Lho, memangnya yg diharapkan oleh Arya dari ngomong2 itu apa?
Khan omong2 tidak menjamin tidak akan muncul perbedaan toh?
Justru karena ngobrol2 itulah maka munculnya perbedaan jadi
semakin besar....:)
Menyamakan pemikiran atau pendapat dua orang itu jauh
lebih mudah ketimbang harus menyamakan pemikiran
atau pendapat 100 orang.

Nah, seharusnya dari ngobrol2 itu yg perlu dicari pertama
kali adalah kesamaan landasan berpijak.

Kita ambil contoh saja kasus Maluku [karena yg lagi
dibicarakan dalam posting akhir2 ini].

Kalau mau membahas kasus Maluku, landasan
berpijaknya harus disamakan dulu.
Kita mau melihat kasus Maluku lebih dari unsur
kemanusiannyakah, atau kah kemampuan
bangsa sendiri mengatasi masalahnyakah,
atau ketidaksukaan kita akan intervensi asing
melalui pasukan perdamainnya kah [walau pun
dimasa lalu kita ngga pernah protes atas pengiriman
pasukan garuda, pasukan perdamaian dari indonesia
yg diperbantukan untuk memperkuat pasukan perdamaian
PBB.dimana bagi kita hal tersebut bukan masuk dalam
kategori intervensi kita pada negara lain...hehehe], dll.

Jadi, disamakan dulu hal ini, mana yg lebih kita prioritaskan
dalam menyikapi masalah maluku.
Kalau hal ini sudah disepakati dulu, barulah mulai
dilihat permasalahan yg ada dan dicari jalan keluarnya.
Kalau dasar berpijaknya sudah sama, maka hal
lain menurut saya akan jauh lebih gampang dicapai.

Jadi, bukan komitmen yg dikedepankan pertama kali.
Karena komitmen ini khan seperti suatu kotak dimana
kalau ngga ada isinya, ya kotak itu kosong alias komitmen
itu kosong karena ngga ada hal yg di komitkan...:)

Jadi, kalau boleh saran, jangan gampang2 langsung
ngeluarin keluhan2 keputusasaan seperti itu lah.
Saya perhatikan anda sering kali mengeluarkan keluhan2
keputusasaan yg seolah2 di dunia ini hanya ada 0 dan 1.
Kalau ngga 0, maka 1.....:)


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke