Ini cerita nyata nih. Begini :
     Ada dua orang bersahabat. Yang satu berprofesi sebagai Tukang Kayu dan
yang lain berprofesi sebagai Tukang Tembok. Rumahnya pun berdekatan. Ya
sekitar ratusan meter.
     Sekali waktu datanglah sepasang suami-istri ke rumah salah seorang di
antaranya. Maksud kedatangan mereka dalam kaitan pembangunan pagar tembok
bagian depan rumahnya
     Hanya yang ditemuinya itu adalah rumah si tukang kayu. Sementara tukang
kayu itu dengan meyakinkan menyanggupinya. Tamu itu pun mempercayainya.
     Seharusnya tukang kayu ngaku saja bahwa profesinya bukan tukang tembok,
sehingga bisa dialihkan kepada temannya itu.
     Pembangunan pagar memang bisa diselesaikannya. Tetapi ya tidak serapih
pekerjaan temannya itu. Malah ada posisi yang tidak tegak lurus.
     Yang menjadi pertanyaan :
     "Seberapa besarkah kontribusi mental semacam tukang kayu itu terhadap
krisis ekonomi di Indonesia" ?


Salam,

Nasrullah Idris
----------------------
P.O. Box 1380 - Bandung 40013
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu

Kirim email ke