----- Original Message -----
From: Justiani <[EMAIL PROTECTED]>

Gerakan Politik versus Kultural,

Sektarian versus Non-sektarian

Oleh: Justiani

(Artikel ini Ditolak oleh KOMPAS)

Dalam salah satu acara diskusi ICMI baru-baru ini, tampak menonjol
perdebatan di seputar "Gerakan Kultural versus Gerakan Politik" guna
menentukan arah ICMI di masa mendatang. Sebagai pengamat dari luar pagar,
saya ingin menyampaikan refleksi yang tentu saja sangat "bias" karena saya
tidak terlibat didalamnya.

Pada awalnya, saya tergolong yang tidak setuju ICMI, karena memang saya
tidak percaya sama intelektual. Dalam pandangan saya, intelektual itu ada
hanyalah karena sebuah kecelakaan sejarah ala "Taylorism" di Eropah. Dimana,
di jaman St. Bonaventure memisahkan antara "manual labor" versus "mental
labor" yang dijustifikasi oleh sistem produksi ban berjalan ala "Taylorism"
yang telah memaksa dan mematikan kesempatan para buruh pabrik untuk bisa
berpikir, berkreasi, apalagi berdebat kusir secara ilmiah sehingga mendapat
predikat "intelektual".

Tapi, akhir-akhir ini, merefleksi tentang ICMI dan kiprahnya menjadi sangat
menarik, justru ketika Gus Dur, Sang Kiai, yang sejak awal sama dengan saya,
yaitu tidak setuju ICMI, sedang berkuasa. Gus Dur yang sejak semula selalu
mengkritisi ICMI dengan slogannya yang sangat terkenal yaitu "Islam sebagai
Gerakan Kultural dan bukan Gerakan Politik", sekarang ditantang oleh
pernyataan dan keyakinan yang selama ini digembar-gemborkan secara langsung,
secara nyata dan harus bisa diuji oleh publik. Apa dan bagaimana yang
dimaksud oleh Gus Dur dengan pernyataannya itu.

Kembali kepada diskusi ICMI yang kebetulan saya hadiri. Sebagian besar
peserta diskusi amat sangat mendukung ICMI sebagai gerakan kultural, bahkan
diantaranya amat menyayangkan, bahkan terasa menyesalkan, peran ICMI yang
cenderung menjadi gerakan politik di waktu yang lalu sehingga berakibat
kepada terpuruknya ICMI bersamaan dengan terpuruknya kekuatan politik yang
menyertainya. Namun ada sebagian peserta yang kritis dan lantas
membandingkan ICMI dengan Muhammadiyah. Kalau gerakan kultural, mana ada
yang bisa mengalahkan Muhammadiyah, dengan ratusan sekolah hingga perguruan
tinggi, rumah sakit, dan panti-asuhan, dll. Lantas apa bedanya dan apa
mungkin ICMI akan menyaingi Muhammadiyah. Tentu bukan demikian. Lalu apa
makna gerakan kultural itu? Atau apa makna gerakan politik itu? Bagi ICMI
tentunya.

Saya langsung sepakat dengan sebagian peserta yang terakhir ini. Pasalnya,
ICMI lahir memang sebagai alat politik umat, diantara suasana politik yang
begitu menyesakkan, tiba-tiba ada secercah peluang untuk "bermain", justru
ketika Soeharto sedang rapuh. Maka ICMI harus pandai-pandai membawa diri.
Diantara alat perjuangan umat dengan alat justifikasi politik Soeharto kala
itu terdapat suatu benang merah yang harus dimainkan secara cermat, tepat,
teliti. Misalnya bagaimana memasukkan kepentingan umat diantara kepentingan
penguasa yang dhalim kala itu. Itu adalah jihad dalam versi jamannya,
menurut saya.

Namun itu semua adalah masa lalu. Tapi sejarah selalu bisa ditengok kembali
dengan jernih dan jadi bahan pelajaran. Apalagi tatkala ada perbandingan
yang sangat menyolok sekarang ini. Perbandingan dengan Gus Dur yang
mengatasnamakan umat, secara spesifik rakyat Nahdlatul Ulama, dengan slogan
Islam sebagai gerakan kultural.

