
tahunya dulu mereka memotret untuk kepentingan invasi. Kalau yg diceritain
dulu sih bagaimana turis Jepang yg ramahnya luar biasa suka jalan-jalan ke
pelabuhan Tuban. Giliran tentara sudah sampai, si turis yg ternyata opsir
tentara jadi petunjuk jalan di wilayah itu. Dia juga jadi petunjuk
siapa-siapa yg perlu diambil dan yg perlu dibina. Selain itu tentunya juga
menunjukkan anak gadis mana yang perlu diambil.

Saya pikir cuman terjadi di Indonesia saja, ternyata di seluruh wilayah
mereka juga gitu. Dasar bogel-bogel geblek. Mereka ini asal ngomong kok
nggak ingat tengkuk sendiri. Gimana nasib Jugun Ianfu di Indonesia? Apakah
mereka sudah diberi ganti rugi?

Jepang dari dulu dikenal mlekithik. Kalau mengulurkan tangan pasti tangannya
berlipat. Hati-hati saja deh...:) Jangan sampai tangan-tangan luar
mengobok-obok. Ingat saja kasus Sierra Leonne. Katanya membantu, nyatanya
malah makin memperpanjang konflik yg sudah gawat.

Mereka-mereka ini justru menjadikan konflik sebagai proyek. Tentunya lebih
senang kalau proyeknya ada terus kan? Kalau proyek selesai mereka jadi
pengangguran.


Anjasmara

----------------------------------------------------
24 LSM Jepang:
"Cabut Darurat Sipil di Maluku"
15 Jul 2000 18:13:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Puluhan LSM Jepang mengirim surat kepada Presiden
RI, Abdurrachman Wahid melalui KBRI Tokyo, Jumat (14/7). Surat berisi
pernyataan sikap atas pemberlakuan Darurat Sipil di Maluku dan Maluku Utara
itu ditandatangani sekitar 900 orang Jepang dari 24 LSM, dan ditembuskan
kepada Wapres Megawati Soekarnoputri, Menlu Alwi Shihab, Menhan Yuwono
Sudarsono, Panglima TNI Widodo AS dan Kapolri Rusdihardjo.

Dalam pernyataan sikap itu, mereka menyatakan keprihatinannya atas sejumlah
tragedi berdarah dan pelanggaran HAM di Indonesia. Pernyataan itu dibuat
sebagai upaya LSM Jepang menggalang solidaritas Internasional terhadap
tragedi Maluku yang situasinya semakin parah. Natsuko, aktifis NINDJA
(Network for Indonesian Democracy, Japan), mengatakan, situasi di Maluku
semakin parah dengan masuknya kelompok ketiga di daerah konflik. Soal ini,
ia juga mengatakan, pejabat KBRI Tokyo yang ditemui para aktifis LSM Jepang
itu mengakui, memang ada pihak ketiga yang terlibat, namun sulit untuk
mengabaikan pihak ketiga tersebut.

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, para aktifis itu curiga,
pemberlakukan darurat sipil hanya akan membatasi hak-hak masyarakat sipil.
Selain itu, kawasan Maluku akan terisolir sehingga akses bagi masyarakat
Internasional tertutup atau paling tidak dibatasi. Karena itu, mereka
meminta agar pemerintah RI tidak membatasi hak-hak masyarakat sipil,
menjamin arus informasi, memberi kesempatan kepada media atau LSM yang
independen untuk masuk dan melakukan pemantauan, dan segera mencabut darurat
sipil.

Selain itu, mereka juga berharap agar pemerintah Indonesia segera menindak
keras kelompok tertentu yang oleh Presiden Wahid dikatakan mendukung tragedi
Maluku tersebut. Pemerintah Indonesia juga harus memberi bantuan kepada para
korban dan pengungsi. Jika perlu, masyarakat Jepang akan mendesak
pemerintahnya untuk menangani bantuan kemanusiaan untuk Maluku. Mereka juga
meminta agar bantuan kemanusiaan yang akan diberikan, baik oleh Lembaga
Internasional maupun LSM, tidak dihalangi.

Ke-24 LSM itu adalah: APEC Monitor NGO Network; Ayus Buddhism International
Cooperation Network; Asian Womens Center; Citizens' Deplomatic Centre for
the Rights of Indigenous Peoples; Consumers Union of Japan; Foeigners' Labor
Union (The Branch of Tokyo of Tokyo Labor Union of ZENROKYO); Handmaids of
the Sacred Heart of Jesus; Institute for Alternative Community Development;
International Movement Against All Forms of Discrimination and Racism
(IMADR); Japan CHT Committee; Japan Catholic Council for Justice and Peace;
Japanese Christian Network for Reconciliation in Maluku; Japan International
Volunteer Center; Japan NGO Network on Indonesia (JANNI); Kobe Student Youth
Center; Pacific Asia Resource Center (PARC); Osaka YWCA International Desk;
Nagasaki Womens International Peace Conference (N-WIP); Network for
Indonesia Democracy Japan (NINDJA); NGO Forum on ODA Policy Reform; National
Christian Council in Japan - Committee on International Affairs; People to
People Aid; Shimonoseki Solidarity Group (Free East Timor-Japan Coalition);
Tokyo Confessing Church, Church of Christ in Japan, Presbyterian-Reformed.
(LN Idayanie)

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke