Rekan-rekan dan Nasrullah Idris yth.,
Saya heran bercampur sedih mengamati gaya diskusi rekan Acu ini.
Berangkat dari ide yang dia lontarkan ke berbagai miling list, apabila
ada yang menanggapi tulisannya, maka dia akan respon tanggapan tsb namun
tidak dipostingkan kembali ke miling list asal dari pemberi tanggapan,
malah dipostingkan ke miling list lain, seperti contoh di bawah ini.
Jadi, kalau ada teman di miling list ini memberikan tanggapan terhadap
tulisan rekan Acu, jangan berharap mendapat tanggapan balik dari yang
bersangkutan di milis ini.
Saya rasa cara diskusi seperti ini adalah tidak fair. Lihat saja satu
contoh di bawah ini. Yang bersangkutan (si penanggap) tidak pernah punya
kesempatan untuk mengklarifikasikan makna tanggapannya (yang bisa saja
dan seringkali tidak ditangkap dengan tepat oleh rekan Acu dan bahkan
kemungkinan banyak bagian-bagian penting dari tulisan yang sengaja
dihilangkan oleh rekan Acu) dan mendapat kesempatan mendiskusikan
tanggapan balik dari rekan Acu.
Terkesan bahwa rekan Acu hanya ingin menunjukkan kalau dia bisa
melemahkan tanggapan orang lain dan menonjolkan pemikirannya. Setelah
itu selesai. Ganti topik ide lain, dan kalau ada tanggapan lagi lalu
dipostingkan di milis yang lain dengan menonjolkan dominasi
pemikirannya.
Cara-cara diskusi seperti ini bagi saya adalah hal yang baru dan terasa
sangat tidak enak dalam membacanya, karena sangat kentalnya muatan TIDAK
FAIR-nya. Di sisi lain, kita tidak pernah mendapat pembelajaran dari
diskusi dengan cara ini. Lalu, dimana dong pola pikir Detail, Tuntas,
Integratif, yang anda gembar-gemborkan?
Rekan Acu, sebenarnya, apa sih yang ingin anda tunjukkan?
Salam,
Budi
Nasrullah Idris wrote:
>
> From: Priyo Asmoro <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Friday, July 28, 2000 1:34 PM
> Subject: [desentralisasi] Re: ##### Mengubah Paradigma Penulisan Resep
> Masakan
>
> Hallo Mas Priyo
> <Ngomong2 bidang studi anda apa?>
>
> *****Nah, sedikit beda dengan pendapat anda, saya lebih senang dengan kata-
> kata 'secukupnya', dan saya rasa ini justru kekhasan kita yang jangan sampai
> hilang.
> #####Itu pelestarian kebudayaan yang salah kaprah. Kalau begini caranya
> sudah saja bikin surabi dengan alat yang terbuat dari tanah itu, nggak usah
> pakai alumunium atau stailes. Demikian juga untuk gayung jangan menggunakan
> barang yang terbuat dari plastik. Pakai aja yang terbuat dari batok kelapa.
> Bukan begitu cara melestarikan kebudayaan.
>
> *****Banyak anak muda yang sering bingung kalau belajar memasak melalui baca
> resep karena banyak ukuran yang khas tadi.
> #####Ya terang aja, karena masih tetap menggunakan paradigma lama.
> Dengan praktisnya masak mie instan sebenarnya mereka sudah merasakan
> arti dari resep yang terukur. Bukankah bumbu yang terkandung dalam mie
> instant sudah merupakan yang terukur. Misalkan mereka masak 1 bungkus mie
> instan. Berarti mereka harus memasukan 1 bungkus bumbunya. Kalau dua bungkus
> berarti memasukkan 2 bungkus bumbunya. Kalau sebuah bumbu mempunyai
> perbandingan resep x : y : z : m : a, maka untuk dua bungkus mempunyai
> perbandingan resep 2x : 2y : 2z : 2m : 2a yang akhirnya sama saja dengan x :
> y : z: m :a. Gitttuuuuuuuuuuuuu
> Rasanya kan sama.
>
> *****Sebenarnya mestinya mereka nggak perlu bingung kalau cukup PD. di satu
> sisi ini juga memberi kesempatan untuk masing-masing pemasak menurut
> seleranya sendiri.
> #####Itu lain lagi perkaranya. Yang saya maksud dengan mengubah paradigma
> itu dalam rangka memberikan default suatu masakan. Resep itu sendiri bisa
> dirubah akan perbandingan bahan maupun cara masaknya ---> sesuai selera.
> Kebiasaan kita dalam mengotak-atik Microsoft Word 97 bisa dijadikan cermin.
>
> *****secukupnya buat yang suka asin jelas beda dengan yang suka manis.
> #####Karena itu bikinlah dua macam resep masakan. Yang penting bagaimana
> supaya terukur.
>
> *****Kalau semua distardardkan ala barat, lha kasihan dong,kita jadi nggak
> punya ukuran sendiri. Tul nggak?
> #####Bukan maksud saya melakukan standar dari barat untuk diterapkan di
> Indonesia. Tetapi bagaimana mengurangi kesenjangan antara perencanaan yang
> hendak dimasak dengan kenyataan rasa yang diperoleh.
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris
> ----------------------
> P.O. Box 1380 - Bandung 40013
> Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
> http://bdg.centrin.net.id/~acu