Waktu itu, ICMI sangat ditakuti. Tidak saja oleh umat beragama lain yang
minoritas, tetapi terlebih lagi oleh kekuatan pasar dunia. Ketika itu, saya
berada di Montreal, maka saya bisa merasakan dengan jernih bagaimana denyut
kekhawatiran para pengusaha kelas dunia terhadap sepak-terjang ICMI. Bagi
mereka, yang ada adalah persoalan bisnis. Yang lain, apa itu politik,
kebudayaan, agama, keamanan, dll. adalah alat saja. Maka, ICMI bukan
sebagaimana dipahami oleh umat di tanah air. ICMI amat dikhawatirkan sebagai
alat pemasaran berlandaskan prinsip "brotherhood" diantara sesama
negara-negara muslim. Perkawinan antara sosok Habibie yang modern,
berpengalaman internasional, dengan kemampuan "high technology", merupakan
ancaman yang luar biasa. Jumlah umat Islam yang dua pertiga penduduk dunia
ini adalah mayoritas pasar dunia, terutama dunia ketiga, yang dipasok dengan
berbagai teknologi usang, yang sudah menjadi buangan negara maju. Apa pula
yang akan terjadi apabila ICMI sampai menjadi alat pemersatu negara-negara
muslim melalui barter teknologi tinggi dengan komoditi primer semacam kopi,
beras, dsb. Yang tentu akan menggoncangkan pasar dunia. Itulah wajah ICMI di
tingkat internasional.

Maka, tidak heran, ketika mendarat di tanah air, saya merasakan bahwa
gerakan anti ICMI begitu kuatnya, bersamaan dengan gerakan anti Habibie
tentu saja. Berbagai jalur LSM, tampaknya bisa dikuasai dengan baik dan
seksama. Begitu pula, jalur media massa, jalur mahasiswa, yang bisa
dikerahkan dengan luar biasa untuk secara serempak menjatuhkan Habibie. Dan
tentu saja, Gus Dur adalah kandidat terkuat. Bukan Megawati. Bagi kekuatan
internasional, Gus Dur, yang bau Islamnya lebih kental tetapi selalau
mengudarakan "Islam Kultural, Non Sektarian", akan lebih memudahkan segala
sesuatu apabila dia yang menjadi presiden. Islam dengan warna yang sama
sekali tidak menakutkan bagi dunia usaha internasional.

Sekarang, dunia sedang menyaksikan. Apa yang dimaksud oleh Gus Dur selama
ini dengan slogan dan gembar-gembornya itu. Dunia menunggu-ngunggu. Dan,
yang ditunggu tidak tampak kemunculannya. Yang ada hanyalah simpang-siur
dari celoteh Gus Dur yang berbau gosip, fitnah, dan asbun (asal bunyi) tanpa
ada kejelasan, sambil tidak lupa, sebagaimana kelakuan Soeharto, Gus Dur
melakukan adu-domba elite untuk menguatkan posisi pribadinya.

Sementara itu, hampir semua kegiatan ekonomi yang melibatkan pemerintah dan
BUMN secara praktis berhenti. Bagi pejabat yang tidak aman akan
kedudukannya, yang merasa sebentar lagi akan diganti, cepa-cepat mengobral
tandatangan, apa itu berbentuk Surat Keputusan, Lisensi, Ijin, dll. dalam
bentuk sogokan yang cukup mahal. Untuk sogokan yang lagi "naik daun"
harganya melonjak luar biasa, jauh lebih mahal ketimbang di jaman Soeharto.
Dan itu semua dirasakan oleh para partner asing yang sedang ingin berusaha
di Indonesia. Ongkos-ongkos "under the table" secara praktis meningkat,
tanpa ada kejelasan dan jaminan untuk berusaha secara stabil karena keadaan
politik yang tidak karuan.

Sementara itu, lebih lucu lagi, para pejabat BUMN tidak berani mengambil
keputusan. Hampir pasti, mereka semua sudah memerintahkan anak-buahnya untuk
tidak melakukan apapun yang bisa di"expose" sehingga membahayakan kedudukan.
Bahkan beberapa usulan yang kelayakan bisnisnya sudah diuji pun, tidak
dieksekusi, karena para pejabatnya sibuk mengamankan pantat masing-masing.
Kreditpun tidak lagi dikucurkan. Rencana Usaha yang sudah disetujui lembaga
keuangan asing dan dilewatkan lembaga keuangan nasional pun tidak
dieksekusi. Pendeknya, para pejabat ini paham betul rumus singkat "paling
aman adalah tidak berbuat apa-apa". Dan berhentilah roda dunia usaha dan
inovasi baru yang menyangkut peran BUMN ataupun pejabat terkait.

Buat para pelaku usaha, aturan main harus jelas. Soeharto sudah memberikan
itu dalam bentuknya, yaitu jaminan keamanan dengan menggunakan kekuatan
militer bagi konglomerat yang mendukung Soeharto dengan dukungan dana. Gus
Dur lebih kacau lagi. Sementara ada beberapa gelintir konglomerat baru yang
dengan "pinjaman" kekuasaan dari Gus Dur, entah kedekatan maupun jabatan
yang diberikan oleh Gus Dur, mulai membangun kroni sendiri dalam dunia
usaha. Semua ini tanpa dapat dikontrol oleh Gus Dur, yang memang tidak
paham, apalagi khalayak NU penganut setia Gus Dur, yang rata-rata belum
memiliki pengalaman bisnis.

Lebih ramai lagi. Gerombolan NU atau yang mengatasnamakan NU sudah mulai
banyak berkeliaran, minta setoran untuk macam-macam keperluan, mulai dari
pengurusan ijin, lisensi, kedudukan, pangkat, serta lain-lain kepentingnan
politik maupun bisnis jangka pendek. Mereka menjadi kepanjangan-tangan
berbagai pihak yang membutuhkan perlindungan politik, perlindungan hutang,
kedudukan, perijinan, serta lain-lain dukungan.

Itu baru bicara dampak. Gus Dur sendiri tanpa malu-malu memasang orang-orang
yang tidak berkemampuan di berbagai bidang tanpa ada rasa risih. Baik di
Departemen maupun di BUMN. Contoh yang gampang adalah Menristek AS Hikam dan
Kepala LKBN Antara Mohammad Sobary. Seandainya Indonesia adalah sebuah
incorporated, kedua lembaga itu yang mengurus teknologi tinggi dan media
adalah dua ujung tombak yang akan membawa kemana Indonesia Incorporated akan
diarahkan. Tanpa memperhitungkan warga negara Indonesia yang paham betul
soal teknologi dan media, dipasanglah dua orang yang sudah paling hebat dari
kalangan sendiri. Tanpa malu dan ragu. Andaikata kedua lembaga itu terpasang
di pasar modal akan lebih mudah kita amati bagaimana harga sahamnya langsung
anjlog.

Maka, kembali kepada arahan masa depan ICMI. Sungguh mengherankan kalau para
pemain ICMI sendiri justru menyesali peranan ICMI selama ini. Disamping
potensinya yang tidak disadari telah sempat menggoncang dunia usaha di
tingkat internasional. Jelas, itu tidak bisa hanya dengan gerakan kultural.
Kalau belum yakin dengan pentingnya peran ICMI sebagai gerakan politik umat
di masa yang singkat kemarin itu, mudah saja dilihatnya. Apakah tanpa
gerakan politik, akan ada institusi perbankan yang namanya Bank Muamalat,
Permodalan Madani, Bank Syariah Mandiri, Forum Ekonomi Syariah (FES),
Koperasi Pesantren, BAZIS (Badan Zakat Infaq Sodhakoh), Baitul Mal Tamwil
(BMT) atau BPR (Badan Perkreditan Rakyat) yang tersebar ratusan jumlahnya di
seluruh pelosok tanah air, di suatu negara yang mayoritas penduduknya adalah
muslim. Institusi itu mulai ada dan menjadi "biasa" di waktu ICMI memegang
peranan politik. Ini semua harus disyukuri sebagai suatu keberhasilan yang
luar biasa dalam waktu yang cukup singkat. Hanya selisih beberapa tahun dari
suasana dimana siswi berjilbab saja dipermasalahkan oleh aparat negara di
suatu negara yang mayoritasnya adalah muslim. Kini semua kebekuan dan saling
curiga itu sudah cair dan terbukti walau berjilbab, walau ada
lembaga-lembaga keuangan Islam, toh itu bukan suatu yang perlu ditakuti
ataupun dimusuhi. Justru, simbol-simbol Islam itu telah ikut membantu
menjawab persoalan rakyat tanpa pandang bulu. Untuk mendapat layanan "bagi
hasil" dari bank Syari'ah, tidak pernah ditanya agamanya apa terlebih
dahulu.

Bahwasanya Islam sebagai sebagai dasar ideologi umat, bukanlah sesuatu yang
perlu ditakuti, dijauhi apalagi dimusuhi oleh golongan minoritas.
Prinsip-prinsip "bagi-hasil" ketimbang "riba" (bunga) sekarang makin diakui
dunia internasional sebagai azas usaha yang lebih adil, dan karenanya
semakin berkembang. Apalagi dengan dorongan revolusi teknologi informasi
yang membuat semuanya lebih transparan. Tidak bisa lagi pemilik kapital
ongkang-ongkang tanpa resiko dengan meminjamkan uangnya. Dan yang penting,
prinsip semacam ini tentu berlaku buat siapa saja yang bekerja keras, tidak
menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, apalagi sampai menghisap
keringat orang lain tanpa ikut mengambil resiko usaha.

ICMI, kini, justru bisa membuktikan, cara-cara mana yang lebih elegan dan
berlaku secara umum, non-sektarian, untuk kemaslahatan rakyat tanpa pandang
bulu. Omongan dan realitas adalah dua hal yang sering tidak serasi. Mereka
yang konon kabarnya selalu menyebut diri sebagai pejuang gerakan kultural,
non-sektarian, dan demokratis, ketika kini berkuasa, tidak memiliki
kebijaksanaan yang jelas, tidak memiliki program-program institusional
misalnya bagaimana meningkatkan kinerja sekian banyak BMT, Bank Syariah,
dll. yang telah dimulai. Dengan pernyataan Gus Dur bahwa rakyat harus bisa
mengurus dirinya sendiri, justru yang tampak hanyalah praktek-praktek bisnis
kepentingan kelompok, kalangan sendiri atau gerombolan yang mengatasnamakan
kelompok tanpa bisa dikontrol. Usaha kelompok yang dikarenakan bukan dari
hasil suatu kebijaksanaan, namun lebih kepada menunggang kekuasaan. Kalau
dulu, koperasi pesantren diberi kesempatan dan diketahui oleh semua kalangan
sehingga dikritik habis-habisan karena para konglomerat takut tergeser,
namun secara sistem ada kejelasan kebijaksanaan. Kalau sekarang, Polisi dan
aparat pun takut sama gerombolan informal yang berbisnis dengan
mengatasnamakan kekuasaan macam ini. Apa mungkin investor mau masuk kalau
aparat polisi saja sudah tidak berperan.

Lantas mau apa lagi? Keadaan "Islam gerakan kultural dan non-sektarian" Gus
Dur ternyata lebih menakutkan, membingungkan, dan cara-caranya cenderung
menjijikkan karena tidak adanya aturan main yang jelas, tidak adanya
prioritas kebijaksanaan usaha, tidak ada program pemerintah yang bisa
dirasakan oleh rakyat, baik rakyat mayoritas maupun rakyat minoritas
pengusaha besar. Semua bingung. Pengusaha besar sudah menyumbang tapi tidak
ada jaminan sebagaimana dulu di jaman Soeharto. Bagi pengusaha yang nekad,
mereka mengambil inisiatif sendiri dan sekarang mengendalikan beberapa
daerah bahkan propinsi. Birokrasi yang memang aslinya "ongkang-ongkang asal
dapat setoran" dibayar semua untuk kepentingan si pengusaha. Lantas,
gerombolan yang sering mengatasnamakan golongan tertentu yang sedang
memegang kekuasaan tinggal dibayar untuk menjadi penjaga keamanan di
beberapa sektor usaha tertentu. Mereka mengambil alih jatah penghidupan
polisi dan satpam. Semuanya berjalan tanpa aturan formal. Tidak terkendali.
Lebih sangar dari hukum rimba. Bukan main.

Gus Dur, pendeknya, sedang dalam bahaya. Tanpa kemampuannya mengatur dunia
usaha secara lebih adil, maka semuanya akan berbalik. Gus Dur akan terjebak
sebagaimana Soeharto versi kedua, bahkan dengan cara yang lebih arogan dan
joroknya amat terang-terangan. Dan, amat sangat dimengerti kalau sudah
banyak Kiai NU yang cerdas-cerdas itu mulai mengambil jarak dari Gus Dur.
Karena kalau tidak demikian, NU akan ikut terjerumus bersama kegagalan Gus
Dur sebagai kepala pemerintahan. Gus Dur, toh, tidak punya banyak waktu.
Globalisasi tinggal 3 tahun lagi. Apakah dia siap menjadi tumbal dalam
sejarah kegagalan bangsa ini, kalau ketidakmampuannya mengatur dunia usaha
secara adil, transparan dan dengan kepastian hukum akan jelas-jelas
menjebloskan bangsa Indonesia sebagai bangsa kuli di tingkat dunia. Tidak
perlu lagi mengurus TKW dan TKI ke Arab Saudi. Kalau visi, misi dan gaya
pemerintah masih tidak jelas seperti ini, maka bangsa Indonesia akan menjadi
TKI dan TKW di negeri sendiri. Tidak lama lagi.

Umat Islam, akhirnya, harus berterima kasih kepada Gus Dur. Dengan kekacauan
pemerintahan Gus Dur dewasa ini, dunia bisa melihat dan merasakan bahwa
Islam sebagai ideologi, yang waktu itu diartikulasikan melalui ICMI, yang
banyak dikecam, ternyata jauh lebih baik, jauh lebih bermanfaat bagi rakyat
dan bangsa ini, dengan bukti-bukti yang bisa dinikmati sebagaimana institusi
yang disebut diatas. Belum lagi kekuatan merebut pasar internasional
teknologi tinggi yang bisa digalang untuk kepentingan negara-negara Selatan
yang tertinggal dari negara-negara Utara menjadi pertimbangan dunia usaha
internasional.

Islam Indonesia yang bersahabat, dengan kemampuan teknologi tinggi, bisa
merubah perimbangan kekuatan dunia dengan cara "market-driven", tanpa
kekerasan dan terorisme karena kekecewaan dan kekesalan. Tetapi karena
keadilan berbisnis secara lebih kompetitif, berorientasi pasar. Kalau CN250
bisa diproduksi dengan harga lebih murah, dan bisa dibeli dengan cara barter
dengan kopi, minyak, atapun komoditi lainnya, mengapa tidak? Cuman, itu
tentu tidak mungkin kalau diharapkan dari seorang AS Hikam, yang ketika
berkunjung ke suatu laboratorium industri dan dipameri prototipe miniatur
cara kerja suatu mesin, lantas berkomentar "itu kan tidak bisa untuk
container beneran, jadi buang-buang dana saja". Lain kali memang kalau ada
percobaan ke Mars, bagaimana kalau AS Hikam saja yang dikirim pertama kali,
tidak usah monyet dikirim ke bulan, tidak usah harus bikin miniatur atau
simulator terlebih dahulu sebagaimana arahan sang Menristek, punakawan Gus
Dur. Akhirnya, lengkaplah sudah penderitaan rakyat. Kualitas Gus Dur
sedemikian rupa sehingga kualitas para punakawannya tentu tidak jauh
berbeda. Kasihan bangsa ini seperti tidak punya alternatif astronot,
sehingga monyetpun harus jadi awak pesawat ke bulan. Kasihan sekali negeri
ini.

Jakarta, 26 Juni 2000

Kirim email ke